Masyarakat sekarang lebih suka kekerasan
Sabtu, 01 September 2012 - 12:39 WIB
Masyarakat sekarang lebih suka kekerasan
A
A
A
Sindonews.com - Bangsa Indonesia saat ini dinilai memiliki karakteristik yang lebih menyukai kekerasan ketimbang untuk menyelesaikan segala sesuatunya dengan jalan damai.
Pengamat politik Hermawan Sulistyo mengatakan, maraknya kerusuhan yang dilakukan dengan tindakan kekerasan terjadi di Indonesia, menunjukkan Indonesia sudah tidak mengenal lagi jalan damai, dan lebih memilih kekerasan sebagai solusi.
"Siapa bilang kita bangsa yang ramah tamah? Bangsa ini suka kekerasan, kesengsaraan," katanya dalam diskusi 'Polemik' Sindo Radio, di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (1/9/2012).
Dia mengungkapkan, kekerasan saat ini di Indonesia telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, pasalnya media massa kerap kali mempertontonkan korban kekerasan, dan hasil dari kekerasan.
"Coba saja, misalnya ada orang yang sengsara, ada yang kecelakaan, pasti kita banyak yang nonton," ujarnya.
Menurutnya, media massa juga seharusnya turut serta dalam meredam aksi kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat. "Media juga terlibat, gambar soal kekerasan begitu jelas. Misalnya di TV, gambar dengan kepala luka itu boleh, hanya sebaiknya diburamkan. Kalau di Jepang, seperti itu enggak boleh," tandasnya.
Pengamat politik Hermawan Sulistyo mengatakan, maraknya kerusuhan yang dilakukan dengan tindakan kekerasan terjadi di Indonesia, menunjukkan Indonesia sudah tidak mengenal lagi jalan damai, dan lebih memilih kekerasan sebagai solusi.
"Siapa bilang kita bangsa yang ramah tamah? Bangsa ini suka kekerasan, kesengsaraan," katanya dalam diskusi 'Polemik' Sindo Radio, di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (1/9/2012).
Dia mengungkapkan, kekerasan saat ini di Indonesia telah menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, pasalnya media massa kerap kali mempertontonkan korban kekerasan, dan hasil dari kekerasan.
"Coba saja, misalnya ada orang yang sengsara, ada yang kecelakaan, pasti kita banyak yang nonton," ujarnya.
Menurutnya, media massa juga seharusnya turut serta dalam meredam aksi kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat. "Media juga terlibat, gambar soal kekerasan begitu jelas. Misalnya di TV, gambar dengan kepala luka itu boleh, hanya sebaiknya diburamkan. Kalau di Jepang, seperti itu enggak boleh," tandasnya.
(lil)