Ada konspirasi di Istana sebelum grasi Ola

Jum'at, 09 November 2012 - 10:15 WIB
Ada konspirasi di Istana...
Ada konspirasi di Istana sebelum grasi Ola
A A A
Sindonews.com - Anggota Komisi III Bambang Soesatyo menyatakan Presiden perlu memerintahkan sebuah penyelidikan internal untuk mengetahui siapa saja yang terlibat dalam merekomendasikan grasi untuk terpidana mati kasus narkoba Meirika Franola alias Ola.

"Presiden SBY jelas-jelas kecolongan. Kasus ini mengindikasikan kantor presiden telah disusupi sindikat kejahatan narkoba, yang berupaya memperjuangkan keringanan hukuman anggota sindikatnya. Mudah disimpulkan jika orang-orang kepercayaan SBY yang merekomendasikan pengampunan hukuman bagi Ola memiliki motif atau kepentingan. SBY harus waspada karena manajemen kantor presiden diduga tidak bersih dari tindak pidana kejahatan narkoba," jelas Bambang ketika dihubungi wartawan, Jum'at (9/11/2012).

Politikus Partai Golkar ini menduga, ada serangkaian kegiatan dan pertemuan yang melibatkan orang-orang kepercayaan SBY, kuasa hukum, dan kawan-kawan Ola sebelum rekomendasi pengampunan itu ditandatangani SBY.

"Ada lobi-lobi dan saling memberi komitmen, sebelum dokumen yang memuat rekomendasi pengampunan itu sampai ke meja kerja presiden untuk ditandatangani SBY," ujarnya.

Bambang juga berpendapat, kekuatan jaringan Ola dan kawan-kawan luar biasa karena bisa menembus kantor presiden dengan imbalan uang dalam jumlah besar.

"Seorang terpidana narkoba yang ingin mendapatkan akses ke kantor presiden tentunya harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Kemungkinan ini sangat berbahaya, tidak hanya bagi reputasi dan kredibilitas presiden, tetapi juga berbahaya bagi negara," tuturnya.

Dinilainya, alasan pertimbangan kemanusiaan yang dikatakan para pembantu presiden ketika menghadapi kecaman publik itu hanya kepura-puraan dan dibuat-buat.

"Dalam kasus ini SBY lengah, dan orang-orang kepercayaannya telah memanfaatkan kelengahan itu. Terbukti para pembantu presiden mengatakan pengampunan itu diberikan presiden karena alasan kemanusiaan. Alasan pertimbangan kemanusiaan itu hanya dibuat-buat untuk sekadar menjaga reputasi dan kredibilitas presiden," pungkasnya
(rsa)
Berita Terkait
Menelusuri Jejak 6 Kartel...
Menelusuri Jejak 6 Kartel Paling Kejam dalam Sejarah
Terlibat Penyelundupan...
Terlibat Penyelundupan Narkoba, PM Kepulauan Virgin Ditangkap
Kolombia Sita Kapal...
Kolombia Sita Kapal Selam Narkoba, Angkut 3 Ton Kokain
6 Artis Indonesia Ditangkap...
6 Artis Indonesia Ditangkap Terkait Kasus Narkoba Sepanjang 2024
Beberapa Negara Berikan...
Beberapa Negara Berikan Hukuman Mati Bagi Kasus Narkoba
Penggerebekan Kampung...
Penggerebekan Kampung Narkoba di Matraman
Berita Terkini
Breaking News! Hotman...
Breaking News! Hotman Paris Mundur sebagai Pengacara Febrie Adriansyah
Tok! PN Jaktim Terima...
Tok! PN Jaktim Terima Eksepsi Dokter Tifa, Persidangan Pembuktian Tak Dilanjut
Dokter Tifa Siap Hadapi...
Dokter Tifa Siap Hadapi Putusan Sela: Kalau Ditolak, Kami Maju Terus Ungkap Kebenaran
Hari Ini Kortas Tipikor...
Hari Ini Kortas Tipikor Polri Panggil Eks Wakapolri Oegroseno untuk Klarifikasi Lahan Sepolwan
Gantikan Febrie Adriansyah,...
Gantikan Febrie Adriansyah, Kuntadi Diharapkan Pulihkan Kepercayaan Publik
Kejagung Terbitkan Sprindik...
Kejagung Terbitkan Sprindik Baru Dugaan TPPU 74 Kg Emas dan Uang di Rumah Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved