Anas bukan penyebab pamor Demokrat meredup
Selasa, 14 Januari 2014 - 05:01 WIB
Anas bukan penyebab pamor Demokrat meredup
A
A
A
Sindonews.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menahan mantan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, di Rumah Tahanan (Rutan) KPK. Sejumlah pihak menilai, dengan ditahannya Anas, makin membuat Demokrat terpuruk.
Peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro mengatakan, harus dipahami apa saja yang memengaruhi turun naiknya elektabilitas (pamor) Demokrat.
"Kan sudah dibuktikan, ternyata elektabilitas Demokrat tetap saja turun, meski Anas sudah berhenti dari Ketua Umum Demokrat," kata Siti Zuhro, saat dihubungi Sindonews, Senin 13 Januari 2014, malam.
"Asumsinya bahwa, dengan diambil alihnya Demokrat oleh SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), citra maupun elektabilitas Demokrat tak memberikan pengaruh, justru makin turun. Terbukti dengan survei terbaru," imbuhnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, dari fenomena yang terjadi, ini membuktikan penyebab jatuhnya elektabilitas Demokrat bukan Anas yang menjadi penyebab.
"Berarti, runtuhnya elektabilitas Demokrat bukan karena faktor seseorang, bukan karena single fighter, melainkan karena pengaruh SBY, pengaruh pemerintahan yang dipimpin oleh SBY, menurun kinerjanya, dan itu berimbas pada Partai Demokrat," pungkasnya.
Sebelumnya, elektabilitas calon presiden (capres) yang mengikuti konvensi semi terbuka Partai Demokrat tak masuk lima besar dengan elektabilitas tidak lebih dari 10 persen, berdasarkan hasil dari survei Vox Populi Survey.
Dari hasil penelusuran mereka, dua peserta konvensi masuk nominasi yakni Dahlan Iskan dan Pramono Edhie Wibowo masing-masing memperoleh 7,3 persen dan 1,2 persen. Dengan hasil itu keduanya kalah dari Prabowo Subianto yang menduduki peringkat pertama dengan 33,1 persen, Megawati Soekarnoputri, Joko Widodo (Jokowi) dan Wiranto.
Survei tersebut diselenggarakan pada 9 hingga 23 Desember dengan jumlah sampel sebanyak 3.686 dari 402 kabupaten/kota dengan metode kuesioner tertutup dan margin of error sekira 1,6 persen.
"Prabowo Subianto adalah antitesa dari gaya kepemimpinan SBY," kata Direktur Executive Vox Populi Survey, Hendrykus Sihaloho dalam pemaparan hasil surveinya di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu 12 Januari.
Survei, elektabilitas Capres Demokrat di bawah 5 besar
Peneliti senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro mengatakan, harus dipahami apa saja yang memengaruhi turun naiknya elektabilitas (pamor) Demokrat.
"Kan sudah dibuktikan, ternyata elektabilitas Demokrat tetap saja turun, meski Anas sudah berhenti dari Ketua Umum Demokrat," kata Siti Zuhro, saat dihubungi Sindonews, Senin 13 Januari 2014, malam.
"Asumsinya bahwa, dengan diambil alihnya Demokrat oleh SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), citra maupun elektabilitas Demokrat tak memberikan pengaruh, justru makin turun. Terbukti dengan survei terbaru," imbuhnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, dari fenomena yang terjadi, ini membuktikan penyebab jatuhnya elektabilitas Demokrat bukan Anas yang menjadi penyebab.
"Berarti, runtuhnya elektabilitas Demokrat bukan karena faktor seseorang, bukan karena single fighter, melainkan karena pengaruh SBY, pengaruh pemerintahan yang dipimpin oleh SBY, menurun kinerjanya, dan itu berimbas pada Partai Demokrat," pungkasnya.
Sebelumnya, elektabilitas calon presiden (capres) yang mengikuti konvensi semi terbuka Partai Demokrat tak masuk lima besar dengan elektabilitas tidak lebih dari 10 persen, berdasarkan hasil dari survei Vox Populi Survey.
Dari hasil penelusuran mereka, dua peserta konvensi masuk nominasi yakni Dahlan Iskan dan Pramono Edhie Wibowo masing-masing memperoleh 7,3 persen dan 1,2 persen. Dengan hasil itu keduanya kalah dari Prabowo Subianto yang menduduki peringkat pertama dengan 33,1 persen, Megawati Soekarnoputri, Joko Widodo (Jokowi) dan Wiranto.
Survei tersebut diselenggarakan pada 9 hingga 23 Desember dengan jumlah sampel sebanyak 3.686 dari 402 kabupaten/kota dengan metode kuesioner tertutup dan margin of error sekira 1,6 persen.
"Prabowo Subianto adalah antitesa dari gaya kepemimpinan SBY," kata Direktur Executive Vox Populi Survey, Hendrykus Sihaloho dalam pemaparan hasil surveinya di Cikini, Jakarta Pusat, Minggu 12 Januari.
Survei, elektabilitas Capres Demokrat di bawah 5 besar
(maf)