Rasa curiga picu diskriminasi di Indonesia
Rabu, 19 Desember 2012 - 12:06 WIB
Rasa curiga picu diskriminasi di Indonesia
A
A
A
Sindonews.com - Peneliti dari Centre for Startegic and International Studies (CSIS), Philip J Vermonte mengungkapkan, kecurigaan menjadi faktor utama terjadinya diskriminasi di Indonesia.
Philip mencontohkan ketika dibangunnya satu rumah ibadah namun banyak pertentangan dari masyarakat yang berbeda agama. Menurutnya terjadinya fenomena tersebut karena faktor kecurigaan.
"Jadi gini, misal ada satu wilayah akan dibangun rumah ibadah yang notabene berbeda dengan agama penduduknya, 68 persen dari mereka menolak karena mereka curiga menyebarkan agama dari rumah ibadah itu," ucap Philip dalam diskusi bertemakan Negara, Agama, dan Problem Perlindungan Hak-hak Minoritas di Kantor Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah DKI Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2012).
Dia menambahkan, dalam penelitian tersebut tidak ada faktor lain yang membuat masyarakat akhirnya menolak pembangunan rumah ibadah dalam satu agama berbeda.
"Jadi saya tanya apakah mereka takut terganggu, atau takut macet jika ada rumah ibadah. Tapi ternyata tidak, jadi mereka lebih kepada khawatir dan curiga dengan adanya rumah ibadah tersebut," ucapnya.
Lebih lanjut dia menyarankan, agar masyarakat Indonesia dapat bisa menerima dengan baik terkait dengan pembangunan rumah ibadah.
"Sehingga tidak terjadi konflik karena permasalahan tersebut," pungkasnya.
Philip mencontohkan ketika dibangunnya satu rumah ibadah namun banyak pertentangan dari masyarakat yang berbeda agama. Menurutnya terjadinya fenomena tersebut karena faktor kecurigaan.
"Jadi gini, misal ada satu wilayah akan dibangun rumah ibadah yang notabene berbeda dengan agama penduduknya, 68 persen dari mereka menolak karena mereka curiga menyebarkan agama dari rumah ibadah itu," ucap Philip dalam diskusi bertemakan Negara, Agama, dan Problem Perlindungan Hak-hak Minoritas di Kantor Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah DKI Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2012).
Dia menambahkan, dalam penelitian tersebut tidak ada faktor lain yang membuat masyarakat akhirnya menolak pembangunan rumah ibadah dalam satu agama berbeda.
"Jadi saya tanya apakah mereka takut terganggu, atau takut macet jika ada rumah ibadah. Tapi ternyata tidak, jadi mereka lebih kepada khawatir dan curiga dengan adanya rumah ibadah tersebut," ucapnya.
Lebih lanjut dia menyarankan, agar masyarakat Indonesia dapat bisa menerima dengan baik terkait dengan pembangunan rumah ibadah.
"Sehingga tidak terjadi konflik karena permasalahan tersebut," pungkasnya.
(maf)