Hanura bahas koalisi usai Pileg
Rabu, 26 Maret 2014 - 17:41 WIB
Hanura bahas koalisi usai Pileg
A
A
A
Sindonews.com - Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Wiranto menilai proses pembicaraan koalisi antar partai memang ideal dilakukan pasca Pemilu Legislatif (Pileg). Selain menunggu hasil perolehan suara partai di Pileg, keterbatasan waktu juga dianggap sebagai kendala setiap parpol untuk bertemu dan membicarakan hal tersebut.
"Karena susah waktunya ya, masing-masing (ketua parpol) kan juga sedang ke daerah-daerah yang berbeda. Mau ketemu juga sudah diaturnya bagaimana," ujar Wiranto di sela-sela kunjungannya menyambangi Purbalingga, Rabu (26/3/2014).
Meski begitu pembicaraan pada tahap awal memang sudah dilakukan beberapa partai ke Hanura. Namun mantan Menhankam/Pangab itu enggan menyebutkan partai mana yang sudah melakukannya.
"Kalau lewat staf sudah, tapi ketua umumnya nanti, belum semuanya ada komunikasi," lanjutnya.
Capres Hanura ini mengatakan, partainya merupakan partai yang berideologi nasionalis religius. Namun dirinya enggan mengotak-kotakkan hal itu dan menganggap tujuan dari semua parpol itu baik dan untuk kepentingan masyarakat.
"Sekarang ini kan sebenarnya platform ideologis praktis tidak ada. Semuanya pendekatannya pragmatis untuk pengabdian dalam rangka mendapatkan kekuasaan," katanya.
"Karena susah waktunya ya, masing-masing (ketua parpol) kan juga sedang ke daerah-daerah yang berbeda. Mau ketemu juga sudah diaturnya bagaimana," ujar Wiranto di sela-sela kunjungannya menyambangi Purbalingga, Rabu (26/3/2014).
Meski begitu pembicaraan pada tahap awal memang sudah dilakukan beberapa partai ke Hanura. Namun mantan Menhankam/Pangab itu enggan menyebutkan partai mana yang sudah melakukannya.
"Kalau lewat staf sudah, tapi ketua umumnya nanti, belum semuanya ada komunikasi," lanjutnya.
Capres Hanura ini mengatakan, partainya merupakan partai yang berideologi nasionalis religius. Namun dirinya enggan mengotak-kotakkan hal itu dan menganggap tujuan dari semua parpol itu baik dan untuk kepentingan masyarakat.
"Sekarang ini kan sebenarnya platform ideologis praktis tidak ada. Semuanya pendekatannya pragmatis untuk pengabdian dalam rangka mendapatkan kekuasaan," katanya.
(kri)