Pelanggaran HAM berat hilang, konflik sosial marak
Rabu, 26 Desember 2012 - 16:23 WIB
Pelanggaran HAM berat hilang, konflik sosial marak
A
A
A
Sindonews.com - Perkembangan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) sejak zaman reformasi ini dinilai cukup baik. Namun, konflik horisontal antar warga semakin marak.
"Dalam penegakan HAM ada dua perkembangan baik negatif atau positif," ujar Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dalam refleksi dan evaluasi penegakan hukum dan HAM 2012 di kantor DPP PPP Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (26/12/2012).
Perkembangan positifnya, sambung Mahfud, sejak reformasi di Indonesia tidak ada lagi pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya. "Baik itu secara sturktur maupun sistematis," kata dia.
Namun di sisi lainnya, masih terdapat perkembangan negatif yang kini marak terjadi di lingkungan masyarakat yakni bentrok horisontal dari suatu kelompok terhadap kelompok yang lain.
Selain itu, kemunduran penegakan HaM lainnya adalah munculnya intoleransi terhadap kelompok minoritas. Menurutnya kasus-kasus seperti ini harus segera dicarikan solusinya. "Seperti pengusiran terhadap kelompok Syiah, penyerangan terhadap Ahmadiyah," tukasnya.
Saat dirinya menjadi keynot speaker di Australia, 25 november 2012 lalu, yang menjadi sorotan di sana adalah pluralisme dan munculnya intolerasi.
Namun menurut Mahfud, kasus itu sangat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai 245 jiwa akhir 2012 ini.
"Saya katakan pada mereka (di Australia), itu kasus-kasus kecil, berapa sih dibanding dari jumlah penduduk," pungkasnya.
"Dalam penegakan HAM ada dua perkembangan baik negatif atau positif," ujar Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dalam refleksi dan evaluasi penegakan hukum dan HAM 2012 di kantor DPP PPP Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Rabu (26/12/2012).
Perkembangan positifnya, sambung Mahfud, sejak reformasi di Indonesia tidak ada lagi pelanggaran HAM berat yang dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya. "Baik itu secara sturktur maupun sistematis," kata dia.
Namun di sisi lainnya, masih terdapat perkembangan negatif yang kini marak terjadi di lingkungan masyarakat yakni bentrok horisontal dari suatu kelompok terhadap kelompok yang lain.
Selain itu, kemunduran penegakan HaM lainnya adalah munculnya intoleransi terhadap kelompok minoritas. Menurutnya kasus-kasus seperti ini harus segera dicarikan solusinya. "Seperti pengusiran terhadap kelompok Syiah, penyerangan terhadap Ahmadiyah," tukasnya.
Saat dirinya menjadi keynot speaker di Australia, 25 november 2012 lalu, yang menjadi sorotan di sana adalah pluralisme dan munculnya intolerasi.
Namun menurut Mahfud, kasus itu sangat kecil dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sudah mencapai 245 jiwa akhir 2012 ini.
"Saya katakan pada mereka (di Australia), itu kasus-kasus kecil, berapa sih dibanding dari jumlah penduduk," pungkasnya.
(lns)