Susah dihapuskan, Daming tetap buruk di mata publik
Rabu, 16 Januari 2013 - 09:33 WIB
Susah dihapuskan, Daming tetap buruk di mata publik
A
A
A
Sindonews.com - Nasi sudah menjadi bubur, begitulah ungkapan yang sudah dikeluarkan oleh calon hakim agung Muhammad Daming Sunusi terkait 'masih pikir-pikir untuk menghukum mati pelaku pemerkosaan. Karena, keduanya sama-sama menikmati'. Kini akibat dari ucapan itu, Daming mendapatkan kritikan keras dari kalangan masyarakat.
Meskipun Daming sudah meminta maaf kepada masyarakat, tapi titel yang dicanangnya itu sulit untuk dihilangkan di mata publik. komunikasi Daming itu bersifat irreversible atau tidak dapat ditarik kembali, terutama kaitannya dengan dampak komunikasi. Ditambah Daming merupakan pejabat publik, dimana ucapannya selalu menjadi sorotan di mata masyarakat.
"Apa yang disampaikan seseorang (komunikator) ke publik apalagi oleh seorang pejabat publik akan memberikan dampak yang kuat, baik atau buruk, betapapun ia berusaha untuk menghapus dampak tersebut," kata Pengamat Komunilasi Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Iding R Hasan kepada Sindonews, Rabu (16/1/2013).
Menurutnya, secara komunikasi apa yang sudah dikeluarkannya itu sudah tidak bisa ditarik lagi. Karena, itu terlontar di hadapan wakil rakyat dan media massa. Meskipun hal tersebut hanya sekedar bercandaan.
"Ya karena itu secara tidak langsung menunjukkan alam bawah sadarnya yang memang tidak peka. Selain itu, dari sisi komunikasi sangat fatal, karena komunikasi bersifat irreversible. Terlepas dari canda atau tida dampak komunikasi itu irreversible atau tidak dapat ditarik kembali," katanya.
Maka itu, dia mengatakan, meski Daming berusaha untuk menghilangkan dampak tersebut, dengan cara meminta maaf itu tidak akan menghapus ucapannya itu. Hal tersebut tidak akan menghapuskan ucapannya itu di mata masyarakat.
"Dengan mengungkapkan permohonan maaf seraya menitikkan air mata, namun citra yang telah disematkan padanya oleh publik seperti digambarkan di atas, akibat perilaku komunikasinya itu jelas sulit dihilangkan. Ia sudah terlanjur menancap kuat di benak publik," tandasnya.
Meskipun Daming sudah meminta maaf kepada masyarakat, tapi titel yang dicanangnya itu sulit untuk dihilangkan di mata publik. komunikasi Daming itu bersifat irreversible atau tidak dapat ditarik kembali, terutama kaitannya dengan dampak komunikasi. Ditambah Daming merupakan pejabat publik, dimana ucapannya selalu menjadi sorotan di mata masyarakat.
"Apa yang disampaikan seseorang (komunikator) ke publik apalagi oleh seorang pejabat publik akan memberikan dampak yang kuat, baik atau buruk, betapapun ia berusaha untuk menghapus dampak tersebut," kata Pengamat Komunilasi Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Iding R Hasan kepada Sindonews, Rabu (16/1/2013).
Menurutnya, secara komunikasi apa yang sudah dikeluarkannya itu sudah tidak bisa ditarik lagi. Karena, itu terlontar di hadapan wakil rakyat dan media massa. Meskipun hal tersebut hanya sekedar bercandaan.
"Ya karena itu secara tidak langsung menunjukkan alam bawah sadarnya yang memang tidak peka. Selain itu, dari sisi komunikasi sangat fatal, karena komunikasi bersifat irreversible. Terlepas dari canda atau tida dampak komunikasi itu irreversible atau tidak dapat ditarik kembali," katanya.
Maka itu, dia mengatakan, meski Daming berusaha untuk menghilangkan dampak tersebut, dengan cara meminta maaf itu tidak akan menghapus ucapannya itu. Hal tersebut tidak akan menghapuskan ucapannya itu di mata masyarakat.
"Dengan mengungkapkan permohonan maaf seraya menitikkan air mata, namun citra yang telah disematkan padanya oleh publik seperti digambarkan di atas, akibat perilaku komunikasinya itu jelas sulit dihilangkan. Ia sudah terlanjur menancap kuat di benak publik," tandasnya.
(mhd)