Relokasi pengikut Syiah tak selesaikan masalah
Kamis, 30 Agustus 2012 - 09:21 WIB
Relokasi pengikut Syiah tak selesaikan masalah
A
A
A
Sindonews.com - Tokoh Syiah Jalaluddin Rakhmat alias Kang Jalal tidak setuju dengan wacana merelokasi pengikut Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, paska insiden kekerasan yang telah menewaskan dua orang pengikutnya.
"Saya tidak (tidak setuju), karena kalau terjadi relokasi ada sebuah preseden. Setiap ada orang Syiah diganggu akan disuruh pindah, itu kan hak mereka untuk tinggal di situ," ujar Jalal saat diskusi "Napak tilas perjalanan Syiah Kang Jalal" di Rumahnya, Jalan Kemang Rasa, Jakarta Selatan, Rabu (29/8/2012) malam.
Pemetintah, sambung Jalal, harus mencari solusi lain untuk menyelesaikan konflik pengikut Syiah dengan Sunni selain merelokasi. "Kita menganjurkan orang Syiah tidak direlokasi," tegasnya.
Lebih lanjut, Jalal mencontohkan, kalau satu saat ada perusahaan besar yang ingin menggali minyak dan kebetulah orang yang tinggal di daerah tersebut di huni orang Syiah, dengan mudah daerah tersebut dikuasai, yakni dengan menimbulkan konflik agama dan Syiah akan direlokasi. "Kan bisa repot dan pemerintah tidak usah ganti rugi," kata dia.
Insiden berdarah Sampang, terang Jalal, menyisakan duka terhadap pengikut Syiah. Untuk itu, Jalal meminta, aparat kepolisian menindak tegas pelaku kekerasan.
"Pemerintah harus bertindak tegas, pelaku kekerasan harus dihukum, siapapun, kalau tidak begitu mereka tidak akan jera," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kekerasan terhadap pengikut Syiah di Kabupaten Sampang, kembali terjadi. Puluhan rumah milik pengikut Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karang Penang, hangus dibakar. Bahkan, dua orang pengikut Syiah tewas dibunuh.
"Saya tidak (tidak setuju), karena kalau terjadi relokasi ada sebuah preseden. Setiap ada orang Syiah diganggu akan disuruh pindah, itu kan hak mereka untuk tinggal di situ," ujar Jalal saat diskusi "Napak tilas perjalanan Syiah Kang Jalal" di Rumahnya, Jalan Kemang Rasa, Jakarta Selatan, Rabu (29/8/2012) malam.
Pemetintah, sambung Jalal, harus mencari solusi lain untuk menyelesaikan konflik pengikut Syiah dengan Sunni selain merelokasi. "Kita menganjurkan orang Syiah tidak direlokasi," tegasnya.
Lebih lanjut, Jalal mencontohkan, kalau satu saat ada perusahaan besar yang ingin menggali minyak dan kebetulah orang yang tinggal di daerah tersebut di huni orang Syiah, dengan mudah daerah tersebut dikuasai, yakni dengan menimbulkan konflik agama dan Syiah akan direlokasi. "Kan bisa repot dan pemerintah tidak usah ganti rugi," kata dia.
Insiden berdarah Sampang, terang Jalal, menyisakan duka terhadap pengikut Syiah. Untuk itu, Jalal meminta, aparat kepolisian menindak tegas pelaku kekerasan.
"Pemerintah harus bertindak tegas, pelaku kekerasan harus dihukum, siapapun, kalau tidak begitu mereka tidak akan jera," pungkasnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, kekerasan terhadap pengikut Syiah di Kabupaten Sampang, kembali terjadi. Puluhan rumah milik pengikut Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karang Penang, hangus dibakar. Bahkan, dua orang pengikut Syiah tewas dibunuh.
(san)