Di Usia Belia Soekarno dan Hatta Mampu Dirikan Partai
Senin, 05 Januari 2015 - 19:00 WIB
Di Usia Belia Soekarno dan Hatta Mampu Dirikan Partai
A
A
A
JAKARTA - Pilpres 2014 lalu mencatat sejarah dengan hadirnya dua partai yang mengusung kader muda sebagai capres dan cawapres. Kedua partai tersebut yakni PDIP dan Partai Hanura.
PDIP mengusung Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres, sedangkan Partai Hanura mengusung Hary Tanoesoedibjo (HT) sebagai cawapres.
“PDIP mempelopori capres berusia muda, Joko Widodo usianya 52 tahun, sedangkan Hanura mengusung Hary Tanoesoedibjo yang masih berusia 48,” ujar peneliti senior Founding Fathers House (FFH) Dian Permata, di Kantor FFH, Jakarta, Senin (5/1/2015).
Dian menyebutkan, Soekarno saat mendirikan PNI berusia 26 tahun dan Muhammad Hatta mendirikan Perhimpunan Indonesia pada usia 25 tahun.
Begitupun Sutan Syahrir menjadi Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri di usia 36 tahun.
Sejak masa reformasi, mayoritas capres adalah ketua umum atau ketua dewan syuro partai politik (parpol) yang sudah tidak muda lagi.
Namun, hasil survei FFH yang dirilis di Jakarta hari ini menunjukkan publik ingin terjadi regenerasi kepemimpinan.
Sebanyak 57,61 persen responden menilai regenerasi kepimpinan nasional sangat penting dan 29,81 persen responden menilai penting. Hanya 2,11 persen menilai tidak penting, dan 10,36 persen responden tidak tahu.
Selain itu publik juga mendukung kepemimpinan alternatif. Sebanyak 77,33 persen responden menyatakan pemimpin alternatif sangat penting. Selain itu responden yang mengatakan penting 5,04 persen.
Hanya 3,11 persen menyatakan tidak penting, dan 1,19 persen menyatakan sangat tidak penting. Selebihnya 13,3 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.
Padahal survei pada periode Januari-Februari 2014, yang menyatakan pemimpin alternatif sangat penting masih 74,03 persen, dan menyatakan penting 8,16 persen.
“Tingginya respons publik tentang regenerasi kepimpinan nasional dan pemimpin alternatif tidak bisa dilepaskan dari faktor keengganan tokoh senior dalam memberikan ruang dan kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk muncul di permukaan,” ujar Dian.
PDIP mengusung Joko Widodo (Jokowi) sebagai capres, sedangkan Partai Hanura mengusung Hary Tanoesoedibjo (HT) sebagai cawapres.
“PDIP mempelopori capres berusia muda, Joko Widodo usianya 52 tahun, sedangkan Hanura mengusung Hary Tanoesoedibjo yang masih berusia 48,” ujar peneliti senior Founding Fathers House (FFH) Dian Permata, di Kantor FFH, Jakarta, Senin (5/1/2015).
Dian menyebutkan, Soekarno saat mendirikan PNI berusia 26 tahun dan Muhammad Hatta mendirikan Perhimpunan Indonesia pada usia 25 tahun.
Begitupun Sutan Syahrir menjadi Perdana Menteri termuda di dunia, merangkap Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri di usia 36 tahun.
Sejak masa reformasi, mayoritas capres adalah ketua umum atau ketua dewan syuro partai politik (parpol) yang sudah tidak muda lagi.
Namun, hasil survei FFH yang dirilis di Jakarta hari ini menunjukkan publik ingin terjadi regenerasi kepemimpinan.
Sebanyak 57,61 persen responden menilai regenerasi kepimpinan nasional sangat penting dan 29,81 persen responden menilai penting. Hanya 2,11 persen menilai tidak penting, dan 10,36 persen responden tidak tahu.
Selain itu publik juga mendukung kepemimpinan alternatif. Sebanyak 77,33 persen responden menyatakan pemimpin alternatif sangat penting. Selain itu responden yang mengatakan penting 5,04 persen.
Hanya 3,11 persen menyatakan tidak penting, dan 1,19 persen menyatakan sangat tidak penting. Selebihnya 13,3 persen menyatakan tidak tahu atau tidak menjawab.
Padahal survei pada periode Januari-Februari 2014, yang menyatakan pemimpin alternatif sangat penting masih 74,03 persen, dan menyatakan penting 8,16 persen.
“Tingginya respons publik tentang regenerasi kepimpinan nasional dan pemimpin alternatif tidak bisa dilepaskan dari faktor keengganan tokoh senior dalam memberikan ruang dan kesempatan kepada tokoh-tokoh muda untuk muncul di permukaan,” ujar Dian.
(maf)