Kemenkes minta komitmen Pemda dukung sistem MTBS-M
Jum'at, 19 Juli 2013 - 14:21 WIB
Kemenkes minta komitmen Pemda dukung sistem MTBS-M
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta pemerintah Daerah (Pemda) di daerah terpencil, perbatasan, kepulauan berkomitmen melibatkan masyarakat dalam Manajemen Terpadu Bayi Muda dan Balita Sakit Berbasis Masyarakat (MTBS-M).
MTBS-M biasanya diberlakukan di daerah yang kesulitan mencari petugas kesehatan, letak demografi dan transportasi yang sulit dicapai. Program MTBS-M berfokus pada pemberdayaan masyarakat dalam perawatan bayi baru lahir, deteksi dini penyakit balita, pengobatan terbatasa kasus bayi muda dan balita sakit serta meningkatkan tujukan yang tepat waktu.
"Saat ini MTBS-M sudah diberlakukan seperti di Papua, Papua Barat, NTT, Kalimantan. Perekrutannya juga penuh dengan bimbingan petugas karena rata-rata para MTBS-M tidak dapat membaca," ujar Direktur Bina Kesehatan Anak Jane Soepardi saat ditemui di Kantor Kemenkes, Jumat (19/7/2013).
Dalam analisis situasi saat ini, 34 provinsi di Indonesia, 15 provinsi diantaranya angka kematian bayi di bawah umur lima tahun masih di atas rata-rata nasional yaitu 40 per 1000 kelahiran hidup. Yang terjadi di beberapa daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) 42 per 1000 kelahiran hidup dan 115/1000 per kelahiran hidup di Papua.
"Salah satu kabupaten tertingginya ialah Kabupaten Jaya Wijaya di Provinsi Papua yaitu 122 per 1000 kelahiran hidup," kata dia.
MTBS-M biasanya diberlakukan di daerah yang kesulitan mencari petugas kesehatan, letak demografi dan transportasi yang sulit dicapai. Program MTBS-M berfokus pada pemberdayaan masyarakat dalam perawatan bayi baru lahir, deteksi dini penyakit balita, pengobatan terbatasa kasus bayi muda dan balita sakit serta meningkatkan tujukan yang tepat waktu.
"Saat ini MTBS-M sudah diberlakukan seperti di Papua, Papua Barat, NTT, Kalimantan. Perekrutannya juga penuh dengan bimbingan petugas karena rata-rata para MTBS-M tidak dapat membaca," ujar Direktur Bina Kesehatan Anak Jane Soepardi saat ditemui di Kantor Kemenkes, Jumat (19/7/2013).
Dalam analisis situasi saat ini, 34 provinsi di Indonesia, 15 provinsi diantaranya angka kematian bayi di bawah umur lima tahun masih di atas rata-rata nasional yaitu 40 per 1000 kelahiran hidup. Yang terjadi di beberapa daerah seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) 42 per 1000 kelahiran hidup dan 115/1000 per kelahiran hidup di Papua.
"Salah satu kabupaten tertingginya ialah Kabupaten Jaya Wijaya di Provinsi Papua yaitu 122 per 1000 kelahiran hidup," kata dia.
(kri)