Program BPJS enggak laku di Indonesia Timur

Minggu, 04 Mei 2014 - 16:24 WIB
Program BPJS enggak...
Program BPJS enggak laku di Indonesia Timur
A A A
Sindonews.com - Kesiapan rumah sakit (RS) swasta untuk bergabung dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) masih terkendala berbagai dilema.

Selain masalah tarif, RS swasta juga meminta adanya aturan baku atau standar pelayanan atau clinical pathway yang menyeluruh.

Setelah dilantik sebagai Ketua Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSI) Kota Depok periode 2014-2017, Sjahrul Amri mengaku, memiliki tantangan dan pekerjaan rumah yang cukup berat.

Amri menjelaskan, tantangan RS swasta ke depan jauh lebih besar, sehubungan dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) atau Asean Economic Community (AEC) tahun 2015.

MEA, kata Amri, semua pasar bebas menjadikan investor asing bisa masuk ke Indonesia dengan mudahnya, bahkan hingga dalam bentuk produk jasa. Amri menilai, setiap RS swasta harus mempunyai rumusan strategi.

"Belum lagi regulasi SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) dengan program JKN melalui BPJS, dalam program itu kendala banyak dihadapi RS swasta," tegasnya kepada wartawan di RS Bhakti Yudha, Depok, Minggu (4/5/2014).

Amri menilai, program BPJS bahkan belum siap diterapkan di RS swasta wilayah Indonesia Timur. Selain aturan yang belum siap, namun masyarakat disana masih belum mampu membeli premi secara mandiri.

"BPJS enggak laku di Indonesia Timur. RS swasta disana belum siap, masyarakat belum mampu beli premi mandiri. Diluar Askes, Asabri, dan Jamsostek lalu Taspen dan lain-lain, masyarakatnya belum mampu jadi enggak bisa. RS swasta enggak siap," tukas Direktur RS Bhakti Yudha ini.

Amri menjelaskan belum lagi masalah kemampuan SDM hingga sistem teknologi yang masih minim. Setidaknya ada konsep '3 P' bagi Amri yang harus dipersiapkan RS swasta untuk bekerjasama dalam BPJS. Yakni posisiton, people, dan performance.

"Masalah pengkodean penyakit (coding), costing (biaya), jangan sampai enggak paham, lalu clinical pathway, harus punya IT yang cukup. Karena ini kan sebuah sistem jangan sampai nanti masalah klaim takut terganggu," paparnya.
(maf)
Berita Terkait
Saleh Husin: Kerukunan...
Saleh Husin: Kerukunan Warga Dapat dan Olahraga juga Dapat
Buka Cabang di GDC,...
Buka Cabang di GDC, Satu Dental Ingin Kesehatan Gigi Masyarakat Terjaga
Fenomena Bocah Disunat...
Fenomena Bocah Disunat Jin, Begini Penjelasan Ketua IDI Tangsel
Kondisi Kesehatan Dinilai...
Kondisi Kesehatan Dinilai Sangat Mempengaruhi Kualitas Fokus Otak
Menjaga Kesehatan Masyarakat...
Menjaga Kesehatan Masyarakat Indonesia
Derita Kanker Stadium...
Derita Kanker Stadium 3, Bocah 7 Tahun Warga Tangsel Ini Butuh Biaya
Berita Terkini
Gempa M7,1 Guncang Jepang,...
Gempa M7,1 Guncang Jepang, Kemlu Pastikan Tidak Ada WNI Jadi Korban
PWI Cabut Laporan Polisi...
PWI Cabut Laporan Polisi terhadap Hotman Paris
Perindo Bekali Anggota...
Perindo Bekali Anggota Legislatif Strategi Pemenangan dan Pemahaman Teknis Kepemiluan
Anggota DPRD Jatim Ditahan...
Anggota DPRD Jatim Ditahan KPK, Diduga Beri Suap Rp1,5 Miliar demi Jatah Dana Hibah Rp83,4 Miliar
Pakar Hukum Tata Negara...
Pakar Hukum Tata Negara Dorong Ambang Batas Fraksi daripada Ambang Batas Parlemen
Dasar Penetapan Febrie...
Dasar Penetapan Febrie sebagai Tersangka TPPU Dipertanyakan
Infografis
10 Pemain Tercepat di...
10 Pemain Tercepat di Piala Dunia 2026: Mbappe Kalahkan Haaland
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved