Merasa terus disudutkan, Demokrat gerah
Jum'at, 06 Desember 2013 - 10:38 WIB
Merasa terus disudutkan, Demokrat gerah
A
A
A
Sindonews.com - Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf merasa partainya terus disudutkan oleh pemberitaan media sebagai partai terkorup.
Padahal, yang hendak dilakukan adalah memberantas korupsi bukan koruptor. Dia mengaku prihatin atas pemnberitaan, seolah seolah-olah Demokrat yang korup. Padahal, kasus lainnya banyak, namun selalu kasus yang membelit Demokrat selalu disorot.
"Kita percaya ini, kebebasan media sebagai pilar demokrasi. Jangan lupa yang memberikan kebebasan pers di era Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), yang benar-benar bebas free pers," katanya di sela pertemuan The Parliamentary Conference in The WTO (PCWTO) di Kuta, Bali, Kamis 5 Desember 2013.
Dia melanjutkan, semua pihak berharap agar keran kekebasan pers itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjaga demokrasi. "Kita hormati kebebasan pers, karena ada sebagian pers memojokkan terus Demokrat," terang Ketua Fraksi Demokrat DPR RI.
Padahal, sambung dia, Partai Demokrat ini ingin memberatas korupsi bukan koruptor. Kalangan media diharapkan, bisa memberikan keseimbangan dalam pemberitaan. Tidak hanya menyoroti kasus kasus Demokrat, namun juga menyoroti kasus kasus lain, yang memang di KPK dan kasus lainnya di negeri ini
"Kita terus mendukung penegakan hukum KPK, KPK itu yang mendukung Demokrat, bahwa kita yang mendukung, sediakan anggaran. jangan lupa itu Demokrat, yang memang 20 persen itu Demokrat," tegasnya lagi.
Disinggung soal elite partainya, Jero Wacik yang diduga tersangkut korupsi SKK Migas, Nurhayati menegaskan, biarkan saja proses hukum berjalan. Sampai saat ini Jero masih sebagai saksi dan banyak saksin lainnya yang dimintai keterangan.
"Yang lain sudah jadi tersangka, sudah jelas jelas tersangka, tidak diungkap artinya media sebagian tidak memberitakan," kritiknya.
Padahal, yang hendak dilakukan adalah memberantas korupsi bukan koruptor. Dia mengaku prihatin atas pemnberitaan, seolah seolah-olah Demokrat yang korup. Padahal, kasus lainnya banyak, namun selalu kasus yang membelit Demokrat selalu disorot.
"Kita percaya ini, kebebasan media sebagai pilar demokrasi. Jangan lupa yang memberikan kebebasan pers di era Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), yang benar-benar bebas free pers," katanya di sela pertemuan The Parliamentary Conference in The WTO (PCWTO) di Kuta, Bali, Kamis 5 Desember 2013.
Dia melanjutkan, semua pihak berharap agar keran kekebasan pers itu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menjaga demokrasi. "Kita hormati kebebasan pers, karena ada sebagian pers memojokkan terus Demokrat," terang Ketua Fraksi Demokrat DPR RI.
Padahal, sambung dia, Partai Demokrat ini ingin memberatas korupsi bukan koruptor. Kalangan media diharapkan, bisa memberikan keseimbangan dalam pemberitaan. Tidak hanya menyoroti kasus kasus Demokrat, namun juga menyoroti kasus kasus lain, yang memang di KPK dan kasus lainnya di negeri ini
"Kita terus mendukung penegakan hukum KPK, KPK itu yang mendukung Demokrat, bahwa kita yang mendukung, sediakan anggaran. jangan lupa itu Demokrat, yang memang 20 persen itu Demokrat," tegasnya lagi.
Disinggung soal elite partainya, Jero Wacik yang diduga tersangkut korupsi SKK Migas, Nurhayati menegaskan, biarkan saja proses hukum berjalan. Sampai saat ini Jero masih sebagai saksi dan banyak saksin lainnya yang dimintai keterangan.
"Yang lain sudah jadi tersangka, sudah jelas jelas tersangka, tidak diungkap artinya media sebagian tidak memberitakan," kritiknya.
(maf)