Sebut Demokrat 3 besar, pernyataan SBY menyesatkan
Selasa, 04 Maret 2014 - 19:56 WIB
Sebut Demokrat 3 besar, pernyataan SBY menyesatkan
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku partai yang dipimpinnya sudah meningkat elektabilitasnya sehingga masuk tiga besar. Hal itu diungkapkannya saat berbicara di debat kenegaraan konvensi calon presiden Partai Demokrat yang ketujuh di Bogor, Jawa Barat Minggu, 2 Maret 2014 kemarin.
Sekjen Asosiasi Riset Opini Publik (Aropi), Umar S Bakry mengatakan, SBY justru tidak jujur dan berani untuk mengungkap fakta yang terjadi dengan partainya tersebut.
"Kalau SBY gentle, sebutkan lembaga surveinya apa, angka pastinya berapa. Ini kan dia enggak berani. Semua juga bisa klaim begitu, makanya saya bilang tidak gentle," kata Umar, usai diskusi pemilu di Media Center KPU, Jakarta, Selasa (4/3/2014).
Menurut Umar, SBY yang menyebut Demokrat tiga besar hanya ingin menyenangkan hati kader dan pengurus Demokrat saja. Umar berpendapat, sebenarnya sah-sah saja SBY mengatakan Demokrat ada di tiga besar.
Bahkan, SBY sah menyebut Demokrat di peringkat pertama. Tetapi, hal tersebut cukup disampaikan di internal kader partai tanpa diekpose ke publik.
"Kalau sudah masuk media kan akhirnya jatuhnya menyesatkan rakyat," sambung Umar.
Sekjen Asosiasi Riset Opini Publik (Aropi), Umar S Bakry mengatakan, SBY justru tidak jujur dan berani untuk mengungkap fakta yang terjadi dengan partainya tersebut.
"Kalau SBY gentle, sebutkan lembaga surveinya apa, angka pastinya berapa. Ini kan dia enggak berani. Semua juga bisa klaim begitu, makanya saya bilang tidak gentle," kata Umar, usai diskusi pemilu di Media Center KPU, Jakarta, Selasa (4/3/2014).
Menurut Umar, SBY yang menyebut Demokrat tiga besar hanya ingin menyenangkan hati kader dan pengurus Demokrat saja. Umar berpendapat, sebenarnya sah-sah saja SBY mengatakan Demokrat ada di tiga besar.
Bahkan, SBY sah menyebut Demokrat di peringkat pertama. Tetapi, hal tersebut cukup disampaikan di internal kader partai tanpa diekpose ke publik.
"Kalau sudah masuk media kan akhirnya jatuhnya menyesatkan rakyat," sambung Umar.
(kri)