Alasan Ahok Keluar dari Gerindra, Ini Kata PDIP
Rabu, 10 September 2014 - 14:46 WIB
Alasan Ahok Keluar dari Gerindra, Ini Kata PDIP
A
A
A
JAKARTA - PDIP DKI Jakarta menilai keputusan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) untuk hengkang dari partainya adalah pilihan pribadi. Pasalnya, Ahok merupakan sosok yang datang dari hasil pilkada langsung di DKI Jakarta.
Ketua Fraksi PDIP di DPRD DKI Jakarta Jhonny Simanjuntak mengatakan, niat keluarnya Ahok dari Gerindra lantaran tak sejalan dengan langkah Partai Gerindra soal mekanisme pilkada dikembalikan ke DPRD.
"Saya kira itu pilihan pribadi beliau (Ahok), saya kira susah menemukan kepala daerah yang mau memperjuangkan rakyat," kata Jhonny kepada wartawan di DPRD DKI Jakarta, Rabu (10/9/2014).
Politikus PDIP ini menduga, jika alasan Ahok menolak mekanisme pilkada di DPRD merupakan suara para kepala daerah.
"Saya punya keyakinan, suara Ahok itu bukan suara dia saja. Tapi suara kepala daerah lain yang juga sepemikiran dengan dia," kata Jhonny.
Jhonny menerangkan, suara parpol kadang kala ada di atas dan di bawah. Dia juga mengakui, hal itu pernah dirasakan partainya.
"Bayangkan, kami era reformasi PDIP punya 30-an kursi kemudian turun jadi 11, nah sekarang naik lagi. PKS dahulu 15 sekarang turun tinggal 11, jadi politik ya begitu, ketika ada satu masalah hinggap di partai maka secara otomatis akan membuat partai menjadi jatuh," bebernya.
Ketua Fraksi PDIP di DPRD DKI Jakarta Jhonny Simanjuntak mengatakan, niat keluarnya Ahok dari Gerindra lantaran tak sejalan dengan langkah Partai Gerindra soal mekanisme pilkada dikembalikan ke DPRD.
"Saya kira itu pilihan pribadi beliau (Ahok), saya kira susah menemukan kepala daerah yang mau memperjuangkan rakyat," kata Jhonny kepada wartawan di DPRD DKI Jakarta, Rabu (10/9/2014).
Politikus PDIP ini menduga, jika alasan Ahok menolak mekanisme pilkada di DPRD merupakan suara para kepala daerah.
"Saya punya keyakinan, suara Ahok itu bukan suara dia saja. Tapi suara kepala daerah lain yang juga sepemikiran dengan dia," kata Jhonny.
Jhonny menerangkan, suara parpol kadang kala ada di atas dan di bawah. Dia juga mengakui, hal itu pernah dirasakan partainya.
"Bayangkan, kami era reformasi PDIP punya 30-an kursi kemudian turun jadi 11, nah sekarang naik lagi. PKS dahulu 15 sekarang turun tinggal 11, jadi politik ya begitu, ketika ada satu masalah hinggap di partai maka secara otomatis akan membuat partai menjadi jatuh," bebernya.
(mhd)