Di Demokrat hanya ada saling serang antar kader
Selasa, 14 Januari 2014 - 06:31 WIB
Di Demokrat hanya ada saling serang antar kader
A
A
A
Sindonews.com - Peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, seharusnya setelah ditahannya mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, elite Partai Demokrat lebih solid.
"Tapi yang terjadi, soliditas pengurus, kader Demokrat makin berkurang. Di dalam internal Demokrat justru saling menyerang, saling menyalahkan (elektabilitas atau pamor Demokrat terus menurun)," kata Siti Zuhro, saat dihubungi Sindonews, Senin 13 Januari 2014.
Menurutnya, kondisi internal Demokrat sangat kontras dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di mana saat mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) terkena kasus, justru elite PKS beserta kadernya, berupaya menepis serangan dari lawan politiknya, akibat kasus tersebut.
"Hal ini berbeda dengan PKS yang mampu memberikan pelajaran politik bagi publik. Pasalnya, ketika (mantan) Presiden PKS terkena kasus, seluruh kader, seluruh elite dan pengurus PKS tetap solid dan mampu meredam serangan bertubi-tubi dari berbagai pihak," pungkasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, sudah seharusnya Demokrat bisa meredam konflik di internal, sehingga tidak menjadi konsumsi publik.
"Manajerial Demokrat tidak rapih, kenapa harus ada perang atau konflik, terutama antara
Anas dan SBY. Padahal PKS dan Demokrat sama-sama partai yang lahir di era reformasi. Tapi
PKS tetap solid, meski dibombardir," pungkasnya.
Sebelumnya, elektabilitas calon presiden (capres) yang mengikuti konvensi semi terbuka Partai Demokrat tak masuk lima besar dengan elektabilitas tidak lebih dari 10 persen, berdasarkan hasil dari survei Vox Populi Survey.
Dari hasil penelusuran mereka, dua peserta konvensi masuk nominasi yakni Dahlan Iskan dan Pramono Edhie Wibowo masing-masing memperoleh 7,3 persen dan 1,2 persen. Dengan hasil itu keduanya kalah dari Prabowo Subianto yang menduduki peringkat pertama dengan 33,1 persen, Megawati Soekarnoputri, Joko Widodo (Jokowi) dan Wiranto.
Survei tersebut diselenggarakan pada 9 hingga 23 Desember dengan jumlah sampel sebanyak 3.686 dari 402 kabupaten/kota dengan metode kuesioner tertutup dan margin of error 1,6 persen.
"Prabowo Subianto adalah antitesa dari gaya kepemimpinan SBY," kata Direktur Executive Vox Populi Survey, Hendrykus Sihaloho dalam pemaparan hasil surveinya di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu 12 Januari.
"Tapi yang terjadi, soliditas pengurus, kader Demokrat makin berkurang. Di dalam internal Demokrat justru saling menyerang, saling menyalahkan (elektabilitas atau pamor Demokrat terus menurun)," kata Siti Zuhro, saat dihubungi Sindonews, Senin 13 Januari 2014.
Menurutnya, kondisi internal Demokrat sangat kontras dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di mana saat mantan Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) terkena kasus, justru elite PKS beserta kadernya, berupaya menepis serangan dari lawan politiknya, akibat kasus tersebut.
"Hal ini berbeda dengan PKS yang mampu memberikan pelajaran politik bagi publik. Pasalnya, ketika (mantan) Presiden PKS terkena kasus, seluruh kader, seluruh elite dan pengurus PKS tetap solid dan mampu meredam serangan bertubi-tubi dari berbagai pihak," pungkasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, sudah seharusnya Demokrat bisa meredam konflik di internal, sehingga tidak menjadi konsumsi publik.
"Manajerial Demokrat tidak rapih, kenapa harus ada perang atau konflik, terutama antara
Anas dan SBY. Padahal PKS dan Demokrat sama-sama partai yang lahir di era reformasi. Tapi
PKS tetap solid, meski dibombardir," pungkasnya.
Sebelumnya, elektabilitas calon presiden (capres) yang mengikuti konvensi semi terbuka Partai Demokrat tak masuk lima besar dengan elektabilitas tidak lebih dari 10 persen, berdasarkan hasil dari survei Vox Populi Survey.
Dari hasil penelusuran mereka, dua peserta konvensi masuk nominasi yakni Dahlan Iskan dan Pramono Edhie Wibowo masing-masing memperoleh 7,3 persen dan 1,2 persen. Dengan hasil itu keduanya kalah dari Prabowo Subianto yang menduduki peringkat pertama dengan 33,1 persen, Megawati Soekarnoputri, Joko Widodo (Jokowi) dan Wiranto.
Survei tersebut diselenggarakan pada 9 hingga 23 Desember dengan jumlah sampel sebanyak 3.686 dari 402 kabupaten/kota dengan metode kuesioner tertutup dan margin of error 1,6 persen.
"Prabowo Subianto adalah antitesa dari gaya kepemimpinan SBY," kata Direktur Executive Vox Populi Survey, Hendrykus Sihaloho dalam pemaparan hasil surveinya di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu 12 Januari.
(maf)