SBY jangan sampai terpojok karena isu kudeta

Sabtu, 23 Maret 2013 - 14:02 WIB
SBY jangan sampai terpojok...
SBY jangan sampai terpojok karena isu kudeta
A A A
Sindonews.com - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai terlalu panik dalam menanggapi isu gerakan penggulingan atau kudeta yang bakal dilakukan pada 25 Maret 2013.

Hal itu dikatakan oleh pengamat politik Universitas Indonesia (UI) Bambang Shergi Laksmono. Dia menilai, dengan karakter psikologis Presiden SBY yang seperti itu, ia mengusulkan agar komunikasi politik kepresidenan harus tangkas.

"Jangan sampai dimainkan media, memojokkan Presiden, ini tantangan komunikasi kepresidenan harus taktis," ujarnya saat dihubungi wartawan, Sabtu (23/03/2013).

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP UI) ini menjelaskan, namun SBY tetap harus meningkatkan kewaspadaan politik dan merupakan elemen pokok dari sebuah kepemimpinan.

Tetapi, Bambang menambahkan, bahwa ketajaman informasi intelijen tentu dibutuhkan dengan cepat untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan.

"Tentu intelejen bekerja berikan informasi berikan kesiapan-kesiapan terhadap kemungkinan, kerawanan yang mungkin terjadi. Saya kira ini peran negara untuk memberikan ketenangan terhadap publik, bahwa situasi yang berkembang sebagai dinamika politik, itu bisa dikendalikan, negara harus berikan keyakinan kepada publik," tukasnya.

Seperti diketahui, belakangan ini kabar santer menyebutkan bahwa akan ada aksi menggulingkan Pemerintah SBY-Boediono oleh sejumlah aktivis yang tergabung dalam Majelis Kedaulatan Rakyat Indonesia (MKRI).

MKRI ini berencana akan menggelar aksi massa pada 25 Maret mendatang. Sebelumnya, MKRI melayangkan ultimatum pada Presiden SBY pada 20 Februari 2013 dengan batas waktu hingga 24 Maret 2013 mendatang agar melakukan nasionalisasi migas dan tambang, memprioritaskan penuntasan kasus korupsi besar seperti skandal bailout Century, BLBI, Hambalang, dan kasus lawas IT KPU.

Selain itu, MKRI juga menuntut pemerintah menghentikan liberalisasi impor, menurunkan harga bahan pokok, dan menghentikan segala bentuk kekerasan serta pelanggaran HAM. Sejumlah aktivis yang tergabung dalam MKRI ini diantaranya adalah Fuad Bawazier, Adhie Massardi, Boni Hargens, dan Ratna Sarumpaet.
(maf)
Berita Terkait
Berkah Kembalinya Benzema...
Berkah Kembalinya Benzema ke Timnas Prancis
Karim Benzema Putuskan...
Karim Benzema Putuskan Pensiun dari Timnas Prancis
Unjuk Keakraban, Giroud...
Unjuk Keakraban, Giroud Ajak Benzema Balapan Gokart Jika Prancis Juara Piala Eropa 2020
Takluk dari Finlandia,...
Takluk dari Finlandia, Griezmann Harap Timnas Prancis Lebih Kejam
Prancis Terpuruk di...
Prancis Terpuruk di UEFA Nations League 2022/2023, Kapten Les Bleus: Mengecewakan!
Jelang Prancis vs Australia:...
Jelang Prancis vs Australia: Les Bleus Enggan Remehkan Lawan
Berita Terkini
Kabar Duka, Mantan Dubes...
Kabar Duka, Mantan Dubes Prof Bachtiar Aly Meninggal Dunia
Prabowo, Jokowi, SBY...
Prabowo, Jokowi, SBY Kompak Hadiri Pernikahan Putra Boy Thohir
Hasto Singgung Febrie...
Hasto Singgung Febrie Tak Diborgol: Peringatkan Bahaya Ketidakadilan Hukum
Hari Mangrove Sedunia,...
Hari Mangrove Sedunia, Pemerintah dan APHI Dorong Pengelolaan Berkelanjutan
Prabowo Bentuk 7 Kejari...
Prabowo Bentuk 7 Kejari Baru Lewat Perpres 40 Tahun 2026, Raja Ampat hingga Pangandaran Masuk Daftar
Indonesia Dorong Dewan...
Indonesia Dorong Dewan Keamanan PBB Perkuat Pencegahan Konflik-ASEAN dan Jadi Mitra Perdamaian
Infografis
15 Perang yang Melibatkan...
15 Perang yang Melibatkan Tentara AS, Pernah Kalah karena 60.000 Pasukan Tewas Sia-sia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved