Solusi kasus Sampang, Pemerintah godok relokasi
Rabu, 29 Agustus 2012 - 07:56 WIB
Solusi kasus Sampang, Pemerintah godok relokasi
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah berupaya mencari solusi permanen terhadap kasus konflik berbau SARA di Desa Karanggayam, Kecamatan Omben, Sampang, Jawa Timur. Salah satu yang ditawarkan adalah relokasi bagi pengungsi korban konflik.
Menteri Agama Suryadharma Ali mengungkapkan, usulan relokasi disampaikan Ibu Umah,ibu kandung kedua pemimpin pihak yang bertikai,yakni Tajul Muluk dan Rois, saat Menteri Agama beserta rombongan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo serta sejumlah menteri dan pimpinan lembaga terkait berkunjung ke Sampang.
Gubernur Jawa Timur Soekarwo pun sudah mendalami kemungkinan tersebut. “Ketika saya bertemu ibunda Tajul Muluk dan Rois, Ibu Umah, beliau mengatakan ingin pindah ke tempat lain. Saya tanya apakah ibu sendiri atau bersama yang lain? Bersama yang lain.Apakah yang lain setuju? Insya Allah setuju, tergantung pada saya, kata si ibu ini,” ujar Suryadharma di Jakarta, Selasa (28/8/2012).
Pemerintah sendiri menganggap konflik yang mengakibatkan satu warga meninggal dan 37 rumah warga ludes terbakar sebagai konflik keluarga, antara Tajul Muluk (Syiah) dan adiknya,Rois,yang meluas karena masing-masing pihak memiliki pengikut.Kesimpulan ini diambil pada pertemuan Kapolri serta jajaran kementerian dan lembaga terkait dengan Gubernur Jawa Timur dan jajaran Muspida Jawa Timur di Gedung Grahadi, Surabaya, Senin (27/8) malam, seusai kunjungan ke Sampang.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga menilai kerusuhan Sampang merupakan kasuskriminalmurniyangberlatar belakang pertikaian keluarga, bukan pertikaian antara Syiah dan NU.“Ini kasus kriminal murni,bukan pertikaian NU dan Syiah,” ujar Ketua Umum PBNU Said Aqil, seusai bersilaturahmi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Kantor Presiden,Jakarta,kemarin.
Dari Sampang, proses evakuasi warga Syiah di Desa Karanggayam terus berlangsung. Kepala Bagian Operasional Polres Sampang Kompol Alfian Nurizal mengungkapkan, petugas masih menemukan belasan warga yang masih bersembunyi di dalam rumah mereka. Selanjutnya, mereka dibawa ke lokasi pengungsian di GOR Jalan Wijaya Kusuma,Sampang. “Para pengikut aliran Islam Syiah yang tidak berani keluar rumah ditemukan bersembunyi. Mereka umumnya ibu-ibu yang sudah lanjut usia dan sebagian anak-anak,”jelas Alfian.
Hingga kemarin,jumlah pengungsi dari kelompok Syiah di lokasi pengungsian di GOR Sampang tercatat 235 orang. Sehari sebelumnya, pengungsi yang terdata sebanyak 202 orang. Mereka itu terdiri atas 61 laki-laki, 64 perempuan, 86 anak-anak,dan 24 anak balita. Terkait kasus tersebut,Polri telah menetapkan seorang tersangka dan melakukan penahanan terhadapnya.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar menuturkan, tersangka berinisialRdidugakuatsebagai pelaku penganiayaan dan penggerak massa. Selain itu, polisi juga sudah memeriksa delapan saksi.“Kemudian proses yang lain masih dikembangkan, untuk mencari pelaku lain yang terlibat,”papar Boy.
Selain memeriksa saksi,Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim terus mengumpulkan sejumlah alat bukti dalam kasus penyerangan.Kemarin 10 anggota Labfor Polda Jatim melakukan penelitian di tempat kejadian perkara di Desa Karanggayam. “Fokus penelitian kami di rumah Muhammad Husin alias Pak Hamamah,korban tewas dalam peristiwa itu,”kata KetuaTim AKP Sugiharto.
Di rumah yang telah ludes terbakar itu,petugas menemukan sejumlah senjata, antara lain tiga buah batu berukuran besar yang berlumuran darah yang sudah mengering, serta sejumlah senjata tajam jenis parang,pisau,dan celurit.
Menteri Agama Suryadharma Ali mengungkapkan, usulan relokasi disampaikan Ibu Umah,ibu kandung kedua pemimpin pihak yang bertikai,yakni Tajul Muluk dan Rois, saat Menteri Agama beserta rombongan Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo serta sejumlah menteri dan pimpinan lembaga terkait berkunjung ke Sampang.
Gubernur Jawa Timur Soekarwo pun sudah mendalami kemungkinan tersebut. “Ketika saya bertemu ibunda Tajul Muluk dan Rois, Ibu Umah, beliau mengatakan ingin pindah ke tempat lain. Saya tanya apakah ibu sendiri atau bersama yang lain? Bersama yang lain.Apakah yang lain setuju? Insya Allah setuju, tergantung pada saya, kata si ibu ini,” ujar Suryadharma di Jakarta, Selasa (28/8/2012).
Pemerintah sendiri menganggap konflik yang mengakibatkan satu warga meninggal dan 37 rumah warga ludes terbakar sebagai konflik keluarga, antara Tajul Muluk (Syiah) dan adiknya,Rois,yang meluas karena masing-masing pihak memiliki pengikut.Kesimpulan ini diambil pada pertemuan Kapolri serta jajaran kementerian dan lembaga terkait dengan Gubernur Jawa Timur dan jajaran Muspida Jawa Timur di Gedung Grahadi, Surabaya, Senin (27/8) malam, seusai kunjungan ke Sampang.
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga menilai kerusuhan Sampang merupakan kasuskriminalmurniyangberlatar belakang pertikaian keluarga, bukan pertikaian antara Syiah dan NU.“Ini kasus kriminal murni,bukan pertikaian NU dan Syiah,” ujar Ketua Umum PBNU Said Aqil, seusai bersilaturahmi dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, di Kantor Presiden,Jakarta,kemarin.
Dari Sampang, proses evakuasi warga Syiah di Desa Karanggayam terus berlangsung. Kepala Bagian Operasional Polres Sampang Kompol Alfian Nurizal mengungkapkan, petugas masih menemukan belasan warga yang masih bersembunyi di dalam rumah mereka. Selanjutnya, mereka dibawa ke lokasi pengungsian di GOR Jalan Wijaya Kusuma,Sampang. “Para pengikut aliran Islam Syiah yang tidak berani keluar rumah ditemukan bersembunyi. Mereka umumnya ibu-ibu yang sudah lanjut usia dan sebagian anak-anak,”jelas Alfian.
Hingga kemarin,jumlah pengungsi dari kelompok Syiah di lokasi pengungsian di GOR Sampang tercatat 235 orang. Sehari sebelumnya, pengungsi yang terdata sebanyak 202 orang. Mereka itu terdiri atas 61 laki-laki, 64 perempuan, 86 anak-anak,dan 24 anak balita. Terkait kasus tersebut,Polri telah menetapkan seorang tersangka dan melakukan penahanan terhadapnya.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar menuturkan, tersangka berinisialRdidugakuatsebagai pelaku penganiayaan dan penggerak massa. Selain itu, polisi juga sudah memeriksa delapan saksi.“Kemudian proses yang lain masih dikembangkan, untuk mencari pelaku lain yang terlibat,”papar Boy.
Selain memeriksa saksi,Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Jatim terus mengumpulkan sejumlah alat bukti dalam kasus penyerangan.Kemarin 10 anggota Labfor Polda Jatim melakukan penelitian di tempat kejadian perkara di Desa Karanggayam. “Fokus penelitian kami di rumah Muhammad Husin alias Pak Hamamah,korban tewas dalam peristiwa itu,”kata KetuaTim AKP Sugiharto.
Di rumah yang telah ludes terbakar itu,petugas menemukan sejumlah senjata, antara lain tiga buah batu berukuran besar yang berlumuran darah yang sudah mengering, serta sejumlah senjata tajam jenis parang,pisau,dan celurit.
(ysw)