Roy Suryo: Nasib PKS seminggu lagi
Rabu, 19 Juni 2013 - 17:36 WIB
Roy Suryo: Nasib PKS seminggu lagi
A
A
A
Sindonews.com - Politikus Partai Demokrat sekaligus Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Roy Suryo enggan berkomentar lebih banyak tentang nasib Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di koalisi Partai pendukung Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono.
"Saya ikut saja. Saya kan tidak masuk di dalam Setgab (Sekretariat Gabungan)," ujar Roy usai acara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangka peningkatan kesadaran Berkonstitusi, di Mahkamah Konstitusi (MK), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2013).
Akan tetapi dia mengatakan, kemungkinan nasib PKS di koalisi akan diputuskan minggu depan. "Mungkin seminggu lagi," tutur Roy sambil tertawa dan langsung meninggalkan gedung MK bersama mobil dinasnya.
Sebhagaimana diketahui, PKS merupakan bagian dari partai koalisi pendukung pemerintahan SBY-Boediono. Namun dalam sikap politiknya, PKS kerap berlawanan dengan SBY-Boediono, terutama dalam kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. PKS telah dua kali menolak, pada tahun 2011 dan tahun ini.
Meski begitu SBY-Boediono tetap 'sayang' dengan PKS, dengan tetap mempertahankan partai pimpinan Anis Matta itu sebagai anggota partai koalisi pendukung pemerintahannya. Begitu juga sebaliknya, PKS yang kerap berlawanan dengan sikap pemerintah, hingga saat ini masih enggan untuk meninggalkan koalisi.
"Saya ikut saja. Saya kan tidak masuk di dalam Setgab (Sekretariat Gabungan)," ujar Roy usai acara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dalam rangka peningkatan kesadaran Berkonstitusi, di Mahkamah Konstitusi (MK), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2013).
Akan tetapi dia mengatakan, kemungkinan nasib PKS di koalisi akan diputuskan minggu depan. "Mungkin seminggu lagi," tutur Roy sambil tertawa dan langsung meninggalkan gedung MK bersama mobil dinasnya.
Sebhagaimana diketahui, PKS merupakan bagian dari partai koalisi pendukung pemerintahan SBY-Boediono. Namun dalam sikap politiknya, PKS kerap berlawanan dengan SBY-Boediono, terutama dalam kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. PKS telah dua kali menolak, pada tahun 2011 dan tahun ini.
Meski begitu SBY-Boediono tetap 'sayang' dengan PKS, dengan tetap mempertahankan partai pimpinan Anis Matta itu sebagai anggota partai koalisi pendukung pemerintahannya. Begitu juga sebaliknya, PKS yang kerap berlawanan dengan sikap pemerintah, hingga saat ini masih enggan untuk meninggalkan koalisi.
(lal)