NU & Muhammadiyah diharapkan melindungi kaum minoritas
Rabu, 19 Desember 2012 - 11:42 WIB
NU & Muhammadiyah diharapkan melindungi kaum minoritas
A
A
A
Sindonews.com - Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nadhlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah diharapkan mampu memberikan perlindungan kepada kelompok minoritas yang selama ini mengalami diskriminasi.
"NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi moderat Islam di Indonesia yang diharapkan mampu memberikan perlindungan terhadap kelompok atau kaum minoritas yang ada di Indonesia," kata peneliti Maarif Institute Ahmad Fuad Fanani, dalam diskusi Negara, Agama, dan Problem Perlindungan Hak-hak Minoritas, di Kantor Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2012).
Menurut Fuad, selama ini kedua organisasi tersebut dinilai mendiamkan dan hanya memberikan jawaban yang normatif sehingga tidak menemukan jalan keluar bagi kaum minoritas.
"Mereka terkesan banyak bermain aman dan ambigu dalam menentukan sikapnya. Bahkan, di daerah tertentu beberapa aktivis ormas ini juga terlibat dalam tindakan diskriminasi terhadap minoritas," ucapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, dengan tidak berperannya kedua organisasi tersebut. Dia sangat menyayangkan, sehingga membuat kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia tidak berjalan.
"Inilah yang membuat wajah kebebasan beragama dan berkeyakinan serta perlindungan hak-hak minoritas di Indonesia semakin suram. Contohnya bahwa ada orang-orang dari organisasi tersebut yang ikut melakukan diskriminasi terhadap komunitas kaum Syi'ah di Sampang, Madura," pungkasnya.
"NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi moderat Islam di Indonesia yang diharapkan mampu memberikan perlindungan terhadap kelompok atau kaum minoritas yang ada di Indonesia," kata peneliti Maarif Institute Ahmad Fuad Fanani, dalam diskusi Negara, Agama, dan Problem Perlindungan Hak-hak Minoritas, di Kantor Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/12/2012).
Menurut Fuad, selama ini kedua organisasi tersebut dinilai mendiamkan dan hanya memberikan jawaban yang normatif sehingga tidak menemukan jalan keluar bagi kaum minoritas.
"Mereka terkesan banyak bermain aman dan ambigu dalam menentukan sikapnya. Bahkan, di daerah tertentu beberapa aktivis ormas ini juga terlibat dalam tindakan diskriminasi terhadap minoritas," ucapnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, dengan tidak berperannya kedua organisasi tersebut. Dia sangat menyayangkan, sehingga membuat kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia tidak berjalan.
"Inilah yang membuat wajah kebebasan beragama dan berkeyakinan serta perlindungan hak-hak minoritas di Indonesia semakin suram. Contohnya bahwa ada orang-orang dari organisasi tersebut yang ikut melakukan diskriminasi terhadap komunitas kaum Syi'ah di Sampang, Madura," pungkasnya.
(maf)