Tim Khusus Polda Buru Perampok Motor
Selasa, 27 Januari 2015 - 10:24 WIB
Tim Khusus Polda Buru Perampok Motor
A
A
A
JAKARTA - Polda Metro Jaya membentuk tim khusus untuk memburu pelaku kejahatan atau perampokan sepeda motor yang saat ini sangat meresahkan warga sekitar.
Komplotan begal sepeda motor kerap mencederai bahkan membunuh korbannya. Sebelumnya pelaku yang berjumlah empat orang memepet seorang pengendara motor di Jalan Margonda, Depok. Korban sempat melakukan perlawanan dengan melempar helm ke arah pelaku.
Salah satu pelaku kemudian menusuk tiga kali di bagian pinggang korban. Para pelaku kabur membawa motor korban. Warga yang mengetahui kejadian langsung menolong korban dengan membawanya ke rumah sakit. Sayangnya, korban tewas dalam perjalanan.
“Tim khusus ini yang akan meringkus komplotan pembegal motor. Masing-masing polres membentuksatutim, sedangkan Polda Metro Jaya membentuk dua tim khusus dari Subdit Jatanras dan Subdit Resmob Ditreskrimum,” sebut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Sitompul kemarin. Untuk meminimalisasi tindak kejahatan, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Unggung Cahyono telah menginstruksikan seluruh jajarannya menambah jam patroli malam dan dini hari.
Menyikapi maraknya komplotan perampok belakangan ini, kriminolog Universitas Indonesia Yogo Tri Hendiarto mengatakan, setiap pelaku kejahatan pasti mencari titik potensial untuk beraksi. Ketika ada pelaku yang potensial, korban potensial, serta situasi yang mendukung terjadilah tindak kriminal.
“Misalnya, apakah lokasi itu sering dilalui atau tidak, apakah ada penjagaan petugas atau tidak, dan apakah cukup penerangan atau tidak?” tuturnya. Di bagian lain, ribuan orang yang diduga preman dijaring dalam operasi khusus untuk memberantas aksi premanisme. Razia bersandikan “Operasi Cempaka” yang telah berjalan selama sepekan ini telah meringkus ribuan preman jalanan di wilayah Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang.
“Sejak 19 Januari lalu kami sudah cukup banyak mengamankan orang yang diduga melakukan aksi premanisme yaitu sebanyak 2.043 orang,” sebut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Sitompul kemarin. Dari 2.043 orang yang diamankan, hanya 160 orang di antaranya yang dilanjutkan proses hukumnya. Sisanya 1.883 orang dilakukan pembinaan.
Mereka yang diproses di antaranya kedapatan membawa senjata tajam, narkoba, miras, atau barang-barang lain yang berbahaya. Selain itu, ada juga beberapa orang yang kedapatan membawa peralatan seperti kunci letter T dan linggis yang dicurigai akan dipergunakan untuk melakukan aksi kejahatan pencurian dengan pemberatan (curat).
“Ada juga yang kedapatan berjudi, pencopet, pelaku penganiayaan, dan lainnya,” ucapnya. Operasi ini digelar sejak 19 Januari hingga 19 Februari mendatang. Sasaran operasi yakni orang-orang yang diduga melakukan aksi premanisme seperti terpantau di kawasan pusat perbelanjaan Tanah Abang dan Terminal Blok M.
Helmi syarif
Komplotan begal sepeda motor kerap mencederai bahkan membunuh korbannya. Sebelumnya pelaku yang berjumlah empat orang memepet seorang pengendara motor di Jalan Margonda, Depok. Korban sempat melakukan perlawanan dengan melempar helm ke arah pelaku.
Salah satu pelaku kemudian menusuk tiga kali di bagian pinggang korban. Para pelaku kabur membawa motor korban. Warga yang mengetahui kejadian langsung menolong korban dengan membawanya ke rumah sakit. Sayangnya, korban tewas dalam perjalanan.
“Tim khusus ini yang akan meringkus komplotan pembegal motor. Masing-masing polres membentuksatutim, sedangkan Polda Metro Jaya membentuk dua tim khusus dari Subdit Jatanras dan Subdit Resmob Ditreskrimum,” sebut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Sitompul kemarin. Untuk meminimalisasi tindak kejahatan, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Unggung Cahyono telah menginstruksikan seluruh jajarannya menambah jam patroli malam dan dini hari.
Menyikapi maraknya komplotan perampok belakangan ini, kriminolog Universitas Indonesia Yogo Tri Hendiarto mengatakan, setiap pelaku kejahatan pasti mencari titik potensial untuk beraksi. Ketika ada pelaku yang potensial, korban potensial, serta situasi yang mendukung terjadilah tindak kriminal.
“Misalnya, apakah lokasi itu sering dilalui atau tidak, apakah ada penjagaan petugas atau tidak, dan apakah cukup penerangan atau tidak?” tuturnya. Di bagian lain, ribuan orang yang diduga preman dijaring dalam operasi khusus untuk memberantas aksi premanisme. Razia bersandikan “Operasi Cempaka” yang telah berjalan selama sepekan ini telah meringkus ribuan preman jalanan di wilayah Jakarta, Depok, Bekasi, dan Tangerang.
“Sejak 19 Januari lalu kami sudah cukup banyak mengamankan orang yang diduga melakukan aksi premanisme yaitu sebanyak 2.043 orang,” sebut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Martinus Sitompul kemarin. Dari 2.043 orang yang diamankan, hanya 160 orang di antaranya yang dilanjutkan proses hukumnya. Sisanya 1.883 orang dilakukan pembinaan.
Mereka yang diproses di antaranya kedapatan membawa senjata tajam, narkoba, miras, atau barang-barang lain yang berbahaya. Selain itu, ada juga beberapa orang yang kedapatan membawa peralatan seperti kunci letter T dan linggis yang dicurigai akan dipergunakan untuk melakukan aksi kejahatan pencurian dengan pemberatan (curat).
“Ada juga yang kedapatan berjudi, pencopet, pelaku penganiayaan, dan lainnya,” ucapnya. Operasi ini digelar sejak 19 Januari hingga 19 Februari mendatang. Sasaran operasi yakni orang-orang yang diduga melakukan aksi premanisme seperti terpantau di kawasan pusat perbelanjaan Tanah Abang dan Terminal Blok M.
Helmi syarif
(ars)