Bentrokan di lampung, konflik masa lalu
Kamis, 01 November 2012 - 06:42 WIB
Bentrokan di lampung, konflik masa lalu
A
A
A
Sindonews.com - Konflik di Lampung Selatan yang menewaskan belasan orang itu antara warga sejumlah kampung di Kecamatan Kalianda dengan warga Desa Balinuraga, Kecamatan Waypanji, sudah memiliki konflik masa lalu.
"Kasus konflik di Lampung selatan sudah ada akar konflik masa lalu," kata Anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Lampung Almuzzammil Yusuf kepada Sindonews melalui pesan singkatnya, Rabu (31/10/2012) malam.
Oleh sebab itu, katanya, kedua masa yang bertikai harus segera dimediasi oleh para tokoh adat dan tokoh setempat.
"Kasus konflik antar warga atau suku, harus cepat dimediasi atau diproses hukum oleh aparat keamanan," tambahnya.
Anggota Komisi I ini menyarankan, jika hal itu terjadi kembali, pihak keamanan harus segera dislokasi. "Sehingga konflik tidak meluas menjadi konflik massa," pungkas anggota DPR asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Seperti diketahui, bentrokan antar warga di Lampung bermula pada Sabtu 27 Oktober 2012 lalu, sekira pukul 23.00 WIB. Saat itu, dua gadis Lampung asal Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor mendapatkan gangguan dari pemuda asal Desa Balinuraga, sehingga terjatuh dan mengalami luka-luka.
Insiden itu diduga memicu kemarahan warga Desa Agom, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Sehingga, ratusan warga Agom sontak mendatangi Desa Balinuraga yang mayoritas warganya beretnis Bali dengan menenteng senjata tajam, parang, pedang, golok, celurit, bahkan senjata senapan angin.
Bentrokan antarsuku pun tidak terhindarkan. Bentrok antarsuku di Lampung Selatan tersebut, bukanlah peristiwa pertama kali yang terjadi di kabupaten tersebut. Sebelumnya, pada Agustus 2012, bentrokan serupa terjadi Desa Banyuwangi dan Desa Purwosari, di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
"Kasus konflik di Lampung selatan sudah ada akar konflik masa lalu," kata Anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Lampung Almuzzammil Yusuf kepada Sindonews melalui pesan singkatnya, Rabu (31/10/2012) malam.
Oleh sebab itu, katanya, kedua masa yang bertikai harus segera dimediasi oleh para tokoh adat dan tokoh setempat.
"Kasus konflik antar warga atau suku, harus cepat dimediasi atau diproses hukum oleh aparat keamanan," tambahnya.
Anggota Komisi I ini menyarankan, jika hal itu terjadi kembali, pihak keamanan harus segera dislokasi. "Sehingga konflik tidak meluas menjadi konflik massa," pungkas anggota DPR asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Seperti diketahui, bentrokan antar warga di Lampung bermula pada Sabtu 27 Oktober 2012 lalu, sekira pukul 23.00 WIB. Saat itu, dua gadis Lampung asal Desa Agom yang sedang mengendarai sepeda motor mendapatkan gangguan dari pemuda asal Desa Balinuraga, sehingga terjatuh dan mengalami luka-luka.
Insiden itu diduga memicu kemarahan warga Desa Agom, Kecamatan Kalianda, Lampung Selatan. Sehingga, ratusan warga Agom sontak mendatangi Desa Balinuraga yang mayoritas warganya beretnis Bali dengan menenteng senjata tajam, parang, pedang, golok, celurit, bahkan senjata senapan angin.
Bentrokan antarsuku pun tidak terhindarkan. Bentrok antarsuku di Lampung Selatan tersebut, bukanlah peristiwa pertama kali yang terjadi di kabupaten tersebut. Sebelumnya, pada Agustus 2012, bentrokan serupa terjadi Desa Banyuwangi dan Desa Purwosari, di Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung.
(mhd)