Bidan dan Perawat Indonesia Belum Memenuhi Standar

Jum'at, 20 Juni 2014 - 08:51 WIB
Bidan dan Perawat Indonesia...
Bidan dan Perawat Indonesia Belum Memenuhi Standar
A A A
JAKARTA - Sebanyak 116 ribu perawat dan bidan di Indonesia belum memenuhi standar jenjang minimum pendidikan tinggi tenaga kesehatan setara Ahli Madya (DIII). Hal ini disebabkan minimnya akses internet dan informasi di daerah terpencil.

Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi mengatakan, sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan masih harus ditingkatkan kompetensinya secara berkala melalui pendidikan dan pelatihan. Dengan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi yaitu Pendidikan Jarak Jauh (PJJ).

Dalam hal ini ditarget seluruh daerah terepncil mendapatkan akses internet. Namun, hal ini terkendala oleh anggaran karena sistem tersebut sangatlah mahal.

"Ini menjadi masalah daerah terpencil dalam mendapatkan akses PJJ. Maka kita tingkatkan kerja sama dengan operator dan kementerian terkait seperti Kementerian Pembangunan Daerah Tinggal‎ (PDT) dan Kementerian Informasi dan Telekomunikasi (Kemenkoinfo)," katanya saat ditemui di Jakarta, Kamis 19 Juni 2014.

Menurut Nafsiah, tidak semua pemda meminta program ini dilakukan di daerahnya. Karenanya jika daerah aktif meminta maka pemerintah pusat akan cepat merespons.

"Kita sudah memiliki modulnya, metodenya dan kompetensinya. Hanya tinggal pelaksanaanya," katanya.

Karenanya sesuai perintah Permenkes Nomor 17 Tahun 2013 dan Permenkes Nomor 1454 dalam peraturantanya mengharuskan jenjang umum minimum kualifikasi perawat dan bidan setara DIII. Sedangkan saat ini masih banyak para bidan dan perawat yang masih DI.

Untuk sementara, dua instansi penyelenggara pertama PJJ ialah politeknik kesehatan (Poltekes)‎ Kemenkes Kupang dan Polteks Kemenkes Kalimantan Timur. Untuk tahun ajaran 2014 sebanyak 87 orang yang berasal dari dua kabupaten sasaran di NTT yakni Flores Timur dan Sumba Barat Daya.

Nantinya para mahasiswa akan mendapatkan beasiswa selama delapan semester. Sedangkan peserta didik di Kalimantan Timur berjumlah 50 orang berasal dari Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.

"BPPSDM Kemenkes telah mengembangkan lebih dari 456 modul pembelajaran dan sebanyak 120 tutor dan 70 petugas layanan bantuan belajar juga telah dilatih, untuk melaksanakan dan memantau paket pendidikan jarak jauh itu‎," tegasnya.
(kri)
Berita Terkait
Hepatitis Misterius,...
Hepatitis Misterius, Waspada Jika Anak Alami Gejala Ini
Kemenkes Sebut Kasus...
Kemenkes Sebut Kasus Polio di Indonesia hanya 1, Bukan 4
Kemenkes Beberkan Kronologi...
Kemenkes Beberkan Kronologi Kasus Hepatitis Akut yang Tewaskan 3 Anak di Indonesia
Kemenkes Beri Penghargaan...
Kemenkes Beri Penghargaan Landson, Dukung Gerakan Change Source
Hari Kesehatan Jiwa...
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2021, Jiwa yang Sehat Pengaruhi Kualitas Hidup
SKAMRT Temukan 7 dari...
SKAMRT Temukan 7 dari 10 Rumah Tangga Konsumsi Air Minum Terkontaminasi
Berita Terkini
Bos FBI Temui Prabowo,...
Bos FBI Temui Prabowo, Artefak Papua yang Diselundupkan ke AS Kembali ke Indonesia
Pengamat Soroti Rumor...
Pengamat Soroti Rumor Privat di Kasus Febrie: Jangan Geser Fokus dari Substansi Hukum
Hangat dan Haru, Prabowo...
Hangat dan Haru, Prabowo Jamu Perwira TNI-Polri dan Orang Tua di Istana Usai Praspa 2026
Hari Anak Nasional ke-42,...
Hari Anak Nasional ke-42, saatnya Negara Membangun Prasyarat Perlindungan Anak
Febrie Adriansyah Mangkir...
Febrie Adriansyah Mangkir dari Pemeriksaan Kejagung, Dipanggil Ulang Besok
Dokter Tifa Siap Terima...
Dokter Tifa Siap Terima Apa Pun Putusan Sela Hari Ini
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved