Soal Pesta Rakyat, Ini Beda SBY dan Jokowi

Minggu, 19 Oktober 2014 - 01:13 WIB
Soal Pesta Rakyat, Ini...
Soal Pesta Rakyat, Ini Beda SBY dan Jokowi
A A A
JAKARTA - Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan silang Monas akan menjadi tempat pesta rakyat pada Senin, 20 Oktober besok.

Perayaan itu akan digelar seusai pelantikan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) sebagai presiden dan wakil presiden.

Sejumlah kalangan mengingatkan agar esta rakyat untuk merayakan pelantikan Jokowi-JK tidak digelar secara berlebihan.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrat Ramadhan Pohan mengkritisi pesta yang akan digelar oleh para relawan pendukung Jokowi.

Menurut dia, rencana itu berbanding terbalik dengan suasana kemenangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pemilu 2004 dan 2009 lalu.

"Pak SBY jadi presiden yang dipilih langsung oleh 62% rakyat enggak pakai pesta-pesta. Syukuran itu cukup dalam hati minta kepada Tuhan Yang Maha Kuasa," ujarnya di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 18 Oktober 2014.

Menurut Ramadhan, tugas presiden adalah bekerja bukan berpesta. Sebab, banyak pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Perayaan kemenangan, kata dia, sudah cukup dilakukan ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil pemungutan suara.

"Pak Jokowi harus segera bekerja menunaikan janji-janjinya yang disampaikan saat kampanye dulu," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, perayaan pesta yang dilakukan oleh relawan sudah sangat berlebihan. Rakyat membutuhkan pemerintahan yang bekerja, menekan angka kemiskinan, membuka lapangan pekerjaan dan kemudian menaikkan kualitas hidup manusia Indonesia.

Mantan anggota Komisi I DPR ini mengingatkan ada sekitar 67 juta pemilih Prabowo. Jangan sampai menimbulkan kecemburuan.

"Pilpres Juli, sekarang sudah mau masuk November, saya enggak mengerti apa yang ingin dipestakan. Pak SBY yang unggul dua digit tidak ada pesta-pesta itu, menang tanpa ngasorake (merendahkan) ya sudah jelas," katanya.

Ketua DPP Partai Golkar Rully Chairul Azhwar menyarankan agar pesta rakyat tidak digelar secara berlebihan. Menurut dia, tidak mudah untuk mengendalikan massa yang jumlahnya banyak.

"Jangan merusak image yang sudah bagus pelantikan dipersiapkan di MPR secara resmi, kemudian ada kejadian seperti kemacetan malah merusak suasana," ucapnya.

Rully optimistis pendukung Prabowo sudah tidak lagi mempersoalkan hal itu. Karena itu, perayaan tidak perlu dilakukan secara berlebihan.

"Semoga berjalan baik, yang resmi kan di MPR selebihnya cuma seremonial. Jangan sampai karena perayaan berlebihan menimbulkan antipati kepada Jokowi," katanya.
(dam)
Berita Terkait
Panitia Pastikan JK...
Panitia Pastikan JK Hadir saat Pelantikan Pengurus IKA Unhas
Momen Jokowi Disambut...
Momen Jokowi Disambut Warga saat Menuju Pelantikan Prabowo-Gibran
Melintas di Sarinah,...
Melintas di Sarinah, Jokowi Buka Kaca dan Lambaikan Tangan ke Warga
12 Dubes Dilantik Presiden...
12 Dubes Dilantik Presiden Jokowi, Ada Jubir Kemenlu
Jusuf Kalla: Kasih Tahu...
Jusuf Kalla: Kasih Tahu Semua Termul-termul Itu, Jokowi Jadi Presiden karena Saya
JK Undang Anis-Cak Imin...
JK Undang Anis-Cak Imin dan Surya Paloh Bukber Jelang Pengumuman Hasil Pilpres, Ada Apa?
Berita Terkini
Membangun Ekosistem...
Membangun Ekosistem Haji Masa Depan: Ramah Perempuan, Lansia, Difabel, dan Lingkungan
UMB Perkuat Diplomasi...
UMB Perkuat Diplomasi Kreatif Indonesia-Tiongkok, Pamerkan 100 Karya Desain Merek Inovatif
Kantor BGN Digeledah,...
Kantor BGN Digeledah, Istana: Kita Beri Kesempatan Penegak Hukum Bekerja
Dadan Hindayana Dicopot...
Dadan Hindayana Dicopot dari Kepala BGN, Gus Ipul: Saya Sepenuhnya Ikut Apa yang Jadi Keputusan Presiden
Gerindra: Diplomasi...
Gerindra: Diplomasi Aktif Prabowo Perkuat Posisi Indonesia di Panggung Global
BPOM Tegaskan Peraturan...
BPOM Tegaskan Peraturan BPOM No 5/2026 Bukan Soal Penempatan Apoteker
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved