Mengincar suara pemilih muda
Kamis, 13 Maret 2014 - 20:47 WIB
Mengincar suara pemilih muda
A
A
A
Sindonews.com - Pelaksanaan pesta demokrasi rakyat kurang dari sebulan lagi akan berlangsung. Suara pemilih pemula menjadi incaran berbagai partai politik. Para peserta pemilu pun menyusun berbagai strategi untuk bisa mendulang suara dari pemilih pemula ini.
Calon anggota legislatif (caleg) muda Willy Aditya mengatakan, pada Pemilu 2014 ini diperkirakan jumlah pemilih pemula sekitar 30 persen. Mereka adalah anak-anak yang kritis dan sedang mencari eksistensi.
“Para pemilih pemula selama ini sebagian besar memilih tidak menggunakan hak suara mereka, mereka memilih menjadi golput. Ini terjadi karena selama ini sistem politik kita tidak memfungsikan parpol sebagai intermediary, penyambung kepentingan antara aspirasi masyarakat dengan pengambil keputusan,” kata Willy, Kamis (13/3/2014).
Mantan Ketua Dewan Mahasiswa Univesitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini menambahkan, para pemilih pemula ini adalah anak-anak muda yang sangat menginginkan perubahan di Indonesia. Mereka menginginkan perbaikan di semua lini tataran masyarakat.
“Untuk itu partai atau caleg yang mengusung perubahan akan menjadi pilihan para pemilih pemula ini,” ungkap lulusan Cranfield University, London ini.
Sementara itu Pengamat Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk menegaskan, pemilih pemula itu sangat idealis dan kritis. Pemilih pemula ini adalah mereka-mereka yang idealis dan kritis. “Oleh karena itu mereka sangat terpikat dengan parpol atau caleg yang mengusung perubahan, jujur, tidak pernah melakukan korupsi dan memiliki integritas yang bagus,” ujarnya.
Hamdi menambahkan, oleh karena itu jika partai politik ingin merebut atau menarik perhatian para pemilih muda, maka mereka harus bisa menunjukkan kelak bisa menciptakan perubahan, bisa membersihkan korupsi di Indonesia.
Calon anggota legislatif (caleg) muda Willy Aditya mengatakan, pada Pemilu 2014 ini diperkirakan jumlah pemilih pemula sekitar 30 persen. Mereka adalah anak-anak yang kritis dan sedang mencari eksistensi.
“Para pemilih pemula selama ini sebagian besar memilih tidak menggunakan hak suara mereka, mereka memilih menjadi golput. Ini terjadi karena selama ini sistem politik kita tidak memfungsikan parpol sebagai intermediary, penyambung kepentingan antara aspirasi masyarakat dengan pengambil keputusan,” kata Willy, Kamis (13/3/2014).
Mantan Ketua Dewan Mahasiswa Univesitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta ini menambahkan, para pemilih pemula ini adalah anak-anak muda yang sangat menginginkan perubahan di Indonesia. Mereka menginginkan perbaikan di semua lini tataran masyarakat.
“Untuk itu partai atau caleg yang mengusung perubahan akan menjadi pilihan para pemilih pemula ini,” ungkap lulusan Cranfield University, London ini.
Sementara itu Pengamat Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI) Hamdi Muluk menegaskan, pemilih pemula itu sangat idealis dan kritis. Pemilih pemula ini adalah mereka-mereka yang idealis dan kritis. “Oleh karena itu mereka sangat terpikat dengan parpol atau caleg yang mengusung perubahan, jujur, tidak pernah melakukan korupsi dan memiliki integritas yang bagus,” ujarnya.
Hamdi menambahkan, oleh karena itu jika partai politik ingin merebut atau menarik perhatian para pemilih muda, maka mereka harus bisa menunjukkan kelak bisa menciptakan perubahan, bisa membersihkan korupsi di Indonesia.
(hyk)