Muslimah di Xinjiang Dilarang Pakai Burqa

Sabtu, 13 Desember 2014 - 14:22 WIB
Muslimah di Xinjiang...
Muslimah di Xinjiang Dilarang Pakai Burqa
A A A
XINJIANG - Kongres Rakyat Urumqi, ibu kota Daerah Otonomi Xinjiang, China, mengeluarkan larangan penggunaan burqa (kerudung yang menutupi wajah dan seluruh badan, kecuali mata) di tempat umum.

Mereka yang melanggar akan mendapatkan sanksi. Menurut Kongres Rakyat Urumqi, aturan baru ini dikeluarkan untuk mencegah dan menghentikan penyebaran paham ekstremis keagamaan di wilayahnya. Aturan ini sudah disepakati Kongres Rakyat Urumqi. Namun, sebelum diterapkan, rancangan aturan ini perlu disahkan terlebih dahulu Kongres Rakyat Regional.

Sampai saat ini Kongres Rakyat Urumqi tidak membeberkan rincian rancangan aturan tersebut. Mereka hanya menuduh burqa memiliki korelasi dengan paham ekstremis Islam. “Pemakaian kerudung yang menutupi seluruh wajah dan tubuh berasosiasi dengan paham ekstremis keagamaan,” kata mereka, dikutip Chinadaily.

“Penyebaran paham ekstremis di Xinjiang memicu peningkatan jumlah serangan teroris,” tambah mereka. Pada 28 November, Kongres Rakyat Regional juga menyetujui larangan pemakaian simbol yang berasosiasi dengan paham ekstremis keagamaan. Namun, tipe simbol yang dikeluarkan Kongres Rakyat Regional tidak dijelaskan secara rinci. Birokrasi Regional China untuk Pengurusan Agama melaporkan jumlah perempuan pemakai burqa naik beberapa kali lipat dalam beberapa tahun terakhir di Xinjiang, terutama di wilayah selatan.

Mereka mengatakan perempuan tersebut dipaksa memakai burqa meski sebagian perempuan Xinjiang membantah tuduhan itu. Warga muslim Xinjiang juga dilarang menyebarkan atau menonton video tentang jihad atau perang suci, paham ekstremis keagamaan, dan terorisme baik yang bersangkutan dengan agama atau tidak.

Beberapa pakar khawatir kebijakan tersebut akan meningkatkan ketegangan di Xinjiang. Apalagi bila sebagian besar etnis muslim Uighur, yang menjadi etnis minoritas di Xinjiang, sadar kebudayaan mereka dalam keadaan bahaya. “Taktik China di Xinjiang hanya membuat keadaan menjadi semakin tegang,” kritik para aktivis Uighur, dilansir BBC .

Muh shamil
(bbg)
Berita Terkait
Rakyat Myanmar Siap...
Rakyat Myanmar Siap Laksanakan Pemilihan Umum Minggu Ini
Polisi Italia Sita 6,6...
Polisi Italia Sita 6,6 Ton Ganja dalam Kapal Pesiar Bendera Amerika
Film Horor hingga Superhero,...
Film Horor hingga Superhero, 5 Film Indonesia Go International
Netanyahu Sebut Akan...
Netanyahu Sebut Akan Caplok 30% Wilayah Tepi Barat ke Israel
Masjid Al-Aqsa Kembali...
Masjid Al-Aqsa Kembali Dibuka Setelah Hampir 3 Bulan Ditutup
Pesawat Pakistan Jatuh,...
Pesawat Pakistan Jatuh, Kemlu Sebut Sementara Tidak Ada Korban WNI
Berita Terkini
KontraS Kritik Tuntutan...
KontraS Kritik Tuntutan 2,5 Tahun Penjara untuk Terdakwa Penyiraman Andrie Yunus
Revisi UU Polri, Menteri...
Revisi UU Polri, Menteri Pigai Usulkan Sejumlah Jabatan Utama Bisa Diisi Sipil
Film Pesta Babi Bergeser...
Film Pesta Babi Bergeser dari Kritik Sosial Jadi Instrumen Kampanye Disintegrasi Papua
KPK Angkut Moge, Mobil...
KPK Angkut Moge, Mobil Mewah, dan Sepeda usai Geledah Rumah Silmy Karim
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
DPR Minta KAI Bereskan...
DPR Minta KAI Bereskan Dulu Konektivitas Sebelum Bangun Jalur Kereta Aceh-Lampung
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved