Materi lingkungan hidup diusulkan masuk kurikulum
Jum'at, 26 Oktober 2012 - 18:54 WIB
Materi lingkungan hidup diusulkan masuk kurikulum
A
A
A
Sindonews.com - Pemahaman tentang kepedulian terhadap lingkungan hidup rupanya harus diterapkan sejak dini. Seperti yang dilakukan oleh banyak sekolah di Depok, Jawa Barat, yang kini sudah memiliki bank sampah untuk mengolah sampah organik dan non organik.
Salah satunya SMAN 5 Sawangan, dan SMAN 4 Cimanggis, serta sejumlah SD. Di sekolah swasta salah satunya dilakukan di Yayasan Pendidikan Islam Al Ma’mun Education Center (AMEC).
Sekolah itu memiliki program Mandiri Sampah dimana sudah memiliki bank sampah yang memisahkan sampah organik dan anorganik.
Kepala Yayasan AMEC Ma’mun Ibnu Ridwan mengatakan, para siswa diwajibkan membawa sampah dari rumahnya masing–masing setiap hari Senin dan Jumat. Kemudian, sampah organik yang dihasilkan digunakan sebagai kompos, sementara anorganik seperti kertas dan plastik dijual kepada pengepul atau pemulung.
"Komposnya kami gunakan untuk pupuk menanam tanaman, kami punya kebun bayam, kangkung, dan cabai, hasilnya kita jual untuk menjadi tabungan siswa," katanya kepada wartawan, di Depok, Jumat (26/10/2012).
Dia mengklaim, tak mempermasalahkan siswa yang belum bisa membayar uang SPP sekolah asalkan membawa sampah dari rumah. Hal itu bisa mendidik kemandirian dan pengetahuan siswa tentang lingkungan.
Karena itu, pihaknya sudah mengusulkan ke Dinas Pendidikan maupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) agar pelajaran lingkungan hidup masuk kurikulum sekolah.
"Kami mendidik mereka bagaimana masa panen dan masa tanam, lalu kami ingin masalah lingkungan hidup saat ini sudah menjadi penting, agar dimasukkan ke dalam kurikulum,” tegasnya.
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan, dengan kegiatan tersebut diharapkan implementasi adi wiyata, pembinaan pembiasaan memilah, mengolah, biopori, sampah organik dan non organik dengan pendekatan bank sampah bisa dipahami sejak dini.
Dia menargetkan, jika seluruh sekolah di Depok memiliki bank sampah, maka 50 persen beban sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Cipayung bisa berkurang serta mengurangi titik Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar.
"Siswa belajar menghargai sampah di rumahnya, edukasi yang real. Makanya kita berharap dengan yang sudah dimulai, tak hanya sekedar deklarasi, orang tua mulai mengenal Depok memilah. Kalau seluruhnya terjadi seperti itu, kurangi semua sampah 50 persen, dengan recycle dan reuse," ungkapnya.
Salah satunya SMAN 5 Sawangan, dan SMAN 4 Cimanggis, serta sejumlah SD. Di sekolah swasta salah satunya dilakukan di Yayasan Pendidikan Islam Al Ma’mun Education Center (AMEC).
Sekolah itu memiliki program Mandiri Sampah dimana sudah memiliki bank sampah yang memisahkan sampah organik dan anorganik.
Kepala Yayasan AMEC Ma’mun Ibnu Ridwan mengatakan, para siswa diwajibkan membawa sampah dari rumahnya masing–masing setiap hari Senin dan Jumat. Kemudian, sampah organik yang dihasilkan digunakan sebagai kompos, sementara anorganik seperti kertas dan plastik dijual kepada pengepul atau pemulung.
"Komposnya kami gunakan untuk pupuk menanam tanaman, kami punya kebun bayam, kangkung, dan cabai, hasilnya kita jual untuk menjadi tabungan siswa," katanya kepada wartawan, di Depok, Jumat (26/10/2012).
Dia mengklaim, tak mempermasalahkan siswa yang belum bisa membayar uang SPP sekolah asalkan membawa sampah dari rumah. Hal itu bisa mendidik kemandirian dan pengetahuan siswa tentang lingkungan.
Karena itu, pihaknya sudah mengusulkan ke Dinas Pendidikan maupun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) agar pelajaran lingkungan hidup masuk kurikulum sekolah.
"Kami mendidik mereka bagaimana masa panen dan masa tanam, lalu kami ingin masalah lingkungan hidup saat ini sudah menjadi penting, agar dimasukkan ke dalam kurikulum,” tegasnya.
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengatakan, dengan kegiatan tersebut diharapkan implementasi adi wiyata, pembinaan pembiasaan memilah, mengolah, biopori, sampah organik dan non organik dengan pendekatan bank sampah bisa dipahami sejak dini.
Dia menargetkan, jika seluruh sekolah di Depok memiliki bank sampah, maka 50 persen beban sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah Cipayung bisa berkurang serta mengurangi titik Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar.
"Siswa belajar menghargai sampah di rumahnya, edukasi yang real. Makanya kita berharap dengan yang sudah dimulai, tak hanya sekedar deklarasi, orang tua mulai mengenal Depok memilah. Kalau seluruhnya terjadi seperti itu, kurangi semua sampah 50 persen, dengan recycle dan reuse," ungkapnya.
(mhd)