Peristiwa Mesir penistaan terhadap demokrasi

Jum'at, 12 Juli 2013 - 04:03 WIB
Peristiwa Mesir penistaan...
Peristiwa Mesir penistaan terhadap demokrasi
A A A
Sindonews.com - Kudeta militer di Mesir merupakan penistaan terhadap demokrasi. Bagi bangsa yang tengah mengalami transisi demokrasi seperti Indonesia, peristiwa yang terjadi di Mesir menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Hal itu dikatakan anggota Komisi Pertahanan, Infoermasi, dan Hubungan Luar Negeri, Budiyanto. Menurutnya, demokrasi ditegakkan atas dasar partisipasi masyarakat, bukan kekuatan senjata sebagaimana yang terjadi di Mesir, di mana militer dengan semena-mena mengkudeta pemerintahan yang dipilih secara demokratis.

“Demokrasi tidak bisa ditegakkan dengan bedil. Kalau dengan bedil namanya juncta militer bukan demokrasi,” kata Budiyanto,lewat rilisnya kepada Sindonews, Kamis (11/7/2013).

Menurut Budiyanto, peran militer dalam menjaga kelangsungan demokrasi sangat penting. Dalam negara demokrasi militer menjadi alat negara, bukan alat penguasa. Apalagi menjadi alat politik untuk kentingan kelompok tertentu.

“Jika militer melakukan pemihakan terhadap kekuatan politik tertentu, maka demokrasi akan menjadi tumbal,” terang Budiyanto.

Karena itu anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyatakan salut dengan profesinalisme militer di Indonesia dalam mengawal demokrasi. Militer di Indonesia tidak mau tergoda untuk terjun dalam dunia politik praktis, seperti masa lampau.

Sebelum era reformasi TNI memiliki doktrin dwi fungsi. Pertama menjaga keamanan dan ketertiban negara dan kedua memegang kekuasaan dan mengatur negara. Dengan peran ganda ini, militer diizinkan untuk memegang posisi di dalam pemerintahan.

“Kita bersyukur TNI kemudian melakukan reposisi, meninggalkan doktrin dwi fungsi, dan cukup menjadi alat negara saja,” kata master bidang nuklir lulusan Tokyo International University, Jepang ini.

Dengan begitu, imbuh Budiyanto, apa yang terjadi di Mesir tidak akan terjadi di Indonesia. Karena TNI akan menjaga stabilitas keamanan negara dari rongrongan berbagai pihak yang tidak bisa menerima kekalahan dalam berdemokrasi.

Lebih lanjut Budiyanto mengemukakan, apa yang terjadi di Mesir merupakan pelajaran demokrasi yang sangat buruk, bahkan tercela. Namun sayangnya para kampiun demokrasi, yang selama ini lantang berteriak pentingnya demokrasi, diam saja menyaksikan keduta di Mesir. Padahal kudeta di Mesir, lanjut Budiyanto, adalah kudeta atas nilai-nilai demokrasi.
(maf)
Berita Terkait
Gangguan Keamanan Jakarta...
Gangguan Keamanan Jakarta Paling Banyak Dilaporkan melalui Kanal Pemprov DKI
Antisipasi Gangguan...
Antisipasi Gangguan Keamanan, Blok Hunian Lapas Sidoarjo Digeledah
Cegah Gangguan Keamanan...
Cegah Gangguan Keamanan di Rutan, Petugas Geledah Kamar Napi
Deteksi Dini Penting...
Deteksi Dini Penting untuk Cegah Gangguan Keamanan dan Ketertiban
Jelang Nataru, Kapolsek...
Jelang Nataru, Kapolsek Jagakarsa Minta Masyarakat Waspadai Gangguan Keamanan
Polres Bandara Soetta...
Polres Bandara Soetta Antisipasi Gangguan Keamanan saat Pemilu 2024
Berita Terkini
Sangat Sulit bagi Kaesang...
Sangat Sulit bagi Kaesang Saingi Popularitas Puan Maharani di Dapil Jateng V
Kaesang Nyaleg di Dapil...
Kaesang Nyaleg di Dapil Puan: Ujian Pengaruh Jokowi di Kandang Banteng PDIP
Herti Sastra Munthe...
Herti Sastra Munthe Siap Terapkan Hasil Bimtek Perindo di Deli Serdang
Kawal Ketat APBD, Legislator...
Kawal Ketat APBD, Legislator Partai Perindo Lombok Barat Dapat Apresiasi dari Angela Tanoesoedibjo
PBNU Minta Jaksa Agung...
PBNU Minta Jaksa Agung Tak Kendur Berantas Korupsi meski Diterpa Kasus Jampidsus
Wabup Maluku Tengah...
Wabup Maluku Tengah Sebut Bimtek Perindo Jadi Ajang Konsolidasi Menuju Pemilu 2029
Infografis
Daftar Skuad Timnas...
Daftar Skuad Timnas Mesir di Piala Dunia 2026, Mohamed Salah Ujung Tombak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved