Hari Ini Kubu Munas Bali Lapor ke Bareskrim Polri
Rabu, 11 Maret 2015 - 10:29 WIB
Hari Ini Kubu Munas Bali Lapor ke Bareskrim Polri
A
A
A
DPP Partai Golkar versi Musyawarah Nasional (Munas) Bali akan melaporkan kasus dugaan pemalsuan mandat pengurus DPD I dan II ke Bareskrim Polri hari ini.
Ketua Umum DPP Golkar Munas Bali Aburizal Bakrie (ARB) mengatakan, terjadi pemalsuan dokumen oleh oknum tertentu pada saat Munas Ancol digelar kubu Agung Laksono pada Desember 2014. ”Rencana besok (hari ini). Ada banyak pengurus daerah yang akan melapor. Surat dari Mahkamah Partai ketahuan sekali (ada pemalsuan). Setelah dicek ke daerah, orang yang bersangkutan tidak memberikan surat kuasa,” katanya kemarin.
Selain itu, kubu Munas Bali juga berencana melaporkan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly ke polisi karena dituding telah memanipulasi putusan Mahkamah Partai Golkar yang disebut-sebut mengakui keabsahan hasil Munas Ancol pimpinan Agung Laksono.
”Ini manipulasi. Harus dibawa ke ranah pidana. Mahkamah Partai katakan tidak. Kalau Menkumham manipulasi keputusan Mahkamah Partai, maka dia kriminal,” kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Bali, Fadel Muhammad di Jakarta, kemarin. Sekjen DPP Golkar versi Munas Ancol Zainuddin Amali mengatakan tidak mempersoalkan laporan kubu Munas Bali ke polisi tersebut.
”Silakan saja, itu hak mereka. Nanti hukum yang buktikan siapa yang salah,” ujarnya kemarin. Sementara itu, Rapat Konsolidasi Nasional yang digelar Ketua Umum DPP Partai Golkar versi Munas Bali ARB dengan ratusan pengurus DPD I dan II Golkar se-Indonesia di Jakarta tadi malam diwarnai kericuhan.
Wakil Sekjen Partai Golkar versi Munas Bali Ali Mochtar Ngabalin diserang oleh seseorang tak dikenal saat ARB tengah menyampaikan pidato politik. Pria yang menyerang Ngabalin tersebut mengenakan kaus hitam dengan tato di sekujur tubuhnya. Seusai kejadian Ngabalin mengatakan sebelumnya dia terlibat debat dengan loyalis Agung Laksono, YorrysRaweyai, pada dialog yang disiarkan langsung di salah satu stasiun televisi.
”Dalam dialog itu saya katakan Munas Ancol abal-abal, sepertinya dia tersinggung dan saat itu dia mengancam akan menemui saya di Hotel Sahid. Ternyata bukan dia yang datang, tapi orang suruhannya,” kata Ngabalin. Di lain pihak, Ketua Mahkamah Partai Golkar Muladi angkat bicara mengenai putusan Menkumham Yasonna H Laoly yang mengesahkan kepengurusan Agung Laksono.
”Saya sendiri sebagai anggota Mahkamah Partai bingung membaca itu karena mahkamah tidak memutuskan siapa yang menang. Tidak pernah,” katanya di Jakarta kemarin. Mantan Menkumham ini mengaku, dirinya bersama dengan hakim HAS Natabaya merekomendasikan untuk menempuh jalur hukum di pengadilan.
Adapun hakim Andi Mattalatta dan Djasri Marin menyatakan bahwa yang sah Agung dan mengusulkan munas dan sebagainya. ”Tapi nampaknya Menkumham melihat itu sebagai pilihan. Memilih yang cocok ya itu. Itu urusan dia, tapi secara yuridis kita belum menentukan siapa yang menang,” ujarnya kemarin.
Sucipto/Ant
Ketua Umum DPP Golkar Munas Bali Aburizal Bakrie (ARB) mengatakan, terjadi pemalsuan dokumen oleh oknum tertentu pada saat Munas Ancol digelar kubu Agung Laksono pada Desember 2014. ”Rencana besok (hari ini). Ada banyak pengurus daerah yang akan melapor. Surat dari Mahkamah Partai ketahuan sekali (ada pemalsuan). Setelah dicek ke daerah, orang yang bersangkutan tidak memberikan surat kuasa,” katanya kemarin.
Selain itu, kubu Munas Bali juga berencana melaporkan Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna Laoly ke polisi karena dituding telah memanipulasi putusan Mahkamah Partai Golkar yang disebut-sebut mengakui keabsahan hasil Munas Ancol pimpinan Agung Laksono.
”Ini manipulasi. Harus dibawa ke ranah pidana. Mahkamah Partai katakan tidak. Kalau Menkumham manipulasi keputusan Mahkamah Partai, maka dia kriminal,” kata Wakil Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Bali, Fadel Muhammad di Jakarta, kemarin. Sekjen DPP Golkar versi Munas Ancol Zainuddin Amali mengatakan tidak mempersoalkan laporan kubu Munas Bali ke polisi tersebut.
”Silakan saja, itu hak mereka. Nanti hukum yang buktikan siapa yang salah,” ujarnya kemarin. Sementara itu, Rapat Konsolidasi Nasional yang digelar Ketua Umum DPP Partai Golkar versi Munas Bali ARB dengan ratusan pengurus DPD I dan II Golkar se-Indonesia di Jakarta tadi malam diwarnai kericuhan.
Wakil Sekjen Partai Golkar versi Munas Bali Ali Mochtar Ngabalin diserang oleh seseorang tak dikenal saat ARB tengah menyampaikan pidato politik. Pria yang menyerang Ngabalin tersebut mengenakan kaus hitam dengan tato di sekujur tubuhnya. Seusai kejadian Ngabalin mengatakan sebelumnya dia terlibat debat dengan loyalis Agung Laksono, YorrysRaweyai, pada dialog yang disiarkan langsung di salah satu stasiun televisi.
”Dalam dialog itu saya katakan Munas Ancol abal-abal, sepertinya dia tersinggung dan saat itu dia mengancam akan menemui saya di Hotel Sahid. Ternyata bukan dia yang datang, tapi orang suruhannya,” kata Ngabalin. Di lain pihak, Ketua Mahkamah Partai Golkar Muladi angkat bicara mengenai putusan Menkumham Yasonna H Laoly yang mengesahkan kepengurusan Agung Laksono.
”Saya sendiri sebagai anggota Mahkamah Partai bingung membaca itu karena mahkamah tidak memutuskan siapa yang menang. Tidak pernah,” katanya di Jakarta kemarin. Mantan Menkumham ini mengaku, dirinya bersama dengan hakim HAS Natabaya merekomendasikan untuk menempuh jalur hukum di pengadilan.
Adapun hakim Andi Mattalatta dan Djasri Marin menyatakan bahwa yang sah Agung dan mengusulkan munas dan sebagainya. ”Tapi nampaknya Menkumham melihat itu sebagai pilihan. Memilih yang cocok ya itu. Itu urusan dia, tapi secara yuridis kita belum menentukan siapa yang menang,” ujarnya kemarin.
Sucipto/Ant
(bbg)