Tarik-menarik Nama hingga Menit Akhir
Senin, 27 Oktober 2014 - 16:24 WIB
Tarik-menarik Nama hingga Menit Akhir
A
A
A
JAKARTA - Penentuan anggota kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyisakan tanda tanya. Disinyalir, tarik menarik kepentingan terus terjadi hingga menit akhir sebelum pengumuman nama menteri dilakukan kemarin.
Salah satu yang menarik perhatian adalah apa yang dialami politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Maruarar Sirait. Maruarar disebut-sebut sempat masuk dalam daftar menteri yang akan diumumkan Presiden pada pukul 17.15 WIB kemarin, tetapi akhirnya batal. Daftar susunan kabinet yang beredar menyebutkan Maruarar menempati posisi menteri komunikasi dan informatika (menkominfo). Namun namanya justru menghilang dan menkominfo yang diumumkan Jokowi adalah Rudiantara.
Dugaan bahwa Maruarar sempat akan dilantik sebagai menteri mengacu pada kehadirannya di Istana dengan mengenakan kemeja putih layaknya menteri lain.
Namun politikus yang akrab dengan sapaan Ara ini menolak berkomentar banyak mengenai isu pencoretan namanya pada menit-menit akhir menjelang pengumuman kabinet tersebut.
”Saya kan fansnya Jokowi. Kita yakin Indonesia lebih baik di bawah Presiden Jokowi, kan kabinetnya banyak yang berasal dari profesional,” jelasnya didampingi Presiden Jokowi sesaat sebelum meninggalkan Kompleks Istana tadi malam.
Dinamika menjelang pengumuman menteri memang terlihat di Istana Merdeka sore kemarin. Pengumuman kabinet yang sedianya disampaikan Presiden pada pukul 16.00 WIB mundur 1 jam 15 menit karena mendadak Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) harus melakukan rapat kembali. Informasi yang beredar, Presiden dan Wapres harus mengubah nama Ara untuk posisi menkominfo.
Presiden melakukan rapat bersama Wapres di Wisma Negara dan meninggalkan 33 calon menterinya di Istana Merdeka. Dengan langkah terburu-buru, Presiden dan Wapres tampak serius membicarakan perubahan nama Ara yang menurut informasi yang beredar tidak disetujui menjabat sebagai menteri oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Namun Presiden membantah bahwa kedatangan Ara ke Istana karena sebelumnya akan diumumkan menjadi salah satumenteri.
”(Maruar Sirait) Kawan baik saya. Yang jelas Ara akan terus membantu saya, kan banyak kementerian yang perlu saya tatar,” ujar Jokowi saat mengantarkan Ara keluar dari Wisma Negara.
Sebelum pengumuman menteri, Ara mendatangi kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar sekitar pukul 15.30 WIB. Dia berada di rumah Megawati selama sekitar 30 menit. Kendati demikian, belum diketahui kejadian apa yang terjadi dalam kunjungan tersebut.
Tidak hanya Ara, sejumlah nama lain yang sempat diunggulkan menjadi menteri juga gagal terpilih. Nama yang sempat dispekulasikan menjadi calon menteri dan namanya muncul di media dalam dua pekan belakangan antara lain Pramono Anung, Eva K Sundari, M Prakosa, Trimedya Panjaitan, dan Hasto Kristiyanto dari PDIP. Selain itu Akbar Faizal dan Enggartiasto Lukito dari Partai NasDem serta Abdul Kadir Karding dan Ali Maschan Moesa dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Adapun dari kalangan profesional, nama yang sering muncul antara lain Komaruddin Hidayat, Jimly Asshiddiqie, Hikmahanto Juwana, mantan KSAD Budiman, dan Irjen Pol Budi Gunawan. Ada juga beberapa dirut dari perusahaan BUMN terkenal yang namanya sempat muncul seperti RJ Lino dari PT Pelindo dan beberapa dirut BUMN lainnya. Bahkan, sejumlah nama sempat dipanggil ke Istana Negara oleh Presiden Jokowi, tetapi tidak masuk dalam kabinet.
Mereka antara lain AM Hendropriyono, Mirza Adityaswara, Muhaimin Iskandar, Chairul Tanjung, Komaruddin Hidayat, Saldi Isra, Luhut Pandjaitan, Enggartiasto Lukita, M Yusuf, dan As’ad Said Ali. Namun dari nama-nama itu memang beberapa di antaranya mengaku hanya diajak berdiskusi oleh Presiden Jokowi.
Saat dimintai konfirmasi, Pramono Anung mengaku sudah mendengar bahwa dirinya tidak masuk dalam kabinet Jokowi- JK sejak Kamis (23/10).
”Saya mengetahui tidak menjadi menteri pada hari Kamis karena ada penugasan lain dari Mbak Mega (Ketua Umum PDIP) dan saya menerimanya,” kata mantan Sekjen DPP PDIP itu. Adapun Eva K Sundari mengatakan namanya muncul dalam kandidat calon menteri karena banyak kelompok relawan yang mengusulkannya. Dia tidak mengetahui secara pasti bagaimana namanya masuk dalam daftar dan bagaimana kemudian menghilang.
”Tapi saya juga menerima saja. Wong itu kan yang namanya jabatan tidak boleh dikejar, itu amanah,” katanya. Sementara itu, Komaruddin Hidayat mengatakan, sejak awal dirinya tak pernah mengejar jabatan dan posisi tertentu di pemerintahan Jokowi - JK . ”Dari dulu saya tak pernah meminta dan mengejar jabatan. Tapi diminta dan ditawari dan saya mau saja asal merasa cocok. Kalau tidak, saya menciptakan kerjaan dan posisi sendiri,” kata mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini.
Di sisi lain, diumumkannya Yohana Yambise sebagai menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak pada Kabinet Kerja ini dinilai kurang mewakili Indonesia bagian timur.
”Pada Kabinet Kerja ini perwakilan dari seluruh Indonesia sudah cukup, hanya saja harusnya perwakilan dari bagian timur diperbanyak, tidak hanya dari Papua, tetapi ditambah dari wilayah yang lain seperti Maluku,” kata pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun di Jakarta kemarin.
Menurutnya, hal itu diperlukan agar program kerja Jokowi-JK untuk membangun poros maritim tercapai karena sebagian besar wilayah maritim Indonesia berada di wilayah timur Indonesia.
Dia memuji komposisi praktisi Kabinet Kerja semakin meningkat dibandingkan era kepemimpinan sebelumnya.
Namun secara umum ekspektasi publik agar kabinet diisi oleh orang-orang profesional belum terpenuhi karena masih banyak menteri yang mengisi kabinet tersebut mempunyai jaringan politik dan beberapa di antaranya mempunyai catatan kritis.
”Kita harus melihat kinerja dari para menteri tersebut. Jika dalam enam bulan atau setahun ada hal-hal yang menyimpang, Presiden harus cepat-cepat menggantikan orang-orang tersebut,” katanya.
Rarasati syarief/ Rahmat sahid/ant
Salah satu yang menarik perhatian adalah apa yang dialami politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Maruarar Sirait. Maruarar disebut-sebut sempat masuk dalam daftar menteri yang akan diumumkan Presiden pada pukul 17.15 WIB kemarin, tetapi akhirnya batal. Daftar susunan kabinet yang beredar menyebutkan Maruarar menempati posisi menteri komunikasi dan informatika (menkominfo). Namun namanya justru menghilang dan menkominfo yang diumumkan Jokowi adalah Rudiantara.
Dugaan bahwa Maruarar sempat akan dilantik sebagai menteri mengacu pada kehadirannya di Istana dengan mengenakan kemeja putih layaknya menteri lain.
Namun politikus yang akrab dengan sapaan Ara ini menolak berkomentar banyak mengenai isu pencoretan namanya pada menit-menit akhir menjelang pengumuman kabinet tersebut.
”Saya kan fansnya Jokowi. Kita yakin Indonesia lebih baik di bawah Presiden Jokowi, kan kabinetnya banyak yang berasal dari profesional,” jelasnya didampingi Presiden Jokowi sesaat sebelum meninggalkan Kompleks Istana tadi malam.
Dinamika menjelang pengumuman menteri memang terlihat di Istana Merdeka sore kemarin. Pengumuman kabinet yang sedianya disampaikan Presiden pada pukul 16.00 WIB mundur 1 jam 15 menit karena mendadak Presiden dan Wakil Presiden (Wapres) harus melakukan rapat kembali. Informasi yang beredar, Presiden dan Wapres harus mengubah nama Ara untuk posisi menkominfo.
Presiden melakukan rapat bersama Wapres di Wisma Negara dan meninggalkan 33 calon menterinya di Istana Merdeka. Dengan langkah terburu-buru, Presiden dan Wapres tampak serius membicarakan perubahan nama Ara yang menurut informasi yang beredar tidak disetujui menjabat sebagai menteri oleh Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Namun Presiden membantah bahwa kedatangan Ara ke Istana karena sebelumnya akan diumumkan menjadi salah satumenteri.
”(Maruar Sirait) Kawan baik saya. Yang jelas Ara akan terus membantu saya, kan banyak kementerian yang perlu saya tatar,” ujar Jokowi saat mengantarkan Ara keluar dari Wisma Negara.
Sebelum pengumuman menteri, Ara mendatangi kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar sekitar pukul 15.30 WIB. Dia berada di rumah Megawati selama sekitar 30 menit. Kendati demikian, belum diketahui kejadian apa yang terjadi dalam kunjungan tersebut.
Tidak hanya Ara, sejumlah nama lain yang sempat diunggulkan menjadi menteri juga gagal terpilih. Nama yang sempat dispekulasikan menjadi calon menteri dan namanya muncul di media dalam dua pekan belakangan antara lain Pramono Anung, Eva K Sundari, M Prakosa, Trimedya Panjaitan, dan Hasto Kristiyanto dari PDIP. Selain itu Akbar Faizal dan Enggartiasto Lukito dari Partai NasDem serta Abdul Kadir Karding dan Ali Maschan Moesa dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Adapun dari kalangan profesional, nama yang sering muncul antara lain Komaruddin Hidayat, Jimly Asshiddiqie, Hikmahanto Juwana, mantan KSAD Budiman, dan Irjen Pol Budi Gunawan. Ada juga beberapa dirut dari perusahaan BUMN terkenal yang namanya sempat muncul seperti RJ Lino dari PT Pelindo dan beberapa dirut BUMN lainnya. Bahkan, sejumlah nama sempat dipanggil ke Istana Negara oleh Presiden Jokowi, tetapi tidak masuk dalam kabinet.
Mereka antara lain AM Hendropriyono, Mirza Adityaswara, Muhaimin Iskandar, Chairul Tanjung, Komaruddin Hidayat, Saldi Isra, Luhut Pandjaitan, Enggartiasto Lukita, M Yusuf, dan As’ad Said Ali. Namun dari nama-nama itu memang beberapa di antaranya mengaku hanya diajak berdiskusi oleh Presiden Jokowi.
Saat dimintai konfirmasi, Pramono Anung mengaku sudah mendengar bahwa dirinya tidak masuk dalam kabinet Jokowi- JK sejak Kamis (23/10).
”Saya mengetahui tidak menjadi menteri pada hari Kamis karena ada penugasan lain dari Mbak Mega (Ketua Umum PDIP) dan saya menerimanya,” kata mantan Sekjen DPP PDIP itu. Adapun Eva K Sundari mengatakan namanya muncul dalam kandidat calon menteri karena banyak kelompok relawan yang mengusulkannya. Dia tidak mengetahui secara pasti bagaimana namanya masuk dalam daftar dan bagaimana kemudian menghilang.
”Tapi saya juga menerima saja. Wong itu kan yang namanya jabatan tidak boleh dikejar, itu amanah,” katanya. Sementara itu, Komaruddin Hidayat mengatakan, sejak awal dirinya tak pernah mengejar jabatan dan posisi tertentu di pemerintahan Jokowi - JK . ”Dari dulu saya tak pernah meminta dan mengejar jabatan. Tapi diminta dan ditawari dan saya mau saja asal merasa cocok. Kalau tidak, saya menciptakan kerjaan dan posisi sendiri,” kata mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini.
Di sisi lain, diumumkannya Yohana Yambise sebagai menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak pada Kabinet Kerja ini dinilai kurang mewakili Indonesia bagian timur.
”Pada Kabinet Kerja ini perwakilan dari seluruh Indonesia sudah cukup, hanya saja harusnya perwakilan dari bagian timur diperbanyak, tidak hanya dari Papua, tetapi ditambah dari wilayah yang lain seperti Maluku,” kata pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun di Jakarta kemarin.
Menurutnya, hal itu diperlukan agar program kerja Jokowi-JK untuk membangun poros maritim tercapai karena sebagian besar wilayah maritim Indonesia berada di wilayah timur Indonesia.
Dia memuji komposisi praktisi Kabinet Kerja semakin meningkat dibandingkan era kepemimpinan sebelumnya.
Namun secara umum ekspektasi publik agar kabinet diisi oleh orang-orang profesional belum terpenuhi karena masih banyak menteri yang mengisi kabinet tersebut mempunyai jaringan politik dan beberapa di antaranya mempunyai catatan kritis.
”Kita harus melihat kinerja dari para menteri tersebut. Jika dalam enam bulan atau setahun ada hal-hal yang menyimpang, Presiden harus cepat-cepat menggantikan orang-orang tersebut,” katanya.
Rarasati syarief/ Rahmat sahid/ant
(ars)