Jelang Debat Capres Pamungkas, Jokowi-JK Fokus ke Kedaulatan Pangan
Jum'at, 04 Juli 2014 - 22:26 WIB
Jelang Debat Capres Pamungkas, Jokowi-JK Fokus ke Kedaulatan Pangan
A
A
A
JAKARTA - Ketua Tim Pemenangan Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK) Tjahjo Kumolo optimistis dan sangat meyakini pasangan calon yang diusungnya lebih siap dalam mewujudkan kedaulatan pangan.
Karenanya, dalam debat terakhir nanti Jokowi-JK diyakini lebih bisa meyakinkan publik dengan program nyatanya yang terukur dan realistis.
“Visi misi bidang pangan, misalnya capres Bapak Jokowi dan cawapres Bapak JK membangun kedaulatan pangan berbasis agribisnis kerakyatan yang akan dilakukan dengan penyusunan kebijakan pengendalian atas impor pangan, penanggulangan kemiskinan pertanian dan dukungan regenerasi petani, implementasi reformasi agraria, dan pembangunan bank khusus untuk pertanian, UMKM, dan koperasi,” kata Tjahjo, Jumat (4/7/2014).
Kemudian untuk mengatasi peningkatan impor beras yang di kurun 2010-2013 meningkat hingga 482,6 persen, kata dia, pasangan Jokowi-JK akan melakukan peningkatan kapasitas produksi dari 5 ton gabah kering giling perhektare menjadi 5,6 per hektare.
“Dalam hal visi misi kedaulatan pangan, apa yang hendak dilakukan pasangan capres Jokowi-JK ini sesuai dengan ideologi Pancasila 1 Juni dan konsep Trisakti dan sangat realistis,” ujarnya.
Kemudian, lanjut dia, untuk mengatasi impor jagung yang naik hingga 3,2 juta ton di 2013, pasangan Jokowi-JK menyasar produktivitas dari 4,8 tahun menjadi 5,6 ton per hektare. Hal itu bisa dilakukan dengan pengembangan bank benih milik rakyat tani untuk daulat benih, dan pengembangan pupuk organik untuk daulat pupuk.
Untuk mengatasi impor kedelai, produksi harus ditingkatkan ke 2,3 ton per hektare dengan Pemerintah menjamin harga yang menguntungkan untuk petani, dan mendorong pengembangan bank benih kedelai di tiap kelompok tani.
Pasangan Jokowi-JK, lanjut Tjahjo, juga akan memberikan akses petani gurem terhadap kepemilikan lahan pertanian dan akan akan ditingkatkan, bersamaan dengan program penanggulangan kemiskinan pertanian.
“Kami meyakini program-program yang terukur dan realistis, ditambah dengan konsistensi sikap politik yang satu kata dengan perbuatan, mimpi atau harapan menjadikan Indonesia yang berdaulat bisa diwujudkan,” tegas Sekjen DPP PDI Perjuangan ini.
Tjahjo melanjutkan, semua program yang disampaikan oleh pasangan Jokowi-JK secara terbuka dalam kampanye, dialog, dan debat merupakan perwujudan dari implementasi Trisakti, yang berlandaskan Pancasila dan berpedoman Bhinneka Tunggal Ika dengan semangat cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 dimana tersirat dan terkandung dalam Pancasila.
“Program-program yang akan dicanangkan oleh Pak Jokowi dan Pak jusuf Kala pasti bermanfaat untuk masyarakat bangsa dan Negara, yang harus kuat yang harus berdaulat yang harus berdfikari dan berkepribadian sebagai bangsa yang besar. Dengan demikian akan memperkuat jati diri bangsa Indonesia dan mempertegas kembali keberadaan kita sebagai bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Karenanya, dalam debat terakhir nanti Jokowi-JK diyakini lebih bisa meyakinkan publik dengan program nyatanya yang terukur dan realistis.
“Visi misi bidang pangan, misalnya capres Bapak Jokowi dan cawapres Bapak JK membangun kedaulatan pangan berbasis agribisnis kerakyatan yang akan dilakukan dengan penyusunan kebijakan pengendalian atas impor pangan, penanggulangan kemiskinan pertanian dan dukungan regenerasi petani, implementasi reformasi agraria, dan pembangunan bank khusus untuk pertanian, UMKM, dan koperasi,” kata Tjahjo, Jumat (4/7/2014).
Kemudian untuk mengatasi peningkatan impor beras yang di kurun 2010-2013 meningkat hingga 482,6 persen, kata dia, pasangan Jokowi-JK akan melakukan peningkatan kapasitas produksi dari 5 ton gabah kering giling perhektare menjadi 5,6 per hektare.
“Dalam hal visi misi kedaulatan pangan, apa yang hendak dilakukan pasangan capres Jokowi-JK ini sesuai dengan ideologi Pancasila 1 Juni dan konsep Trisakti dan sangat realistis,” ujarnya.
Kemudian, lanjut dia, untuk mengatasi impor jagung yang naik hingga 3,2 juta ton di 2013, pasangan Jokowi-JK menyasar produktivitas dari 4,8 tahun menjadi 5,6 ton per hektare. Hal itu bisa dilakukan dengan pengembangan bank benih milik rakyat tani untuk daulat benih, dan pengembangan pupuk organik untuk daulat pupuk.
Untuk mengatasi impor kedelai, produksi harus ditingkatkan ke 2,3 ton per hektare dengan Pemerintah menjamin harga yang menguntungkan untuk petani, dan mendorong pengembangan bank benih kedelai di tiap kelompok tani.
Pasangan Jokowi-JK, lanjut Tjahjo, juga akan memberikan akses petani gurem terhadap kepemilikan lahan pertanian dan akan akan ditingkatkan, bersamaan dengan program penanggulangan kemiskinan pertanian.
“Kami meyakini program-program yang terukur dan realistis, ditambah dengan konsistensi sikap politik yang satu kata dengan perbuatan, mimpi atau harapan menjadikan Indonesia yang berdaulat bisa diwujudkan,” tegas Sekjen DPP PDI Perjuangan ini.
Tjahjo melanjutkan, semua program yang disampaikan oleh pasangan Jokowi-JK secara terbuka dalam kampanye, dialog, dan debat merupakan perwujudan dari implementasi Trisakti, yang berlandaskan Pancasila dan berpedoman Bhinneka Tunggal Ika dengan semangat cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 dimana tersirat dan terkandung dalam Pancasila.
“Program-program yang akan dicanangkan oleh Pak Jokowi dan Pak jusuf Kala pasti bermanfaat untuk masyarakat bangsa dan Negara, yang harus kuat yang harus berdaulat yang harus berdfikari dan berkepribadian sebagai bangsa yang besar. Dengan demikian akan memperkuat jati diri bangsa Indonesia dan mempertegas kembali keberadaan kita sebagai bangsa Indonesia,” pungkasnya.
(hyk)