Soal UAS tuding Gus Dur Korupsi
Sabtu, 08 Desember 2012 - 07:21 WIB
Soal UAS tuding Gus Dur Korupsi
A
A
A
Sindonews.com - Tudingan terhadap Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) lengser karena kasus korupsi. Kali ini datang dari soal Ujian Akhir Sekolah (UAS) tingkat Madrasah Aliyah se-Jawa Barat membuat banyak pihak merasa geram.
Peneliti Kajian Budaya dan Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengecam, pembuat soal itu yang berasal dari Musyawarah Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (MK2MA) Provinsi Jawa Barat. Devie meminta, media mengejar siapa pembuat soal tersebut secara detail, terkait adanya kesengajaan grand design untuk mendeskreditkan Gusdur untuk kepentingan politik.
"Kejar pembuat, apakah ada konspirasi politik, harus bertanggung kawab, harus diadili apa motifnya. Ini bukan persoalan sepele. Siapapun pejabatnya, suatu saat Anda bisa jadi objek di soal para siswa, siapapun presidennya harus kita hormati," tukasnya di Depok, Jumat (7/12/12) malam.
Devie menilai, ditemukannya soal seperti itu dalam pertanyaan ujian siswa membuat pendidikan Indonesia saat ini dalam posisi darurat. Ia mempertanyakan pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab, ada apa menaruh soal tentang penyebab lengsernya Gus Dur sebagai pilihan jawaban dari siswa.
"Ada apa taruh soal seperti itu, pasti nantinya lempar tanggung jawab. Ini menyangkut kurikulum.
Persoalannya adalah materi pendidikan seperti itu fungsinya apa, entah itu Gus Dur, misalnya suatu saat ada sejarah di masa depan dalam sebuah soal, Mengapa Menpora mengundurkan diri. Lalu apa fungsinya, pemerintah tak serius pikirkan masa depan anak-anak kita," paparnya.
Pelajaran sejarah, kata Devie, saat ini hanya mendoktrin siswa untuk menghapal, padahal sejarah merupakan sebuah proses. Semestinya anak-anak Indonesia diajarkan bersikap kritis, sehingga soal ujian seperti itu pastinya akan berbeda-beda jawabannya tergantung interpretasi setiap siswa.
"Itu bisa menimpa pejabat politik di masa datang. Suram bangsa ini, di luar negeri modelnya ada buku sejarah, baca, komentari, ceritakan ulang. Sejarah bisa dipotong - potong. Bangun imajinasi mereka, Pancasila saja lupa," tegasnya.
Sebagai informasi, pelecehan dan penghinaan tersebut ditemukan oleh pimpinan Pondok Pesantren Al Karimiyah KH Damanhuri di Sawangan, Depok. UAS mata pelajaran tersebut digelar pada Rabu 5 Desember 2012 lalu.
Peneliti Kajian Budaya dan Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI) Devie Rahmawati mengecam, pembuat soal itu yang berasal dari Musyawarah Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (MK2MA) Provinsi Jawa Barat. Devie meminta, media mengejar siapa pembuat soal tersebut secara detail, terkait adanya kesengajaan grand design untuk mendeskreditkan Gusdur untuk kepentingan politik.
"Kejar pembuat, apakah ada konspirasi politik, harus bertanggung kawab, harus diadili apa motifnya. Ini bukan persoalan sepele. Siapapun pejabatnya, suatu saat Anda bisa jadi objek di soal para siswa, siapapun presidennya harus kita hormati," tukasnya di Depok, Jumat (7/12/12) malam.
Devie menilai, ditemukannya soal seperti itu dalam pertanyaan ujian siswa membuat pendidikan Indonesia saat ini dalam posisi darurat. Ia mempertanyakan pihak-pihak yang seharusnya bertanggung jawab, ada apa menaruh soal tentang penyebab lengsernya Gus Dur sebagai pilihan jawaban dari siswa.
"Ada apa taruh soal seperti itu, pasti nantinya lempar tanggung jawab. Ini menyangkut kurikulum.
Persoalannya adalah materi pendidikan seperti itu fungsinya apa, entah itu Gus Dur, misalnya suatu saat ada sejarah di masa depan dalam sebuah soal, Mengapa Menpora mengundurkan diri. Lalu apa fungsinya, pemerintah tak serius pikirkan masa depan anak-anak kita," paparnya.
Pelajaran sejarah, kata Devie, saat ini hanya mendoktrin siswa untuk menghapal, padahal sejarah merupakan sebuah proses. Semestinya anak-anak Indonesia diajarkan bersikap kritis, sehingga soal ujian seperti itu pastinya akan berbeda-beda jawabannya tergantung interpretasi setiap siswa.
"Itu bisa menimpa pejabat politik di masa datang. Suram bangsa ini, di luar negeri modelnya ada buku sejarah, baca, komentari, ceritakan ulang. Sejarah bisa dipotong - potong. Bangun imajinasi mereka, Pancasila saja lupa," tegasnya.
Sebagai informasi, pelecehan dan penghinaan tersebut ditemukan oleh pimpinan Pondok Pesantren Al Karimiyah KH Damanhuri di Sawangan, Depok. UAS mata pelajaran tersebut digelar pada Rabu 5 Desember 2012 lalu.
(mhd)