Cagar budaya di kota besar makin punah
Rabu, 12 Desember 2012 - 05:01 WIB
Cagar budaya di kota besar makin punah
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menilai cagar budaya di kota besar di ambang kepunahan karena banyak yang digusur untuk pembangunan.
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Surya Helmi mengatakan, ada 8.000 cagar budaya yang teregistrasi di Kemendikbud namun sekian banyak cagar budaya itu diambang kehancuran terutama di kota besar karena banyak yang digusur atas nama pembangunan.
“Ini memang problema di kota besar di Indonesia. Berbeda dengan kota besar di luar negeri yang tetap melestarikan. Tetapi di negara kita masih belum prioritas yang masih memakai pola membangun bangunan baru yang lebih modern dengan menggusur bangunan lama yang sudah ada. Padahal cagar budaya itu penting untuk belajar akan masa lalu,” katanya usai Pameran Foto Cagar Budaya di Galeri Nasional, Selasa (11/12/2012).
Dia menjelaskan, pemerintah pusat sudah memberikan pemahaman kepada kepala daerah agar jangan membangun pusat perbelanjaan tanpa menggusur cagar budaya. Namun hal ini sulit diwujudkan karena komitmen kepala daerah sangat rendah.
Surya mengungkapkan, saat ini baru Surabaya yang membuat peraturan daerah untuk penyelamatan bangunan. Lalu Bandung saat ini masih melakukan sosialisasi penyelamatan bangunan dan Sumatera Barat yang menetapkan Sawahlunto sebagai Kota Pusaka.
Selain cagar budaya yang ada di daratan, terangnya, cagar budaya yang ada di bawah laut juga terancam punah. Terlebih cagar budaya di dalam laut banyak kapal tenggelam berisi harta karun asal perdagangan masa silam.
Semestinya, lanjut Surya, dengan otonomi daerah maka kepala daerah harus menganggarkan dana khusus yang dapat melestarikan cagar budaya. Selain itu pemerintah daerah juga harus mendukung kearifan lokal yang sangat membantu kelestarian cagar budaya.
“Seperti di Toraja ada pengawetan mayat di bukit berbatu. Itu salah satu kearifan local yang harus dilestarikan,” tuturnya.
Dia melanjutkan, pameran foto cagar budaya dan kearifan lokal ini sebagai salah satu sosialisasi kepada masyarakat untuk memperlihatkan kearifan lokal yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
Dia menjelaskan, fotografi sudah memiliki peranan penting sejak awal pelestarian peninggalan purbakala di Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Foto juga merupakan rekaman otentik dari kondisi dan keberadaan peninggalan purbakala pada waktu tertentu.
Selain itu, tambahnya, foto juga dapat memberikan penjelasan mengenai jalannya proses pemugaran seperti pada pemugaran Candi Borobudur.
“Seringkali juga kerusakan dan kepunahannya karena berbagai sebab yang tidak dapat dihindari sehingga upaya penyelamatan data melalui catatan dan foto sangat penting untuk dilakukan atau disebut preserve by record,” terangnya. Sementara itu upaya pelestarian budaya lain juga akan diterapkan pada Tari Saman.
Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Sulistiyo Tirtokusumo menjelaskan, kementerian didukung oleh pemerintah daerah dan masyarakat akan menyelenggarakan Saman Summit 2012 yang digelar dalam tiga sesi yakni rangkaian seminar yang akan berlangsung di Hotel Gren Alia Jakarta pada 14-15 Desember.
Seminar tersebut terdiri dari satu keynote dan empat panel diskusi, yang memfokuskan pada isu kesenian. Sementara sesi pameran akan diselenggarakan di Taman Fatahillah. Dalam pameran tersebut, berbagai panel-panel display foto upacara Bejamu Besaman serta foto-foto profil budaya dan lingkungan Gayo akan ditampilkan.
Selain itu ada juga penayangan proyeksi video menjelang penampilan masing-masing grup Saman. Untuk kuliner, pengunjung juga bisa menikmatinya di tenda Warung Kopi Gayo dan Kuliner.
Sedangkan sesi pertunjukan diadakan di Taman Fatahillah pada 16 Desember akan menampilkan 13 grup kesenian yang terdiri dari grup Saman dan kesenian dari daerah lain.
Di antaranya Saman Gayo (senior) dari Kampung Bukit, Kabupaten Gayo Lues; Saman Gayo (remaja) dari Kabupaten Aceh Tenggara; Saman Gayo (anak-anak) dari SD Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Saman (rampai) dari Jakarta; Saman Gayo mahasiswa dari Jombang, Jawa Timur; Tari Rudat-Siiran dari Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi; dan Rudat Sasak dari Desa Terengan, Kabupaten Lombok Utara.
Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Surya Helmi mengatakan, ada 8.000 cagar budaya yang teregistrasi di Kemendikbud namun sekian banyak cagar budaya itu diambang kehancuran terutama di kota besar karena banyak yang digusur atas nama pembangunan.
“Ini memang problema di kota besar di Indonesia. Berbeda dengan kota besar di luar negeri yang tetap melestarikan. Tetapi di negara kita masih belum prioritas yang masih memakai pola membangun bangunan baru yang lebih modern dengan menggusur bangunan lama yang sudah ada. Padahal cagar budaya itu penting untuk belajar akan masa lalu,” katanya usai Pameran Foto Cagar Budaya di Galeri Nasional, Selasa (11/12/2012).
Dia menjelaskan, pemerintah pusat sudah memberikan pemahaman kepada kepala daerah agar jangan membangun pusat perbelanjaan tanpa menggusur cagar budaya. Namun hal ini sulit diwujudkan karena komitmen kepala daerah sangat rendah.
Surya mengungkapkan, saat ini baru Surabaya yang membuat peraturan daerah untuk penyelamatan bangunan. Lalu Bandung saat ini masih melakukan sosialisasi penyelamatan bangunan dan Sumatera Barat yang menetapkan Sawahlunto sebagai Kota Pusaka.
Selain cagar budaya yang ada di daratan, terangnya, cagar budaya yang ada di bawah laut juga terancam punah. Terlebih cagar budaya di dalam laut banyak kapal tenggelam berisi harta karun asal perdagangan masa silam.
Semestinya, lanjut Surya, dengan otonomi daerah maka kepala daerah harus menganggarkan dana khusus yang dapat melestarikan cagar budaya. Selain itu pemerintah daerah juga harus mendukung kearifan lokal yang sangat membantu kelestarian cagar budaya.
“Seperti di Toraja ada pengawetan mayat di bukit berbatu. Itu salah satu kearifan local yang harus dilestarikan,” tuturnya.
Dia melanjutkan, pameran foto cagar budaya dan kearifan lokal ini sebagai salah satu sosialisasi kepada masyarakat untuk memperlihatkan kearifan lokal yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia.
Dia menjelaskan, fotografi sudah memiliki peranan penting sejak awal pelestarian peninggalan purbakala di Indonesia yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda. Foto juga merupakan rekaman otentik dari kondisi dan keberadaan peninggalan purbakala pada waktu tertentu.
Selain itu, tambahnya, foto juga dapat memberikan penjelasan mengenai jalannya proses pemugaran seperti pada pemugaran Candi Borobudur.
“Seringkali juga kerusakan dan kepunahannya karena berbagai sebab yang tidak dapat dihindari sehingga upaya penyelamatan data melalui catatan dan foto sangat penting untuk dilakukan atau disebut preserve by record,” terangnya. Sementara itu upaya pelestarian budaya lain juga akan diterapkan pada Tari Saman.
Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman Ditjen Kebudayaan Kemendikbud Sulistiyo Tirtokusumo menjelaskan, kementerian didukung oleh pemerintah daerah dan masyarakat akan menyelenggarakan Saman Summit 2012 yang digelar dalam tiga sesi yakni rangkaian seminar yang akan berlangsung di Hotel Gren Alia Jakarta pada 14-15 Desember.
Seminar tersebut terdiri dari satu keynote dan empat panel diskusi, yang memfokuskan pada isu kesenian. Sementara sesi pameran akan diselenggarakan di Taman Fatahillah. Dalam pameran tersebut, berbagai panel-panel display foto upacara Bejamu Besaman serta foto-foto profil budaya dan lingkungan Gayo akan ditampilkan.
Selain itu ada juga penayangan proyeksi video menjelang penampilan masing-masing grup Saman. Untuk kuliner, pengunjung juga bisa menikmatinya di tenda Warung Kopi Gayo dan Kuliner.
Sedangkan sesi pertunjukan diadakan di Taman Fatahillah pada 16 Desember akan menampilkan 13 grup kesenian yang terdiri dari grup Saman dan kesenian dari daerah lain.
Di antaranya Saman Gayo (senior) dari Kampung Bukit, Kabupaten Gayo Lues; Saman Gayo (remaja) dari Kabupaten Aceh Tenggara; Saman Gayo (anak-anak) dari SD Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Saman (rampai) dari Jakarta; Saman Gayo mahasiswa dari Jombang, Jawa Timur; Tari Rudat-Siiran dari Desa Kemiren, Kabupaten Banyuwangi; dan Rudat Sasak dari Desa Terengan, Kabupaten Lombok Utara.
(lns)