Filipina Disebut Melobi Indonesia Batalkan Eksekusi Mati
Senin, 09 Februari 2015 - 12:19 WIB
Filipina Disebut Melobi Indonesia Batalkan Eksekusi Mati
A
A
A
MANILA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk pertama kali menginjakkan kaki di Filipina kemarin. Dalam kunjungan kenegaraannya itu, Jokowi membahas berbagai hal, termasuk pekerja migran, kerja sama maritim, perdagangan, dan pertahanan.
Filipina merupakan titik terakhir lawatan tiga negara Jokowi setelah Malaysia dan Brunei Darussalam. Jokowi berkunjung ke Filipina dengan membawa misi besar, mengajak Presiden Filipina Benigno Aquino dan rakyat Filipina menjadi mitra kerja sama diplomasi dan ekonomi yang menjanjikan di kawasan. Namun Indonesia tampaknya akan menghadapi tantangan mengingat Filipina diyakini bakal menggunakan momentum itu untuk melobi pembatalan eksekusi warga mereka yang terancam hukuman mati di Indonesia karena kasus penyelundupan heroin.
Apalagi Filipina menjadi salah satu negara ASEAN yang tidak menerapkan hukuman mati kepada terdakwa narkoba. Juru bicara (jubir) Kepresidenan Filipina Edwin Lacierda mengakui kedua kepala negara akan membicarakan isu-isu mengenai penyelundupan narkoba. Namun Lacierda tidak menyebutkan Aquino akan membahas pembatalan eksekusi mati atas warga negara mereka. Sampai saat ini, nama terdakwa juga tidak dipublikasikan.
“Kami hanya akan mendiskusikan kelanjutan kerja sama antarkedua negara di berbagai sektor. Isu hangat dan perlu dibahas lebih jauh ialah ketenagakerjaan, peningkatan kemampuan teknis-vokasional, perang melawan perdagangan narkotika, dan pertukaran pelajar,” ujar Lacierda seperti dikutip AFP. Dia menuturkan, Indonesia sebagai mitra diplomasi Filipina sejak 1949 akan turut membantu menurunkan ketegangan di Laut China Selatan tanpa berpihak kepada siapa pun.
Sebagai mediator, Indonesia akan terus mendorong terbentuknya berbagai kesepakatan perdamaian. Mantan Duta Besar (Dubes) Filipina untuk ASEAN Wilfrido Villacorta mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk sukses menengahi berbagai masalah perdamaian di kawasan. Jokowi, kata Villacorta, juga diharapkan tidak hanya ikut membantu menyelesaikan permasalahan, tapi juga mengharmoniskan hubungan Filipina dengan China.
“Walaupun bukan negara yang terlibat dalam sengketa Laut China Selatan, Indonesia selalu berperan sebagai penengah dalam berbagai diskusi yang menyangkut isu-isu penting di kawasan sejak 1980-an,” ujar pria yang kini menjadi ahli hubungan internasional di Universitas De la Salle, Manila, itu. Dalam kunjungan ke Brunei, Jokowi juga menekankan hubungan yang konsisten antarkedua negara.
Menurut Jokowi, hubungan bilateral Indonesia- Brunei merupakan hubungan yang paling stabil. “Pekerja migran kita juga terlindungi dengan baik. WNI kita di sini tidak banyak yang bermasalah,” tutur Jokowi di Istana Sultan, Sabtu (7/2).
Muh shamil
Filipina merupakan titik terakhir lawatan tiga negara Jokowi setelah Malaysia dan Brunei Darussalam. Jokowi berkunjung ke Filipina dengan membawa misi besar, mengajak Presiden Filipina Benigno Aquino dan rakyat Filipina menjadi mitra kerja sama diplomasi dan ekonomi yang menjanjikan di kawasan. Namun Indonesia tampaknya akan menghadapi tantangan mengingat Filipina diyakini bakal menggunakan momentum itu untuk melobi pembatalan eksekusi warga mereka yang terancam hukuman mati di Indonesia karena kasus penyelundupan heroin.
Apalagi Filipina menjadi salah satu negara ASEAN yang tidak menerapkan hukuman mati kepada terdakwa narkoba. Juru bicara (jubir) Kepresidenan Filipina Edwin Lacierda mengakui kedua kepala negara akan membicarakan isu-isu mengenai penyelundupan narkoba. Namun Lacierda tidak menyebutkan Aquino akan membahas pembatalan eksekusi mati atas warga negara mereka. Sampai saat ini, nama terdakwa juga tidak dipublikasikan.
“Kami hanya akan mendiskusikan kelanjutan kerja sama antarkedua negara di berbagai sektor. Isu hangat dan perlu dibahas lebih jauh ialah ketenagakerjaan, peningkatan kemampuan teknis-vokasional, perang melawan perdagangan narkotika, dan pertukaran pelajar,” ujar Lacierda seperti dikutip AFP. Dia menuturkan, Indonesia sebagai mitra diplomasi Filipina sejak 1949 akan turut membantu menurunkan ketegangan di Laut China Selatan tanpa berpihak kepada siapa pun.
Sebagai mediator, Indonesia akan terus mendorong terbentuknya berbagai kesepakatan perdamaian. Mantan Duta Besar (Dubes) Filipina untuk ASEAN Wilfrido Villacorta mengatakan Indonesia memiliki peluang untuk sukses menengahi berbagai masalah perdamaian di kawasan. Jokowi, kata Villacorta, juga diharapkan tidak hanya ikut membantu menyelesaikan permasalahan, tapi juga mengharmoniskan hubungan Filipina dengan China.
“Walaupun bukan negara yang terlibat dalam sengketa Laut China Selatan, Indonesia selalu berperan sebagai penengah dalam berbagai diskusi yang menyangkut isu-isu penting di kawasan sejak 1980-an,” ujar pria yang kini menjadi ahli hubungan internasional di Universitas De la Salle, Manila, itu. Dalam kunjungan ke Brunei, Jokowi juga menekankan hubungan yang konsisten antarkedua negara.
Menurut Jokowi, hubungan bilateral Indonesia- Brunei merupakan hubungan yang paling stabil. “Pekerja migran kita juga terlindungi dengan baik. WNI kita di sini tidak banyak yang bermasalah,” tutur Jokowi di Istana Sultan, Sabtu (7/2).
Muh shamil
(ftr)