Sejuta Warga dan 40 Pemimpin Dunia Kenang Korban Penembakan di Paris
Senin, 12 Januari 2015 - 11:12 WIB
Sejuta Warga dan 40 Pemimpin Dunia Kenang Korban Penembakan di Paris
A
A
A
PARIS - Lebih dari satu juta warga Prancis dan 40 para pemimpin dunia kemarin bergabung bersama dalam aksi damai.
Aksi itu untuk mengenang korban aksi kekerasan yang terjadi sejak beberapa hari lalu. Sedangkan 40 pemimpin dan perwakilan dari negaranegara memberikan solidaritas dan membahas berbagai isu terorisme. Para pemimpin dunia yang ikut menghadiri peringatan adalah Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron, Kanselir Jerman Angela Merkel, PM Turki Ahmet Davutoglu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, dan PM Israel Benjamin Netanyahu.
“Ini (aksi damai) akan menjadi demonstrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini juga akan tercatat dalam buku sejarah,” kata PM Prancis Manuel Valls, dikutip Reuters. Dia menambahkan, aksi damai ini harus menunjukkan kekuatan dan martabat rakyat Prancis yang mencintai kebebasan dan toleransi.
Dalam aksi damai yang diselenggarakan dengan hening tersebut, beberapa pengunjuk rasa memegang spanduk bertuliskan “Saya menentang rasisme”, “kesatuan”, atau “Saya adalah Charlie”. Lebih dari 2.000 polisi dan 1.350 tentara diterjunkan di Paris untuk melindungi lebih dari satu juta orang yang ikut dalam aksi itu. Sebanyak 17 orang tewas dalam serangan yang terjadi selama tiga hari terakhir.
Serangan mematikan di Prancis berawal pada Rabu (7/1) ketika Cherif and Said Kouachi menyerang kantor majalah satire Charlie Hebdo. Dua belas orang—termasuk delapan jurnalis dan dua polisi-tewas dan 11 terluka dalam serangan itu. Keesokan harinya, seorang polisi tewas ketika seorang Amedy Coulibaly, mengeluarkan tembakan di lokasi kecelakaan lalu lintas di Montrouge, pinggiran ibu kota Paris.
Kemudian, pada Jumat (9/1), Amedy Coulibaly menyandera beberapa orang di pasar swalayan di Paris timur. Empat sandera kemudian ditemukan tewas. Polisi berhasil menewaskan seluruh pelaku penyerangan. Prancis tetap bersiaga mengantisipasi serangan lanjutan. Ribuan polisi baik berseragam dan berpakaian sipil disebar di berbagai kota besar di Prancis. Seluruh transportasi publik kemarin digratiskan.
Para penembak jitu juga ditempatkan di seluruh gedung bertingkat untuk menjamin keamanan warga. Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve menegaskan, Prancis akan tetap berada dalam siaga tinggi beberapa minggu ke depan. “Segala sesuatu telah dilakukan untuk menjamin siapa saja yang datang ke pertemuan ini merasakan keamanan,” kata Cazeneuve.
Kemudian, para menteri keamanan dari negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) kemarin menggelar pertemuan di kementerian dalam negeri Prancis. Mereka membahas respons bersama terhadap ancaman serangan gerilyawan dan mencari solusi untuk memerangi ekstremisme.
Pertemuan itu dipimpin oleh menteri dalam negeri Prancis. Sementara itu, polisi Prancis masih memburu Hayat Boumeddiene, 26, kekasih salah satu penyerang, yang dikabarkan telah meninggalkan negara itu pada pekan lalu. Boumeddiene diduga pergi ke Suriah melalui Turki. Polisi Prancis menyebut Boumeddiene sebagai tersangka yang berbahaya dan bersenjata.
Seorang pejabat keamanan Turki mengungkapkan, Paris dan Ankara telah bekerja sama untuk melacak Boumeddiene. Tetapi Boumeddiene tiba di Istanbul ketika belum ada peringatan dari Prancis. “Kita berpikir dia (Boumeddiene) berada di Suriah saat ini. Dia tidak mungkin di Turki,” tutur pejabat yang tidak disebutkan namanya itu. Sementara itu, Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), yang berbasis di Yaman, menyerukan ancaman baru terhadap Prancis.
“Prancis harus menghentikan agresinya atau menghadap serangan lebih banyak,” kata petinggi AQAP, Harith al-Nadhari, dikutip kelompok monitoring situs gerilyawan, SITE. Sementara itu, harian Jerman Hamburger Morgenpost kemarin menjadi target serangan pembakaran setelah mempublikasikan kartun Charlie Hebdo. “Beberapa batu dan benda yang terbakar dilemparkan ke jendela,” kata juru bicara polisi lokal, kepada AFP.
Dia mengungkapkan, dua ruangan di lantai bawah rusak dan api berhasil dipadamkan dengan cepat. Polisi berhasil menangkap dua orang yang terkait insiden itu. Polisi masih menyelidiki keterkaitan antara serangan Hamburger Morgenpost dan Charlie Hebdo. “Kita belum mengetahui apakah kedua insiden itu terkait satu sama lain,” ujar juru bicara kepolisian.
Andika hendra m
Aksi itu untuk mengenang korban aksi kekerasan yang terjadi sejak beberapa hari lalu. Sedangkan 40 pemimpin dan perwakilan dari negaranegara memberikan solidaritas dan membahas berbagai isu terorisme. Para pemimpin dunia yang ikut menghadiri peringatan adalah Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron, Kanselir Jerman Angela Merkel, PM Turki Ahmet Davutoglu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, dan PM Israel Benjamin Netanyahu.
“Ini (aksi damai) akan menjadi demonstrasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini juga akan tercatat dalam buku sejarah,” kata PM Prancis Manuel Valls, dikutip Reuters. Dia menambahkan, aksi damai ini harus menunjukkan kekuatan dan martabat rakyat Prancis yang mencintai kebebasan dan toleransi.
Dalam aksi damai yang diselenggarakan dengan hening tersebut, beberapa pengunjuk rasa memegang spanduk bertuliskan “Saya menentang rasisme”, “kesatuan”, atau “Saya adalah Charlie”. Lebih dari 2.000 polisi dan 1.350 tentara diterjunkan di Paris untuk melindungi lebih dari satu juta orang yang ikut dalam aksi itu. Sebanyak 17 orang tewas dalam serangan yang terjadi selama tiga hari terakhir.
Serangan mematikan di Prancis berawal pada Rabu (7/1) ketika Cherif and Said Kouachi menyerang kantor majalah satire Charlie Hebdo. Dua belas orang—termasuk delapan jurnalis dan dua polisi-tewas dan 11 terluka dalam serangan itu. Keesokan harinya, seorang polisi tewas ketika seorang Amedy Coulibaly, mengeluarkan tembakan di lokasi kecelakaan lalu lintas di Montrouge, pinggiran ibu kota Paris.
Kemudian, pada Jumat (9/1), Amedy Coulibaly menyandera beberapa orang di pasar swalayan di Paris timur. Empat sandera kemudian ditemukan tewas. Polisi berhasil menewaskan seluruh pelaku penyerangan. Prancis tetap bersiaga mengantisipasi serangan lanjutan. Ribuan polisi baik berseragam dan berpakaian sipil disebar di berbagai kota besar di Prancis. Seluruh transportasi publik kemarin digratiskan.
Para penembak jitu juga ditempatkan di seluruh gedung bertingkat untuk menjamin keamanan warga. Menteri Dalam Negeri Prancis Bernard Cazeneuve menegaskan, Prancis akan tetap berada dalam siaga tinggi beberapa minggu ke depan. “Segala sesuatu telah dilakukan untuk menjamin siapa saja yang datang ke pertemuan ini merasakan keamanan,” kata Cazeneuve.
Kemudian, para menteri keamanan dari negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat (AS) kemarin menggelar pertemuan di kementerian dalam negeri Prancis. Mereka membahas respons bersama terhadap ancaman serangan gerilyawan dan mencari solusi untuk memerangi ekstremisme.
Pertemuan itu dipimpin oleh menteri dalam negeri Prancis. Sementara itu, polisi Prancis masih memburu Hayat Boumeddiene, 26, kekasih salah satu penyerang, yang dikabarkan telah meninggalkan negara itu pada pekan lalu. Boumeddiene diduga pergi ke Suriah melalui Turki. Polisi Prancis menyebut Boumeddiene sebagai tersangka yang berbahaya dan bersenjata.
Seorang pejabat keamanan Turki mengungkapkan, Paris dan Ankara telah bekerja sama untuk melacak Boumeddiene. Tetapi Boumeddiene tiba di Istanbul ketika belum ada peringatan dari Prancis. “Kita berpikir dia (Boumeddiene) berada di Suriah saat ini. Dia tidak mungkin di Turki,” tutur pejabat yang tidak disebutkan namanya itu. Sementara itu, Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), yang berbasis di Yaman, menyerukan ancaman baru terhadap Prancis.
“Prancis harus menghentikan agresinya atau menghadap serangan lebih banyak,” kata petinggi AQAP, Harith al-Nadhari, dikutip kelompok monitoring situs gerilyawan, SITE. Sementara itu, harian Jerman Hamburger Morgenpost kemarin menjadi target serangan pembakaran setelah mempublikasikan kartun Charlie Hebdo. “Beberapa batu dan benda yang terbakar dilemparkan ke jendela,” kata juru bicara polisi lokal, kepada AFP.
Dia mengungkapkan, dua ruangan di lantai bawah rusak dan api berhasil dipadamkan dengan cepat. Polisi berhasil menangkap dua orang yang terkait insiden itu. Polisi masih menyelidiki keterkaitan antara serangan Hamburger Morgenpost dan Charlie Hebdo. “Kita belum mengetahui apakah kedua insiden itu terkait satu sama lain,” ujar juru bicara kepolisian.
Andika hendra m
(ars)