Singapura Manfaatkan Robot untuk Gantikan Tenaga Manusia
Selasa, 10 Februari 2015 - 10:34 WIB
Singapura Manfaatkan Robot untuk Gantikan Tenaga Manusia
A
A
A
Kebijakan pembatasan tenaga kerja asing murah yang dikeluarkan Pemerintah Singapura menjadi masalah baru bagi industri restoran.
Para pemilik rumah makan yang biasa mempekerjakan ratusan pelayan beramai-ramai memecat sebagian karyawannya dan sebagian lagi terpaksa meningkatkan gaji pegawainya. Namun, kian lama kebijakan ini membuat para pemilik restoran semakin kesulitan. Para pemilik restoran yang sudah terbiasa menggunakan jasa tenaga asing murah terpaksa menggunakan tenaga kerja asli Singapura dengan upah jauh lebih mahal. Sebenarnya itu bukanlah masalah besar karena keuntungan dari restoran bisa menutupi jumlah upah yang harus dibayarkan.
Masalahnya kaum muda Singapura saat ini cenderung menghindari pekerjaan sebagai pelayan karena upah dan status sosialnya dipandang rendah. Salah satu cara menyiasati masalah tersebut adalah menciptakan robot pelayan. Salah satu catatan yang dipublikasikan surat kabar nasional Singapura memperlihatkan bahwa industri makanan dan minuman atau yang lebih dikenal dengan food and beverage (F&B) saat ini membutuhkan setidaknya 7.000 pegawai.
”Orang-orang Singapura tidak ingin memakan makanan di bawah standar. Kami membutuhkan industri F&B agar lebih berkembang,” bunyi salah satu catatan tersebut dilansir BBC . Kondisi ini pun memaksa para pemilik restoran untuk lebih kreatif memanfaatkan pelayan yang tersisa. Beberapa restoran memilih untuk memanfaatkan kemajuan teknologi dan bereksperimen dengan robot.
Mereka menciptakan robot yang dapat mencuci beras, menggunakan IPAD untuk memperlihatkan menu mi dan sistem pengiriman menggunakan kereta kecil. Singapura menemukan teknologi baru yang mempermudah para pelayan bekerja yakni robot terbang bernama Infinium Robotics drone.
Robot ini akan terbang di atas kepala pengunjung. Melalui pemetaan oleh program komputer, robot terbang tersebut akan menemukan sang pembeli menggunakan sensor infra merah. ”Robot ini membantu staf untuk berinteraksi lebih dengan para pelanggan dan meningkatkan pengalaman bersantap para pelanggan,” ucap Chief Executive Officer Infinium Robotics Junyang Woon. Infinium Robotics memang bisa berperan sebagai pelayan, namun banyak pihak mempertanyakan masalah keamanan dari robot ini.
Robot berpotensi mengalami kerusakan dan dapat menyakiti manusia. Tapi, Woon menjelaskan bahwa robotnya sudah dilengkapi kamera on board dan sensor untuk memastikan mereka tidak bertabrakan satu sama lain atau dengan manusia. Direktur nonprofit Stacey Choe menyebut Infinium Robotics menjadi pilihan di tengah langkanya tenaga pelayan di Singapura. ”Robot ini memang memberikan efisiensi, namun teknologi tetap memiliki batas yang membuatnya hanya berumur pendek,” ungkap Choe.
Kendati masih menjadi pro dan kontra, robot Infinium Robotics akan diperkenalkan di restoran maupun bar lokal akhir tahun ini. Infinium Robotics mampu membawa beban makanan dan minuman mencapai 2 kg atau bisa membawa dua gelas bir, piza, dan dua gelas anggur. Seorang pengusaha Edward Chia yang mempekerjakan 90 orang di enam restoran dan barnya berencana menggunakan Infinium Robotics .
Dengan robot ini, dia akan membuka lebih banyak gerai tanpa harus mempekerjakan banyak karyawan. Dia akan mengarahkan staf untuk melakukan pekerjaan yang lebih terampil seperti membuat koktail dan menyiapkan makanan, sementara Infinium Robotics akan digunakan untuk berhubungan langsung dengan konsumen.
”Tapi, kami masih berencana memiliki pelayan manusia karena kami masih ingin menyajikan sentuhan manusia. Robot mungkin hanya akan bertugas mengantarkan piring di depan pelanggan,” kata Chia.
Rini Agustina
Para pemilik rumah makan yang biasa mempekerjakan ratusan pelayan beramai-ramai memecat sebagian karyawannya dan sebagian lagi terpaksa meningkatkan gaji pegawainya. Namun, kian lama kebijakan ini membuat para pemilik restoran semakin kesulitan. Para pemilik restoran yang sudah terbiasa menggunakan jasa tenaga asing murah terpaksa menggunakan tenaga kerja asli Singapura dengan upah jauh lebih mahal. Sebenarnya itu bukanlah masalah besar karena keuntungan dari restoran bisa menutupi jumlah upah yang harus dibayarkan.
Masalahnya kaum muda Singapura saat ini cenderung menghindari pekerjaan sebagai pelayan karena upah dan status sosialnya dipandang rendah. Salah satu cara menyiasati masalah tersebut adalah menciptakan robot pelayan. Salah satu catatan yang dipublikasikan surat kabar nasional Singapura memperlihatkan bahwa industri makanan dan minuman atau yang lebih dikenal dengan food and beverage (F&B) saat ini membutuhkan setidaknya 7.000 pegawai.
”Orang-orang Singapura tidak ingin memakan makanan di bawah standar. Kami membutuhkan industri F&B agar lebih berkembang,” bunyi salah satu catatan tersebut dilansir BBC . Kondisi ini pun memaksa para pemilik restoran untuk lebih kreatif memanfaatkan pelayan yang tersisa. Beberapa restoran memilih untuk memanfaatkan kemajuan teknologi dan bereksperimen dengan robot.
Mereka menciptakan robot yang dapat mencuci beras, menggunakan IPAD untuk memperlihatkan menu mi dan sistem pengiriman menggunakan kereta kecil. Singapura menemukan teknologi baru yang mempermudah para pelayan bekerja yakni robot terbang bernama Infinium Robotics drone.
Robot ini akan terbang di atas kepala pengunjung. Melalui pemetaan oleh program komputer, robot terbang tersebut akan menemukan sang pembeli menggunakan sensor infra merah. ”Robot ini membantu staf untuk berinteraksi lebih dengan para pelanggan dan meningkatkan pengalaman bersantap para pelanggan,” ucap Chief Executive Officer Infinium Robotics Junyang Woon. Infinium Robotics memang bisa berperan sebagai pelayan, namun banyak pihak mempertanyakan masalah keamanan dari robot ini.
Robot berpotensi mengalami kerusakan dan dapat menyakiti manusia. Tapi, Woon menjelaskan bahwa robotnya sudah dilengkapi kamera on board dan sensor untuk memastikan mereka tidak bertabrakan satu sama lain atau dengan manusia. Direktur nonprofit Stacey Choe menyebut Infinium Robotics menjadi pilihan di tengah langkanya tenaga pelayan di Singapura. ”Robot ini memang memberikan efisiensi, namun teknologi tetap memiliki batas yang membuatnya hanya berumur pendek,” ungkap Choe.
Kendati masih menjadi pro dan kontra, robot Infinium Robotics akan diperkenalkan di restoran maupun bar lokal akhir tahun ini. Infinium Robotics mampu membawa beban makanan dan minuman mencapai 2 kg atau bisa membawa dua gelas bir, piza, dan dua gelas anggur. Seorang pengusaha Edward Chia yang mempekerjakan 90 orang di enam restoran dan barnya berencana menggunakan Infinium Robotics .
Dengan robot ini, dia akan membuka lebih banyak gerai tanpa harus mempekerjakan banyak karyawan. Dia akan mengarahkan staf untuk melakukan pekerjaan yang lebih terampil seperti membuat koktail dan menyiapkan makanan, sementara Infinium Robotics akan digunakan untuk berhubungan langsung dengan konsumen.
”Tapi, kami masih berencana memiliki pelayan manusia karena kami masih ingin menyajikan sentuhan manusia. Robot mungkin hanya akan bertugas mengantarkan piring di depan pelanggan,” kata Chia.
Rini Agustina
(ars)