Jokowi Ubah Nama Laut China Selatan Jadi Laut Tiongkok

Senin, 23 Juni 2014 - 19:28 WIB
Jokowi Ubah Nama Laut...
Jokowi Ubah Nama Laut China Selatan Jadi Laut Tiongkok
A A A
JAKARTA - Indonesia dinilai tidak dapat menutup mata terhadap konflik Laut China Selatan. Pasalnya, konflik tersebut terjadi tepat di wilayah perbatasan sebelah utara Indonesia dan beberapa negara.

"Laut China Selatan itu kalau menurut kami, adalah sebuah masalah di depan mata," kata Sekretaris Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Fadli Zon, di Rumah Polinia, Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Senin (23/6/2014).

Fadli menilai, pernyataan Capres Joko Widodo (Jokowi) dalam debat kandidat sesi ketiga yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Minggu 6 Juni 2014, yang mengatakan tidak ingin ikut campur dalam konflik di Laut China Selatan menunjukkan, calon presiden nomor urut satu tersebut tidak mengerti persoalan.

"Pak Jokowi tidak mengerti soal Laut China Selatan itu dan jawabannya muter-muter. Bahkan disebut Laut Tiongkok. Saya kira masih belum berubah namanya," ucap Fadli.

Terkait Laut China Selatan ini, Fadli melihat, ada potensi konflik yang setiap saat dapat muncul antara sebuah negara di kawasan Asean. Ia menambahkan, juga akan terjadi suatu klaim terhadap perairan di atas wilayah utara Natuna oleh kekuatan yang besar.

"Kalau kita (kubu Prabowo), harus kita engage. Artinya kita terlibat secara proaktif dalam proses diplomasi damai. Jangan sampai kita kaget dan tiba-tiba berhadapan dengan kekuatan besar," tuturnya.

"Karena sudah pernah terjadi suatu insiden seperti di perairan Senkaku antara Jepang dan China, dan insiden di perairan Filipina," imbuhnya.

Politikus Partai Gerindra itu memprediksi, jika sampai terjadi konflik di Laut China Selatan, maka dampaknya akan sangat besar bagi Indonesia.

"Karena menurut saya sejauh ini belum ada solusi terhadap potensi konflik yang ada dan kalau terjadi perang maka yang terjadi adalah perang laut. Dan perang laut ini menurut saya akan dikuasai oleh negara-negara yang kuat secara maritim," ujarnya.

Ia mengatakan, gagasan Prabowo jika terpilih menjadi presiden dalam usaha menyelesaikan konflik Laut China Selatan adalah memosisikan Indonesia sebagai inisiator perdamaian di kawasan Asia.

"Jadi kita bukan konfrontasi tapi engagement. Kita ambil suatu inisiatif. Sebagai negara terbesar di Asean, Indonesia punya mitra dari negara lain," ungkapnya.

"Maka, kita harus duduk bersama untuk menanggapi hal ini. Kalau kita terpecah belah dengan kepentingan masing-masing, maka nanti akan terjadi suatu konflik yang lebih luas," pungkasnya.
(maf)
Berita Terkait
Haedar Nashir: Debat...
Haedar Nashir: Debat Capres-Cawapres Jangan seperti Cerdas Cermat
TPD DKI Jakarta: Ganjar...
TPD DKI Jakarta: Ganjar Sukses Yakinkan Rakyat di Debat Perdana
Pendukung Paslon Saling...
Pendukung Paslon Saling Adu Yel-yel Jelang Debat Kedua Cawapres di JCC Senayan
Debat Cawapres Pemilu...
Debat Cawapres Pemilu 2024, Adu Gagasan Terkait Ekonomi Kerakyatan, Ekonomi Digital Hingga Infrastruktur
YouTuber Berpeluang...
YouTuber Berpeluang Jadi Moderator Debat Capres-Cawapres 2024
TPD Ganjar-Mahfud DKI...
TPD Ganjar-Mahfud DKI Jakarta Gelar Nobar Debat di 1.000 Titik
Berita Terkini
Prabowo Disebut Minta...
Prabowo Disebut Minta Nanik Jadi Dewas BGN, Mensesneg: Pengalamannya Bisa Membantu
Hakim Kabulkan Eksepsi...
Hakim Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa, Pengacara Jokowi Yakin Sidang Tetap Lanjut
Kemlu Soal Deportasi...
Kemlu Soal Deportasi Abdul Karim Raeq Miqdad: Murni Isu Pidana, Tak Pengaruhi Dukungan untuk Palestina
Bukan Sekadar Kuota,...
Bukan Sekadar Kuota, Rustini Dorong Perempuan Ambil Keputusan Strategis
Hari Anak Nasional,...
Hari Anak Nasional, 1.050 Anak Binaan Dapat Remisi
Prabowo Panggil Menteri-menteri...
Prabowo Panggil Menteri-menteri ke Istana Bahas Koperasi Desa Merah Putih
Infografis
3 Kapal Perusak Tipe...
3 Kapal Perusak Tipe 055 China Berlatih di Berbagai Wilayah Laut
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved