KPU menolak dianggap melawan hukum

Selasa, 26 Maret 2013 - 11:29 WIB
KPU menolak dianggap...
KPU menolak dianggap melawan hukum
A A A
Sindonews.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) memiliki alasan mengapa pihaknya tidak menjalankan hasil putusan sidang ajudikasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) soal kepesertaan partai politik pada Pemilu 2014.

Alasan mengapa sikap KPU keukeh tak melaksanakan putusan Bawaslu adalah karena masih menunggu putusan sidang gugatan di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN)

Komisioner KPU, Ida Budhiati mengatakan, pihaknya menunggu hasil sidang gugatan di PT TUN karena sangat penting agar mendapatkan kepastian hukum.

Maka, pihaknya menolak laporan Bawaslu yang menganggap KPU melawan hukum dengan tidak menindaklanjuti putusan ajudikasi yang merekomendasikan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) menjadi peserta Pemilu 2014.

"Bahwa apa yang disampaikan pengadu dalam hal ini teradu menyampaikan tidak melakukan perlawanan hukum, karena menunggu keputusan hukum di PTTUN," tegas Ida dalam persidangan di PT TUN, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (26/3/2013).

Ida meminta agar DKPP menilai langkah KPU yang menunggu kepastian hasil dari PT TUN sebagai sikap tertib hukum bukan melawan perundang-undangan.

"Hendaknya dipandang sebagai langkah tertib hukum, lebih dari itu KPU juga telah menetapkan PKPI sebagai peserta Pemilu," terangnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Ketua dan anggota KPU diadukan ke DKPP oleh Amelia A Yani, Rouchin dan Joller Sitorus (PPRN), Bachtiar (PPPI), Sonny Pudjisasono (Partai Buruh), Marwah Daud Ibrahim (Partai Republik), HM Tauhid dan H Marlis (Partai Hanura), Refly Harun dan Ahmad Irwan (Correct), serta Ketua dan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dengan laporan dugaan pelanggaran kode etik penyelenggara Pemilu.

KPU disangka melanggar kode etik penyelenggara Pemilu terkait: (1) Penolakan melaksanakan keputusan Bawaslu No 012/SP2/Set.Bawaslu/I/2013; (2) Menghilangkan hak politik dan konstitusional warga negara dalam Parpol; (3) Bertindak tidak profesional, transparan, dan akuntabel, menggunakan kewenangan tidak berdasar hukum, dan tidak melaksanakan administrasi Pemilu akurat; dan (4) menerbitkan Keputusan KPU No 95 Tahun 2013 yang dinilai merugikan kepentingan politik di Sumatera Barat.
(lns)
Berita Terkait
Material Longsor Putus...
Material Longsor Putus Akses Jalan Kota Palopo-Toraja
Jalur Medan-Berastagi...
Jalur Medan-Berastagi Longsor, Lalu Lintas Lumpuh Total Tewaskan Satu Orang
Galian Tambang di KBB...
Galian Tambang di KBB Longsor, Tiga Kendaraan Tertimpa
Akses Jalan Poros Sinjai-Malino...
Akses Jalan Poros Sinjai-Malino Sempat Putus Diterjang Longsor
Hidup Menumpang, Korban...
Hidup Menumpang, Korban Longsor Palopo Butuh Bantuan Pemerintah
Ojek Pikul di Lokasi...
Ojek Pikul di Lokasi Longsor Palopo Angkut Karung Beras hingga Motor
Berita Terkini
Apresiasi Pelaksanaan...
Apresiasi Pelaksanaan PTT BSPS di Bandung, Mendagri: Tender Rakyat Perkuat Transparansi
Mantan Ketua MK Sebut...
Mantan Ketua MK Sebut Kondisi Indonesia Suram: Hukum Sangat Tajam ke Bawah, tapi Tumpul ke Atas
Dugaan Keterkaitan Eks...
Dugaan Keterkaitan Eks Jampidsus dengan Sejumlah Kasus Korupsi Disorot
Febrie Adriansyah Belum...
Febrie Adriansyah Belum Putuskan Ajukan Praperadilan
Perhitungan Kerugian...
Perhitungan Kerugian Negara Dipertanyakan, Pengamat Dorong Reformasi Audit BPKP
Wamendagri: Indonesia...
Wamendagri: Indonesia Punya Satu Kesempatan Manfaatkan Bonus Demografi Menuju Negara Maju
Infografis
Waspada 8 Gejala Awal...
Waspada 8 Gejala Awal Hipertensi, Jangan Dianggap Sepele
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved