DPR sesali insiden pemukulan wartawan di Riau
Selasa, 16 Oktober 2012 - 14:48 WIB
DPR sesali insiden pemukulan wartawan di Riau
A
A
A
Sindonews.com - Kekerasan terhadap wartawan yang tengah meliput jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 single seat buatan Inggris tahun 1980, bernomor registrasi TT0212 milik TNI Angkatan Udara (AU) di Gang Amal, Perumahan Pandau Permai, Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau, tidak bisa ditolerir.
Anggota Komisi I DPR RI Ramadhan Pohan menyatakan, kekerasan tersebut tidak bisa ditoleransi. Pasalnya, apa yang dilakukan wartawan tersebut merupakan haknya dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang jurnalis.
"Tidak ada toleransi kekerasan terhadap wartawan, karena konteksnya wartawan mencari berita, itu tidak bisa ditolerir," kata Pohan, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/10/2012).
Politikus Partai Demokrat ini menyesali atas insiden tersebut. Pasalnya itu merupakan pekerjaan wartawan yang harus hadir dalam setiap kejadian.
Namun, jika ada batasan lokasi peliputan, sebaiknya dikomunikasikan dengan baik tidak perlu melakukan kekerasan.
Karena itu, Pohan menegaskan, perlu ada klarifikasi dari TNI AU atas insiden tersebut. Menurutnya, kekerasan terhadap para awak media harus dilawan terus, supaya kebebasan pers tetap terjaga.
"Tapi kenapa wartawan masuk ke sana, kenapa enggak dicegah dari awal. Kita menolak cara-cara penganiayaan, yang mengganggu wartawan. Ingat mengganggu pers ada pidananya," pungkasnya.
Seperti diketahui, lima orang wartawan dipukuli saat meliput kejadian jatuhnya pesawat tersebut. Kelima wartawan itu di antaranya Febrianto Budi Anggoro dari Antara, Didik dari Riau Pos, Dewo dari Riau Channel, dan dua wartawan Rtv.
Tidak hanya itu saja, alat untuk meliput kejadian, seperti kamera, diambil oleh oknum keamanan Lanud.
Didik terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit akibat mendapatkan pukulan dari tentara TNI AU yang berada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Hingga kini lokasi kejadian masih dijaga ketat.
Landasan Udara (Lanud) Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, masih dijaga dari pihak keamanan Lanud untuk mensterilkan lokasi dengan jarak 100 meter dari lokasi jatuhnya pesawat tersebut.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Iskandar Sitompul saat dikonfirmasi mengenai aksi kekerasan ini mengaku belum mengetahui. "Ya nanti kita konfirmasi terlebih dahulu," katanya.
Anggota Komisi I DPR RI Ramadhan Pohan menyatakan, kekerasan tersebut tidak bisa ditoleransi. Pasalnya, apa yang dilakukan wartawan tersebut merupakan haknya dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang jurnalis.
"Tidak ada toleransi kekerasan terhadap wartawan, karena konteksnya wartawan mencari berita, itu tidak bisa ditolerir," kata Pohan, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/10/2012).
Politikus Partai Demokrat ini menyesali atas insiden tersebut. Pasalnya itu merupakan pekerjaan wartawan yang harus hadir dalam setiap kejadian.
Namun, jika ada batasan lokasi peliputan, sebaiknya dikomunikasikan dengan baik tidak perlu melakukan kekerasan.
Karena itu, Pohan menegaskan, perlu ada klarifikasi dari TNI AU atas insiden tersebut. Menurutnya, kekerasan terhadap para awak media harus dilawan terus, supaya kebebasan pers tetap terjaga.
"Tapi kenapa wartawan masuk ke sana, kenapa enggak dicegah dari awal. Kita menolak cara-cara penganiayaan, yang mengganggu wartawan. Ingat mengganggu pers ada pidananya," pungkasnya.
Seperti diketahui, lima orang wartawan dipukuli saat meliput kejadian jatuhnya pesawat tersebut. Kelima wartawan itu di antaranya Febrianto Budi Anggoro dari Antara, Didik dari Riau Pos, Dewo dari Riau Channel, dan dua wartawan Rtv.
Tidak hanya itu saja, alat untuk meliput kejadian, seperti kamera, diambil oleh oknum keamanan Lanud.
Didik terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit akibat mendapatkan pukulan dari tentara TNI AU yang berada di sekitar lokasi jatuhnya pesawat. Hingga kini lokasi kejadian masih dijaga ketat.
Landasan Udara (Lanud) Pangkalan Udara Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, masih dijaga dari pihak keamanan Lanud untuk mensterilkan lokasi dengan jarak 100 meter dari lokasi jatuhnya pesawat tersebut.
Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Iskandar Sitompul saat dikonfirmasi mengenai aksi kekerasan ini mengaku belum mengetahui. "Ya nanti kita konfirmasi terlebih dahulu," katanya.
(maf)