Polisi Amerika Serikat Kembali Tembak Mati Remaja Kulit Hitam
Kamis, 25 Desember 2014 - 12:59 WIB
Polisi Amerika Serikat Kembali Tembak Mati Remaja Kulit Hitam
A
A
A
ST. LOUIS - Insiden penembakan terhadap warga kulit hitam oleh polisi Amerika Serikat (AS) kembali terjadi. Kasus terbaru, seorang remaja kulit hitam bernama Antonio Martin, 18, ditembak mati polisi di dekat stasiun pengisian bahan bakar gas di St Louis, Missouri, Selasa (23/12) dini hari waktu setempat.
Lokasi itu berdekatan dengan tempat penembakan pemuda remaja kulit hitam Michael Brown oleh polisi kulit putih Agustus lalu. Kasus baru penembakan di St Louis itu dikhawatirkan akan memicu kerusuhan antirasis yang pecah beberapa waktu lalu. Tingkatan reaktif polisi itu juga menjadi bukti kalau pemerintah AS belum melakukan reformasi polisi untuk mengubah kinerja dan pendekatan kepada masyarakat.
Kepolisian St Louis menyatakan remaja itu mengarahkan senjata ke arah petugas keamanan yang mendekatinya dan pria lain yang berada di stasiun pengisian bahan bakar gas di pinggiran Berkeley, St. Louis. “Karena terancam jiwanya, petugas kepolisian Berkeley itu menembakkan beberapa peluru, melukai korban, dan mengakibatkan korban terluka,” kata juru bicara Departemen Kepolisian St. Louis, Brian Schellman, dikutip Reuters .
Schellman mengungkapkan, saat itu polisi tengah melakukan patroli rutin di dekat stasiun pengisian bahan bakar. Kemudian, pria kedua yang berada di samping korban langsung melarikan diri. “Polisi berhasil mengamankan senjata,” katanya. Media lokal, St. Louis Post-Dispatch, melaporkan, pacar Martin juga berada di lokasi penembakan. Sementara Huffington Post melaporkan, teman Martin yang bernama Jesus Christo, 18, juga berada di lokasi penembakan.
Christo mengungkapkan, dia dan Martin dihentikan polisi yang sedang mencari terdakwa perampokan. “Polisi meminta kita berbaring di tanah. Kemudian, polisi meminta Martin untuk kembali berbaring. Ketika Martin tidak berbaring, polisi itu menembak,” kata Christo. Sementara itu, puluhan orang berkumpul di lokasi penembakan itu.
Mereka memprotes penembakan yang dilakukan polisi. Aparat keamanan bergerak cepat untuk mengamankan lokasi kejadian. Untuk mencegah terjadinya kerusuhan, polisi menangkap tiga demonstran. Jarak antara Berkeley hanya beberapa menit dari wilayah pinggiran Ferguson yang menjadi lokasi penembakan Michael Brown oleh polisi kulit putih, Darren Wilson, Agustus.
Penembakan itu memicu demonstrasi massal di seluruh AS yang menentang metode kekerasan oleh polisi. Selasa lalu sekitar 200 orang berdemonstrasi New York. Mereka menentang Wali Kota New York Bill de Blasio yang meminta warganya menghentikan demonstrasi setelah penembakan dua polisi pada Sabtu (20/12) lalu.
Penembakan polisi yang sedang berpatroli itu merupakan serangan balasan dari kelompok antipolisi. Selain kasus Michael Brown, publik AS juga marah dengan kematian Eric Garner, 43, warga kulit hitam yang tewas setelah dicekik polisi kulit putih pada Juli di New York. Kemarahan semakin bertambah setelah juri pengadilan memutuskan polisi yang mencekik itu dinyatakan tidak bersalah.
Andika hendra m
Lokasi itu berdekatan dengan tempat penembakan pemuda remaja kulit hitam Michael Brown oleh polisi kulit putih Agustus lalu. Kasus baru penembakan di St Louis itu dikhawatirkan akan memicu kerusuhan antirasis yang pecah beberapa waktu lalu. Tingkatan reaktif polisi itu juga menjadi bukti kalau pemerintah AS belum melakukan reformasi polisi untuk mengubah kinerja dan pendekatan kepada masyarakat.
Kepolisian St Louis menyatakan remaja itu mengarahkan senjata ke arah petugas keamanan yang mendekatinya dan pria lain yang berada di stasiun pengisian bahan bakar gas di pinggiran Berkeley, St. Louis. “Karena terancam jiwanya, petugas kepolisian Berkeley itu menembakkan beberapa peluru, melukai korban, dan mengakibatkan korban terluka,” kata juru bicara Departemen Kepolisian St. Louis, Brian Schellman, dikutip Reuters .
Schellman mengungkapkan, saat itu polisi tengah melakukan patroli rutin di dekat stasiun pengisian bahan bakar. Kemudian, pria kedua yang berada di samping korban langsung melarikan diri. “Polisi berhasil mengamankan senjata,” katanya. Media lokal, St. Louis Post-Dispatch, melaporkan, pacar Martin juga berada di lokasi penembakan. Sementara Huffington Post melaporkan, teman Martin yang bernama Jesus Christo, 18, juga berada di lokasi penembakan.
Christo mengungkapkan, dia dan Martin dihentikan polisi yang sedang mencari terdakwa perampokan. “Polisi meminta kita berbaring di tanah. Kemudian, polisi meminta Martin untuk kembali berbaring. Ketika Martin tidak berbaring, polisi itu menembak,” kata Christo. Sementara itu, puluhan orang berkumpul di lokasi penembakan itu.
Mereka memprotes penembakan yang dilakukan polisi. Aparat keamanan bergerak cepat untuk mengamankan lokasi kejadian. Untuk mencegah terjadinya kerusuhan, polisi menangkap tiga demonstran. Jarak antara Berkeley hanya beberapa menit dari wilayah pinggiran Ferguson yang menjadi lokasi penembakan Michael Brown oleh polisi kulit putih, Darren Wilson, Agustus.
Penembakan itu memicu demonstrasi massal di seluruh AS yang menentang metode kekerasan oleh polisi. Selasa lalu sekitar 200 orang berdemonstrasi New York. Mereka menentang Wali Kota New York Bill de Blasio yang meminta warganya menghentikan demonstrasi setelah penembakan dua polisi pada Sabtu (20/12) lalu.
Penembakan polisi yang sedang berpatroli itu merupakan serangan balasan dari kelompok antipolisi. Selain kasus Michael Brown, publik AS juga marah dengan kematian Eric Garner, 43, warga kulit hitam yang tewas setelah dicekik polisi kulit putih pada Juli di New York. Kemarahan semakin bertambah setelah juri pengadilan memutuskan polisi yang mencekik itu dinyatakan tidak bersalah.
Andika hendra m
(bbg)