Inilah faktor penyebab sulitnya penanganan bencana
Kamis, 20 Desember 2012 - 14:15 WIB
Inilah faktor penyebab sulitnya penanganan bencana
A
A
A
Sindonews.com - Selain peran serta pemerintah daerah (Pemda) dan masyarakat yang belum siap dalam menghadapi bencana, ada beberapa faktor lain yang menghambat penanganan dan penanggulanan bencana di Indonesia.
Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, pertama ialah terbatasnya sumber daya manusia yang baik secara kualitas dan kuantitas. Kedua menurut dia, 399 Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) yang sudah terbentuk di berbagai daerah tak memiliki kantor
"Ya, SDM terbatas, dan 399 BPBD yang sudah terbentuk kebanyakan belum punya kantor. Sehingga kesulitan untuk melakukan koordinasi dan melakukan langkah cepat. " jelas Sutopo dalam siaran pers di Kantor BNPB, Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (20/12/2012).
Yang ketiga menurutnya ialah, BPBD di daerah sebagian besar juga belum memiliki pusat pengendali operasi yang bekerja setiap harinya.
"Keempat logistik dan peralatan yang masih terbatas," tukasnya.
Kelima, Sutopo menjelaskan, politik lokal dan minimnya dukungan legislatif juga menjadi salah satu kendala dalam menangani dan menanggulangi becana.
"Bahkan, gampang di mutasi Bapak BPBD itu. Pernah saya telepon kepala BPBD tapi orangnya sudah pensiun," terangnya.
Faktor lain ialah luasnya cakupan wilayah yang rawan bencana Indonesia dengan keterbatasan akses. Terakhir adalah masih banyaknya masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, kemiskinan, terbatasnya pendidikan mengenai bencana dan sistem peringatan dini.
Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, pertama ialah terbatasnya sumber daya manusia yang baik secara kualitas dan kuantitas. Kedua menurut dia, 399 Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) yang sudah terbentuk di berbagai daerah tak memiliki kantor
"Ya, SDM terbatas, dan 399 BPBD yang sudah terbentuk kebanyakan belum punya kantor. Sehingga kesulitan untuk melakukan koordinasi dan melakukan langkah cepat. " jelas Sutopo dalam siaran pers di Kantor BNPB, Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (20/12/2012).
Yang ketiga menurutnya ialah, BPBD di daerah sebagian besar juga belum memiliki pusat pengendali operasi yang bekerja setiap harinya.
"Keempat logistik dan peralatan yang masih terbatas," tukasnya.
Kelima, Sutopo menjelaskan, politik lokal dan minimnya dukungan legislatif juga menjadi salah satu kendala dalam menangani dan menanggulangi becana.
"Bahkan, gampang di mutasi Bapak BPBD itu. Pernah saya telepon kepala BPBD tapi orangnya sudah pensiun," terangnya.
Faktor lain ialah luasnya cakupan wilayah yang rawan bencana Indonesia dengan keterbatasan akses. Terakhir adalah masih banyaknya masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana, kemiskinan, terbatasnya pendidikan mengenai bencana dan sistem peringatan dini.
(rsa)