Publik Harus Tahu Hasil Survei Capres Terbaru
Sabtu, 28 Juni 2014 - 08:59 WIB
Publik Harus Tahu Hasil Survei Capres Terbaru
A
A
A
JAKARTA - Media Australia The Sydney Morning Herald mengungkapkan, sejumlah lembaga survei belum merilis survei terbaru, terkait elektabilitas kontestan calon presiden (capres) di Pilpres 2014.
Di media ini juga menyebutkan, sejumlah lembaga survei belum merilis survei terbaru, terkait elektabilitas kontestan dua capres itu.
Sejumlah lembaga survei yang disebutkan di media tersebut, diduga enggan merilis hasil survei. Karena khawatir sebagian pendukung capres yang memiliki kedekatan dengan lembaga survei tersebut, beralih ke capres lainnya.
Peneliti senior Founding Father House (FFH), Dian Permata mengatakan, Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 ada dua peristiwa, yakni pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres).
"Pada saat pileg memang pengumuman hasil riset itu sangat masif. Ini berbanding terbalik dengan pilpres. Jadi ada pertanyaan besar publik, bahwa di pilpres terlihat sangat jarang hasil survei," kata Dian Permata saat dihubungi Sindonews, Jumat 27 Juni 2014 malam.
Menurutnya, sejumlah lembaga survei yang disebutkan di The Sydney Morning Herald, seyogyanya segera mengumumkan hasil survei terbaru, apapun itu kondisinya.
"Ini yang membuat orang bertanya, jangan-jangan lembaga survei itu ada di salah satu kubu. Jadi makanya, untuk membantah anggapan itu lembaga survei tersebut harus cepat mengeluarkan hasilnya," tuturnya.
"Publik harus tahu, apa hasilnya, siapa yang naik dan siapa yang turun. Ini harus segera diumumkan, harus dijawab segera kegundahan. Sayang riset itu butuh dana dan tenaga yang sangat besar," pungkasnya.
Sebelumnya, Lembaga Survei Indonesia (LSI), Saiful Mujani Research and Consulting (SRMC), dan Indikator, hingga saat ini belum mengeluarkan hasil survei terbaru, mengenai elektabilitas Capres Prabowo dan Capres Jokowi.
Di media ini juga menyebutkan, sejumlah lembaga survei belum merilis survei terbaru, terkait elektabilitas kontestan dua capres itu.
Sejumlah lembaga survei yang disebutkan di media tersebut, diduga enggan merilis hasil survei. Karena khawatir sebagian pendukung capres yang memiliki kedekatan dengan lembaga survei tersebut, beralih ke capres lainnya.
Peneliti senior Founding Father House (FFH), Dian Permata mengatakan, Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 ada dua peristiwa, yakni pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres).
"Pada saat pileg memang pengumuman hasil riset itu sangat masif. Ini berbanding terbalik dengan pilpres. Jadi ada pertanyaan besar publik, bahwa di pilpres terlihat sangat jarang hasil survei," kata Dian Permata saat dihubungi Sindonews, Jumat 27 Juni 2014 malam.
Menurutnya, sejumlah lembaga survei yang disebutkan di The Sydney Morning Herald, seyogyanya segera mengumumkan hasil survei terbaru, apapun itu kondisinya.
"Ini yang membuat orang bertanya, jangan-jangan lembaga survei itu ada di salah satu kubu. Jadi makanya, untuk membantah anggapan itu lembaga survei tersebut harus cepat mengeluarkan hasilnya," tuturnya.
"Publik harus tahu, apa hasilnya, siapa yang naik dan siapa yang turun. Ini harus segera diumumkan, harus dijawab segera kegundahan. Sayang riset itu butuh dana dan tenaga yang sangat besar," pungkasnya.
Sebelumnya, Lembaga Survei Indonesia (LSI), Saiful Mujani Research and Consulting (SRMC), dan Indikator, hingga saat ini belum mengeluarkan hasil survei terbaru, mengenai elektabilitas Capres Prabowo dan Capres Jokowi.
(maf)