Partai dibuat untuk cari makan
Sabtu, 29 Desember 2012 - 08:00 WIB
Partai dibuat untuk cari makan
A
A
A
Sindonews.com - Kasus korupsi yang menimpa banyak kader partai politik (Parpol) dianggap merupakan sebuah penyakit lama yang belum bisa diobati.
Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Zulfikar Ghazali mengatakan, hal itu merupakan permasalahan klasik yang sering terjadi setiap tahun. Menurutnya, diwajarkan, karena dalam kacamatanya, parpol yang ada saat ini hanya digunakan untuk mencari makan para kadernya.
"Partai yang ada saat ini dibuat hanya untuk cari makan, enggak ada keseriusannya untuk memperjuangkan apa yang menjadi tuntutan masyarakat," jelas Zulfikar kepada Sindonews, Sabtu (29/12/2012).
Dia mengira, ada peran negara yang lemah sehingga praktik korupsi yang dilakukan elite ini terus berkembang, mengakar dan membudaya secara turun temurun.
"Negara lemah, padahal ada hukum tapi enggak jalan, ini sungguh sebuah ironi yang akut," tegasnya.
Menurut Zukfikar, Hal itu diperparah dengan kasus tersebut yang tidak dipersoalkan. Padahal, lanjutnya, sudah sangat jelas jika memang partai melakukan praktik tersebut dalam rangka pencarian dana setiap menjelang pemilihan umum (Pemilu) berlangsung.
"Ya jelas praktik itu masih terus akan berjalan, wong dana partai enggak ada. Kalaupun ada iuran kaderpun kebanyakan enggak jalan dan kecil nominalnya," jelasnya.
Dia menyarankan, seharusnya para pejabat teras partai mengambil langkah tegas kepada kader yang bermasalah dan melakukan tindakan melawan hukum. Dengan begitu, mesin partai akan tetap optimal dan masyarakat akan melihat itu sebagai nilai positif.
"Para petinggi harus melek mata, suruh keluar yang bermasalah, jangan malah didiamkan," tegasnya.
Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI) Zulfikar Ghazali mengatakan, hal itu merupakan permasalahan klasik yang sering terjadi setiap tahun. Menurutnya, diwajarkan, karena dalam kacamatanya, parpol yang ada saat ini hanya digunakan untuk mencari makan para kadernya.
"Partai yang ada saat ini dibuat hanya untuk cari makan, enggak ada keseriusannya untuk memperjuangkan apa yang menjadi tuntutan masyarakat," jelas Zulfikar kepada Sindonews, Sabtu (29/12/2012).
Dia mengira, ada peran negara yang lemah sehingga praktik korupsi yang dilakukan elite ini terus berkembang, mengakar dan membudaya secara turun temurun.
"Negara lemah, padahal ada hukum tapi enggak jalan, ini sungguh sebuah ironi yang akut," tegasnya.
Menurut Zukfikar, Hal itu diperparah dengan kasus tersebut yang tidak dipersoalkan. Padahal, lanjutnya, sudah sangat jelas jika memang partai melakukan praktik tersebut dalam rangka pencarian dana setiap menjelang pemilihan umum (Pemilu) berlangsung.
"Ya jelas praktik itu masih terus akan berjalan, wong dana partai enggak ada. Kalaupun ada iuran kaderpun kebanyakan enggak jalan dan kecil nominalnya," jelasnya.
Dia menyarankan, seharusnya para pejabat teras partai mengambil langkah tegas kepada kader yang bermasalah dan melakukan tindakan melawan hukum. Dengan begitu, mesin partai akan tetap optimal dan masyarakat akan melihat itu sebagai nilai positif.
"Para petinggi harus melek mata, suruh keluar yang bermasalah, jangan malah didiamkan," tegasnya.
(rsa)