Toriq diduga jaringan Abu Omar
Sabtu, 08 September 2012 - 09:58 WIB
Toriq diduga jaringan Abu Omar
A
A
A
Sindonews.com - Terduga teroris asal Tambora, Jakarta Barat, Muhammad Toriq (32), diidentifikasi merupakan jaringan Abu Omar. Hal ini berdasar temuan bahan bahan bom rakitan bertipe sama dengan bom yang dirakit jaringan ini.
Dalam menjalankan terornya, mereka mengincar Solo dan Jakarta, termasuk memanfaatkan situasi Pilkada DKI Jakarta. "Jaringan ini justru banyak di Jakarta, di Solo sedikit. Farhan dan Muchsin itu kan orang Jakarta. Jadi ada semacam link yang bisa menghubungkan orang-orang ini,” ungkap pengamat terorisme Ali Fauzi saat dihubungidi Jakarta, Jumat 7 September 2012.
Menurut adik gembong teroris Amrozi itu, Toriq bisa saja mengetahui Farhan dan kawan-kawannya walau belum tentu mengenal baik. Meskipun mempunyai semangat ideologi tinggi, generasi kelompok Abu Omar ini tak pernah belajar merangkai bom secara terperinci.
"Kelompok ini bergerak sporadis, amatiran, dan tidak merencanakan aksinya dengan rapi,” katanya.
Ali sendiri mengaku mengenal Farhan, terduga teroris yang tewas ditembak tim Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri di Solo. Dia bertemu Farhan saat mengikuti pelatihan militer di Filipina bersama Abu Omar.
"Saat itu Farhan masih berusia 9 tahunan. Jadi saya pikir, kelompok ini memang generasi baru dari jaringan Abu Omar,” tutur Ali.
Untuk diketahui, kelompok Abu Omar berasal dari kelompok NII, kemudian berpecah menjadi Jamaah Islamiyah (JI) dan Abu Omar. Abu Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta atas penyelundupan senjata dari Filipina bagian selatan ke Indonesia.
Abu Omar adalah ayah tiri Farhan Mujahid yang tewas ditembak di Solo beberapa waktu lalu. Penilaian Ali Fauzi tersebut senada dengan analisis penyidik Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya yang menduga Toriq terkait dengan jaringan teroris diSolo, Jawa Tengah, dan Depok, Jawa Barat.
Melalui Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto, Polda juga mengungkapkan adanya istilah poros Solo-Jakarta yang akan menyasar dua daerah tersebut sebagai target aksi terorisme.
Pihak Densus 88/Antiteror Polri hingga kemarin masih memeriksa ibu Toriq, Iyut, dan sang istri, Sri Haryanti, untuk mengorek keberadaan Toriq. Mabes Polri pun sudah menginstruksikan kepada seluruh polda di Tanah Air untuk melakukan pencarian.
Sementara itu, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi menandaskan bahwa penangan aksi terorisme perlu dilakukan secara terpadu dan menyeluruh.
Dalam pandangannya, penanganan aksi terorisme yang dilakukan saat ini masih sektoral dengan lebih menekankan sektor keamanan. Itu pun, lanjutnya, dilakukan dengan kurang bijak karena sering kali menempuh jalan pintas dengan menembak mati pihak yang diduga anggota jaringan terorisme.
"Indonesia belum punya gerakan yang terpadu dan komprehensif untuk meredam gerakan terorisme,” kata Hasyim.
Menurut dia, untuk meredam terorisme terutama yang bersifat ideologis, perlu ditempuh upaya deradikalisasi secara bersungguh-sungguh, melibatkan pihak-pihak yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dibidangnya, misalnya para ulama.
Keluarga Meminta Maaf
Setelah sekitar satu minggu berada di Rumah Sakit (RS) Polri Sukanto, jenazah dua terduga teroris Muchsin Sanny Permadi (20), dan Farhan (19), akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk kemudian dimakamkan di Pondok Rangon, Jakarta Timur.
Keduanya yang tewas akibat baku tembak dengan Densus 88 di Solo, Jawa Tengah, dijemput pihak keluarga yang telah tiba di RS Polri Sukanto sejak pukul 09.00 WIB.
Ayah terduga teroris Muchsin, Muslim Sanni Assidiqie (49), dalam sebuah kesempatan menyampaikan permintaan maaf atas tindakan yang telah dilakukan anaknya beberapa waktu lalu. "Saya beserta keluarga minta maaf sebesar-besarnya kepada keluarga besar saya, kepada warga RT 03/03 Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Terakhir kepada bangsa Indonesia secara umum,” ujar Muslim.
Muslim mengaku apa yang dilakukan anaknya tersebut benar-benar di luar dugaannya. Dia juga meluruskan pemberitaan yang mengatakan dirinya sempat mengucapkan bahwa kematian sang anak adalah mati sahid. Kedua jenazah seusai salat Jumat diserahkan pihak RS Polri sekitar pukul 01.00 WIB, dan langsung dibawa ke Musala Asy Syifa RS Polri untuk disalatkan.
Setelah itu, keduanya langsung dibawa ke TPU Pondok Rangon Jakarta Timur untuk dimakamkan. Keduanya dimakamkan berdekatan dengan M Syarif, teroris yang meledakkan diri di Masjid Mapolresta Cirebon.
Dalam menjalankan terornya, mereka mengincar Solo dan Jakarta, termasuk memanfaatkan situasi Pilkada DKI Jakarta. "Jaringan ini justru banyak di Jakarta, di Solo sedikit. Farhan dan Muchsin itu kan orang Jakarta. Jadi ada semacam link yang bisa menghubungkan orang-orang ini,” ungkap pengamat terorisme Ali Fauzi saat dihubungidi Jakarta, Jumat 7 September 2012.
Menurut adik gembong teroris Amrozi itu, Toriq bisa saja mengetahui Farhan dan kawan-kawannya walau belum tentu mengenal baik. Meskipun mempunyai semangat ideologi tinggi, generasi kelompok Abu Omar ini tak pernah belajar merangkai bom secara terperinci.
"Kelompok ini bergerak sporadis, amatiran, dan tidak merencanakan aksinya dengan rapi,” katanya.
Ali sendiri mengaku mengenal Farhan, terduga teroris yang tewas ditembak tim Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror Polri di Solo. Dia bertemu Farhan saat mengikuti pelatihan militer di Filipina bersama Abu Omar.
"Saat itu Farhan masih berusia 9 tahunan. Jadi saya pikir, kelompok ini memang generasi baru dari jaringan Abu Omar,” tutur Ali.
Untuk diketahui, kelompok Abu Omar berasal dari kelompok NII, kemudian berpecah menjadi Jamaah Islamiyah (JI) dan Abu Omar. Abu Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta atas penyelundupan senjata dari Filipina bagian selatan ke Indonesia.
Abu Omar adalah ayah tiri Farhan Mujahid yang tewas ditembak di Solo beberapa waktu lalu. Penilaian Ali Fauzi tersebut senada dengan analisis penyidik Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya yang menduga Toriq terkait dengan jaringan teroris diSolo, Jawa Tengah, dan Depok, Jawa Barat.
Melalui Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Rikwanto, Polda juga mengungkapkan adanya istilah poros Solo-Jakarta yang akan menyasar dua daerah tersebut sebagai target aksi terorisme.
Pihak Densus 88/Antiteror Polri hingga kemarin masih memeriksa ibu Toriq, Iyut, dan sang istri, Sri Haryanti, untuk mengorek keberadaan Toriq. Mabes Polri pun sudah menginstruksikan kepada seluruh polda di Tanah Air untuk melakukan pencarian.
Sementara itu, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi menandaskan bahwa penangan aksi terorisme perlu dilakukan secara terpadu dan menyeluruh.
Dalam pandangannya, penanganan aksi terorisme yang dilakukan saat ini masih sektoral dengan lebih menekankan sektor keamanan. Itu pun, lanjutnya, dilakukan dengan kurang bijak karena sering kali menempuh jalan pintas dengan menembak mati pihak yang diduga anggota jaringan terorisme.
"Indonesia belum punya gerakan yang terpadu dan komprehensif untuk meredam gerakan terorisme,” kata Hasyim.
Menurut dia, untuk meredam terorisme terutama yang bersifat ideologis, perlu ditempuh upaya deradikalisasi secara bersungguh-sungguh, melibatkan pihak-pihak yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dibidangnya, misalnya para ulama.
Keluarga Meminta Maaf
Setelah sekitar satu minggu berada di Rumah Sakit (RS) Polri Sukanto, jenazah dua terduga teroris Muchsin Sanny Permadi (20), dan Farhan (19), akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk kemudian dimakamkan di Pondok Rangon, Jakarta Timur.
Keduanya yang tewas akibat baku tembak dengan Densus 88 di Solo, Jawa Tengah, dijemput pihak keluarga yang telah tiba di RS Polri Sukanto sejak pukul 09.00 WIB.
Ayah terduga teroris Muchsin, Muslim Sanni Assidiqie (49), dalam sebuah kesempatan menyampaikan permintaan maaf atas tindakan yang telah dilakukan anaknya beberapa waktu lalu. "Saya beserta keluarga minta maaf sebesar-besarnya kepada keluarga besar saya, kepada warga RT 03/03 Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur. Terakhir kepada bangsa Indonesia secara umum,” ujar Muslim.
Muslim mengaku apa yang dilakukan anaknya tersebut benar-benar di luar dugaannya. Dia juga meluruskan pemberitaan yang mengatakan dirinya sempat mengucapkan bahwa kematian sang anak adalah mati sahid. Kedua jenazah seusai salat Jumat diserahkan pihak RS Polri sekitar pukul 01.00 WIB, dan langsung dibawa ke Musala Asy Syifa RS Polri untuk disalatkan.
Setelah itu, keduanya langsung dibawa ke TPU Pondok Rangon Jakarta Timur untuk dimakamkan. Keduanya dimakamkan berdekatan dengan M Syarif, teroris yang meledakkan diri di Masjid Mapolresta Cirebon.
(lil)