487 nyawa melayang karena bencana di 2012
Kamis, 20 Desember 2012 - 10:45 WIB
487 nyawa melayang karena bencana di 2012
A
A
A
Sindonews.com - Sebanyak 487 jiwa meninggal akibat bencana di sepanjang tahun 2012, data tersebut berdasarkan hasil evaluasi penanggulangan bencana dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, selain jumlah meninggal, BNPB juga mencatat 675.798 jiwa mengungsi dan menderita karena bencana.
"675.798 orang mengungsi atau menderita, dan 33.847 rumah rusak dengan rincian 7.891 rusak berat, 4.587 rusak sedang sisanya rusak ringan," kata Sutopo dalam siaran pers di Kantor BNPB, Jalan Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (20/12/2012).
Dia menjelaskan, 80 persen bencana di Indonesia akibat bencana hidrometeorologi atau bencana akibat perubahan iklim, seperti banjir, longsor, kekeringan, serta puting beliung. Dengan persentase tersebut, BNPB mencatat ada peningkatan bencana akibat hal tersebut.
"Dibandingkan dengan rata-rata bencana hidrometeorologi selama 2002 hingga 2011 yaitu sekitar 80 persen, maka bencana hidrometeorologi mengalami peningkatan," ucapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, dengan jumlah tersebut bencana puting beliung menduduki peringkat pertama.
"Dari kejadian sepanjang 2012, puting beliung tertinggi dengan 259 atau 36 persen kejadian di Indonesia, lalu banjir dengan 193 bencana dan tanah longsor 138 kejadian," imbuhnya.
BNPB juga mencatat, pada Januari 2012 menjadi puncak kejadian bencana di tanah air, lalu setelah bulan tersebut jumlah bencana menurun dan kembali meningkat pada periode Maret hingga April.
"Berdasarkan waktu kejadian, Januari adalah puncak kejadian, karena di sini puncak musim hujan, kemudan menurun pada Februari, tetapi Maret hingga April terjadi kenaikan lagi," pungkasnya.
Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, selain jumlah meninggal, BNPB juga mencatat 675.798 jiwa mengungsi dan menderita karena bencana.
"675.798 orang mengungsi atau menderita, dan 33.847 rumah rusak dengan rincian 7.891 rusak berat, 4.587 rusak sedang sisanya rusak ringan," kata Sutopo dalam siaran pers di Kantor BNPB, Jalan Juanda, Jakarta Pusat, Kamis (20/12/2012).
Dia menjelaskan, 80 persen bencana di Indonesia akibat bencana hidrometeorologi atau bencana akibat perubahan iklim, seperti banjir, longsor, kekeringan, serta puting beliung. Dengan persentase tersebut, BNPB mencatat ada peningkatan bencana akibat hal tersebut.
"Dibandingkan dengan rata-rata bencana hidrometeorologi selama 2002 hingga 2011 yaitu sekitar 80 persen, maka bencana hidrometeorologi mengalami peningkatan," ucapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, dengan jumlah tersebut bencana puting beliung menduduki peringkat pertama.
"Dari kejadian sepanjang 2012, puting beliung tertinggi dengan 259 atau 36 persen kejadian di Indonesia, lalu banjir dengan 193 bencana dan tanah longsor 138 kejadian," imbuhnya.
BNPB juga mencatat, pada Januari 2012 menjadi puncak kejadian bencana di tanah air, lalu setelah bulan tersebut jumlah bencana menurun dan kembali meningkat pada periode Maret hingga April.
"Berdasarkan waktu kejadian, Januari adalah puncak kejadian, karena di sini puncak musim hujan, kemudan menurun pada Februari, tetapi Maret hingga April terjadi kenaikan lagi," pungkasnya.
(maf)