Suciwati: Menafsir Munir, melawan lupa
Kamis, 29 November 2012 - 16:06 WIB
Suciwati: Menafsir Munir, melawan lupa
A
A
A
Sindonews.com - Istri almarhum Munir, Suciwati mengungkapkan, keadilan atas kasus tewas suaminya, masih jauh dari rasa keadilan. Dia pun bertekad memperjuangkan kasus kematian suaminya itu.
Karenanya, dengan acara "Menafsir Munir, Melawan Lupa" dalam rangka memperingati hari ulang tahun Munir, dia berharap membawa dampak positif pada penyelesaian kasus suaminya itu.
"Saya pikir ini merupakan kebanggaan buat kita, meskipun keadilannya masih jauh," kata Suciwati, di Wisma Aria, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (29/11/2012).
Suciwati menjelaskan, dalam acara tersebut dia akan membacakan petisi untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang telah berjanji akan menuntaskan kasus tersebut.
"Petisi menargetkan SBY untuk segera menyelesaikan pekerjaan rumah ujian kasus Munir. Seperti kata Presiden, penyelesaian kasus Munir adalah The test of our history," tukasnya.
Senada dengan Suciwati, seniman Butet Kertarajasa menambahkan, saat ini pemerintahan SBY belum dapat menyelesaikan kasus di balik kematian aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) tersebut.
"Kita ini seperti debt collector kultural, ini jelas pemerintah SBY utang, jadi kita tagih, pemimpin juga hutang mereka berjanji menyelesaikan kasus munir. Dan cara kita menagih, dengan kesenian melalui masyarakat," tandasnya.
Karenanya, dengan acara "Menafsir Munir, Melawan Lupa" dalam rangka memperingati hari ulang tahun Munir, dia berharap membawa dampak positif pada penyelesaian kasus suaminya itu.
"Saya pikir ini merupakan kebanggaan buat kita, meskipun keadilannya masih jauh," kata Suciwati, di Wisma Aria, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (29/11/2012).
Suciwati menjelaskan, dalam acara tersebut dia akan membacakan petisi untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang telah berjanji akan menuntaskan kasus tersebut.
"Petisi menargetkan SBY untuk segera menyelesaikan pekerjaan rumah ujian kasus Munir. Seperti kata Presiden, penyelesaian kasus Munir adalah The test of our history," tukasnya.
Senada dengan Suciwati, seniman Butet Kertarajasa menambahkan, saat ini pemerintahan SBY belum dapat menyelesaikan kasus di balik kematian aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) tersebut.
"Kita ini seperti debt collector kultural, ini jelas pemerintah SBY utang, jadi kita tagih, pemimpin juga hutang mereka berjanji menyelesaikan kasus munir. Dan cara kita menagih, dengan kesenian melalui masyarakat," tandasnya.
(maf)