Bom Poso tamparan bagi kepolisian
Senin, 22 Oktober 2012 - 19:19 WIB
Bom Poso tamparan bagi kepolisian
A
A
A
Sindonews.com - Dua ledakan yang terjadi di Pos Polantas Poso pagi tadi, dinilai Anggota Fraksi PKS Indra, sebagai tamparan bagi kepolisian dan Badan Intelejen Negara (BIN).
Anggota Komisi III DPR ini meminta persoalan Poso yang kerap terjadi konflik dan juga sering meminta korban anggota kepolisian, harus segera diselesaikan ke akar-akarnya.
"Poso kan wilayah konflik yang belum tuntas. Pemerintah pusat dan daerah harus menuntaskan ke akar-akarnya. Dalam konteks kenapa bisa ada korban polisi. Harusnya BIN dan polisi punya early warning system," ujar Indra di Gedung DPR, Senin (22/10/2012).
Dikatakan Indra, dirinya kurang sependapat dengan adanya tuduhan terhadap suatu kelompok. Seharusnya BIN lebih bersikap profesional jika mencurigai kelompok tertentu.
"Karena dalam kejadian ini, bukti pun belum ada. Bukan tidak mungkin hal ini bisa menjadi persoalan baru," katanya.
Disinggung mengenai pengalihan isu yang dilakukan Polri, Indra menepisnya. Namun jika benar ini adalah pengalihan isu, berarti Polri tidak mampu mengendalikan keamanan di negara ini. Namun ia tidak mau mengaitkan kejadian dengan pembahasan RUU Kamnas di DPR.
"Saya tidak bisa menyimpulkan kalau ini ada kaitannya dengan UU Kamnas. Jangan sampai Polri jadi objek yang disalahkan," tutup Indra.
Diketahui, pagi tadi kembali terjadi dua kali ledakan bom yang hanya berselang beberapa menit sekira pukul 06.15 Wita.
Ledakan disinyalir berasal dari bom yang menggunakan pengatur waktu. Dalam ledakan itu dua orang polisi mengalami luka-luka, yakni polisi lalu lintas Bripda Rusliadi dan Satpam BRI Muhammad Akbar.
Anggota Komisi III DPR ini meminta persoalan Poso yang kerap terjadi konflik dan juga sering meminta korban anggota kepolisian, harus segera diselesaikan ke akar-akarnya.
"Poso kan wilayah konflik yang belum tuntas. Pemerintah pusat dan daerah harus menuntaskan ke akar-akarnya. Dalam konteks kenapa bisa ada korban polisi. Harusnya BIN dan polisi punya early warning system," ujar Indra di Gedung DPR, Senin (22/10/2012).
Dikatakan Indra, dirinya kurang sependapat dengan adanya tuduhan terhadap suatu kelompok. Seharusnya BIN lebih bersikap profesional jika mencurigai kelompok tertentu.
"Karena dalam kejadian ini, bukti pun belum ada. Bukan tidak mungkin hal ini bisa menjadi persoalan baru," katanya.
Disinggung mengenai pengalihan isu yang dilakukan Polri, Indra menepisnya. Namun jika benar ini adalah pengalihan isu, berarti Polri tidak mampu mengendalikan keamanan di negara ini. Namun ia tidak mau mengaitkan kejadian dengan pembahasan RUU Kamnas di DPR.
"Saya tidak bisa menyimpulkan kalau ini ada kaitannya dengan UU Kamnas. Jangan sampai Polri jadi objek yang disalahkan," tutup Indra.
Diketahui, pagi tadi kembali terjadi dua kali ledakan bom yang hanya berselang beberapa menit sekira pukul 06.15 Wita.
Ledakan disinyalir berasal dari bom yang menggunakan pengatur waktu. Dalam ledakan itu dua orang polisi mengalami luka-luka, yakni polisi lalu lintas Bripda Rusliadi dan Satpam BRI Muhammad Akbar.
(ysw)