Fahira Idris, pejuang pendidikan anak usia dini
Jum'at, 28 Maret 2014 - 17:33 WIB
Fahira Idris, pejuang pendidikan anak usia dini
A
A
A
Sindonews.com - Calon Anggota Legislatif (caleg) Daerah Pemilihan (dapil) DKI Jakarta Fahira Idris menyatakan, pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai wadah untuk membentuk pemimpin-pemimpin muda berkualitas di masa depan.
“Ini (hasil riset), harusnya tidak membuat pemerintah dan legislatif ragu menjadikan PAUD sebagai program wajib belajar. Anak-anak ini aset masa depan kita. Harusnya mereka mendapat pelayanan pendidikan usia dini yang nyaman, menyenangkan, berkualitas, dan gratis,” ujar Fahira, kepada wartawan, Jumat (28/3/2014).
Menurutnya, sudah banyak riset yang menyimpulkan kalau 50 persen kapabilitaas kecerdasan orang dewasa, terjadi ketika anak berumur empat tahun. Sementara, saat anak menginjak usia delapan tahun, jaringan otaknya mengalami perkembangan yang begitu pesat dan mencapai pucaknya saat berusia 18 tahun.
"Anggota DPD punya wewenang untuk ikut membahas RUU yang berkaitan dengan pendidikan. Jika terpilih, saya akan perjuangkan PAUD jadi program wajib belajar sehingga bisa dinikmati gratis oleh seluruh anak di Jakarta,” terang perempuan yang juga aktivis sosial ini.
Lebih jauh, Fahira mengulas tentang Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang menyatakan, PAUD masih dikategorikan jenis pendidikan nonformal. Karena itu, sekira 174 ribu unit PAUD di Indonesia, adalah inisiatif kelompok-kelompok masyarakat.
"Keberadaan PAUD yang masuk kategori pendidikan nonformal mengakibatkan belum ada perhatian khusus pemerintah. Padahal, PAUD tidak kalah pentingnya dari SD, SMP, mapun SMA," ungkapnya.
Menurutnya, jika PAUD berkualitas, maka anak-anak usia dini akan terbentuk dan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, memiliki rasa sosial yang tinggi, cepat beradaptasi, berani jujur, dan punya rasa ingin tahu yang besar, serta kepudulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
"Jenjang PAUD menjadi penting karena anak-anak inilah yang akan menjalankan roda bangsa ini 30-40 tahun ke depan," pungkasnya.
“Ini (hasil riset), harusnya tidak membuat pemerintah dan legislatif ragu menjadikan PAUD sebagai program wajib belajar. Anak-anak ini aset masa depan kita. Harusnya mereka mendapat pelayanan pendidikan usia dini yang nyaman, menyenangkan, berkualitas, dan gratis,” ujar Fahira, kepada wartawan, Jumat (28/3/2014).
Menurutnya, sudah banyak riset yang menyimpulkan kalau 50 persen kapabilitaas kecerdasan orang dewasa, terjadi ketika anak berumur empat tahun. Sementara, saat anak menginjak usia delapan tahun, jaringan otaknya mengalami perkembangan yang begitu pesat dan mencapai pucaknya saat berusia 18 tahun.
"Anggota DPD punya wewenang untuk ikut membahas RUU yang berkaitan dengan pendidikan. Jika terpilih, saya akan perjuangkan PAUD jadi program wajib belajar sehingga bisa dinikmati gratis oleh seluruh anak di Jakarta,” terang perempuan yang juga aktivis sosial ini.
Lebih jauh, Fahira mengulas tentang Undang-undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang menyatakan, PAUD masih dikategorikan jenis pendidikan nonformal. Karena itu, sekira 174 ribu unit PAUD di Indonesia, adalah inisiatif kelompok-kelompok masyarakat.
"Keberadaan PAUD yang masuk kategori pendidikan nonformal mengakibatkan belum ada perhatian khusus pemerintah. Padahal, PAUD tidak kalah pentingnya dari SD, SMP, mapun SMA," ungkapnya.
Menurutnya, jika PAUD berkualitas, maka anak-anak usia dini akan terbentuk dan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, memiliki rasa sosial yang tinggi, cepat beradaptasi, berani jujur, dan punya rasa ingin tahu yang besar, serta kepudulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitarnya.
"Jenjang PAUD menjadi penting karena anak-anak inilah yang akan menjalankan roda bangsa ini 30-40 tahun ke depan," pungkasnya.
(san)