Tak punya massa Nahdiyin, Yenny hanya jadi penggembira

Rabu, 10 April 2013 - 05:01 WIB
Tak punya massa Nahdiyin,...
Tak punya massa Nahdiyin, Yenny hanya jadi penggembira
A A A
Sindonews.com - Ketua Umum Partai Kedaulatan Bangsa Indonesia Baru (PKBIB) Zanuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid hampir pasti berlabuh Partai Demokrat. Hal itu diungkapkan oleh pihak Yenny maupun beberapa kader berlambang mercy ini.

Menurut Guru Besar Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) Profesor Iberamsjah, bergabungnya putri KH Abdurrahman Wahid (Gusdur) ini ke Partai Demokrat tidak akan terlalu banyak berarti mengangkat elektabilitas partai yang sudah terlanjur terpuruk.

"Saya kira tidak terlalu signifikan kehadiran Yenny Wahid bagi perbaikan citra Demokrat. Dia bukan tokoh legendaris, bukan tokoh kharismatik, bukan juga tokoh yang fenomenal. Kehadirannya cuma penggembira," ujarnya ketika dihubungi Sindonews, Selasa (9/4/2013) malam.

Yenny yang diketahui besar dalam keluarga berlatar belakang Nahdatul Ulama (NU) dianggap tak akan bisa menarik suara kaum Nahdiyin. Begitu juga para Gusdurian yang dikenal sebagai pengikut Gusdur, tak akan memalingkan hati ke Partai Demokrat meski Yenny nantinya bergabung.

"NU tidak akan terpengaruh Yenny Wahid. Emang dia siapa? Cuma anak Gusdur. Gusdurian saya kira tidak terpengaruh dengan kepindahan Yenny ke Demokrat. Para Nahdiyin itu sudah punya sikap sendiri, mereka susah digerakkan. Mereka bukan bertipe pragmatis begitu," paparnya.

Iberamsjah kembali menekankan, kehadiran Yenny Wahid di Partai Demokrat tidak akan berpengaruh besar. Meski memiliki pengikut, namun jumlahnya dianggap tak signifikan.

"Yenny Wahid enggak punya pengikut, enggak punya basis massa. Beda dengan Khofifah Indar Parawansa itu baru pemimpin kharismatik, kalau Yenny kan enggak sama sekali," tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Zannuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid dikabarkan merapat ke Partai Demokrat. Melalui juru bicaranya, Imron Rosyidi Hamid menuturkan, ada beberapa alasan mengapa Yenny memilih Partai Demokrat sebagai pelabuhan berikutnya.

Menurut Imron, seperti yang dituturkan Yenny, ada dua faktor yang membuat Yenny merapat ke Partai Demokrat. Pertama, rasa kebhinekaan yang kuat antara dirinya dengan partai yang dipimpin SBY itu. "Yang penting ada keinginan bersama untuk kebhinekaan yang kuat di Partai Demokrat," kata Imron saat dihubungi Sindonews, Sabtu 6 April 2013, malam.

Alasan kedua, kata Imron, Yenny merasakan ada semangat untuk menjamin persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) melalui partai berlambang bintang mercy itu. "Kemudian menjamin NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), itu pakem utama kita mengapa Mbak Yenny merapat ke Demokrat," jelasnya.
(kri)
Berita Terkait
Tolak KLB Sibolangit,...
Tolak KLB Sibolangit, Demokrat Sumut Tetap Loyal Pada AHY
Pesan Moeldoko ke AHY:...
Pesan Moeldoko ke AHY: Jadi Pemipin Harus Kuat, Jangan Baperan
Makin Panas, Moeldoko...
Makin Panas, Moeldoko Disebut Bagi-bagi Uang dan Ponsel saat KLB Demokrat di Deli Serdang
Kader Muda Demokrat...
Kader Muda Demokrat Dukung KLB Partai Demokrat
Penyerahan Surat Rekomendasi...
Penyerahan Surat Rekomendasi Partai Demokrat untuk Pilkada 2024
Partai Demokrat Keluarkan...
Partai Demokrat Keluarkan 60 Rekomendasi Pilkada 2024, Ada Marshel Widianto dan Gilang Dirga
Berita Terkini
Kasus Muara Enim, Eks...
Kasus Muara Enim, Eks Penyidik KPK: WTP Penting Bagi Pemda, Malah Jadi Ajang Negosiasi
Peduli Lingkungan, Aliansi...
Peduli Lingkungan, Aliansi Lintas Agama-Kementerian LH Serukan Tobat Ekologis Nasional
Diseminasi Eksaminasi...
Diseminasi Eksaminasi Ungkap Dugaan Kekeliruan Penegakan Hukum dalam Kasus Eks Dirut Indofarma
Mahasiswa Soroti Pemborosan...
Mahasiswa Soroti Pemborosan APBN, Qodari: Prabowo Berhasil Hemat Rp300 Triliun
Polri Gelar Nobar Piala...
Polri Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Pakar Hukum: Mendekatkan Polisi dengan Masyarakat
Ditahan KPK, Asrul Azis...
Ditahan KPK, Asrul Azis Tersangka Baru Kasus Kuota Haji Ajukan Praperadilan ke PN Jaksel
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved