Akademi vokasi dibangun di daerah khusus
Minggu, 26 Agustus 2012 - 09:02 WIB
Akademi vokasi dibangun di daerah khusus
A
A
A
Sindonews.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 2013 akan membangun akademi vokasi di tiga daerah khusus di 33 provinsi. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh mengatakan, tiga daerah khusus tersebut adalah daerah atau kantung penyuplai tenaga kerja Indonesia (TKI) seperti di Indramayu dan Tasikmalaya.
Sedangkan yang kedua adalah daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah, namun belum tertangani dengan baik. Yang terakhir adalah daerah yang masuk master plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Jika dibangun perusahaan atau pabrik di daerah itu, akan menyerap lebih banyak masyarakat setempat sebagai tenaga kerja. Mendikbud mengatakan, Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud pada September-Oktober 2012 akan menyelesaikan blueprint skenario akademi vokasi tersebut mulai dari daerah dan bidang studinya.
Dia menyebut akademi vokasi akan memperbesar akses masyarakat ke perguruan tinggi meskipun jenjang di akademi vokasi hanya setingkat Diploma 1 dan 2. "Konsekuensi logis dari akademi vokasi adalah menaikkan APK (angka partisipasi kasar) pendidikan tinggi,” tandas Nuh di Jakarta, Sabtu 25 Agustus 2012.
Mantan menkominfo ini mengatakan, Kemendikbud mulai sekarang akan menyiapkan tenaga pengajar yang diakuinya tidak mudah didapat. Namun, penjaringan tenaga pengajar ini akan istimewa karena lulusannya tidak harus orang yang sudah lulus magister (S-2) saja, namun orang yang memiliki keahlian khusus.
Contohnya, orang yang memiliki pengalaman kerja di pabrik-pabrik. Akademi vokasi ini akan melatih keterampilan masyarakat. Dirjen Dikti Kemendikbud Djoko Santoso menambahkan, dengan usulan di UU Pendidikan Tinggi yang diinisiatifkan oleh DPR, pemerintah akan memperluas pendidikan vokasi yang dapat mendidik orang untuk langsung terjun bekerja.
Akademi ini memang akan betul-betul berbasis pada keperluan masyarakat. Misalnya, mereka perlu kegiatan terkait dengan entertainment, maka bisa diformalkan untuk pendidikan jenjang D-1, dan D-2. Di sisi lain dikembangkan di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi misalnya di daerah pertambangan, di mana mahasiswanya adalah anak-anak dari kawasan pertambangan.
Sedangkan yang kedua adalah daerah yang memiliki sumber daya alam melimpah, namun belum tertangani dengan baik. Yang terakhir adalah daerah yang masuk master plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Jika dibangun perusahaan atau pabrik di daerah itu, akan menyerap lebih banyak masyarakat setempat sebagai tenaga kerja. Mendikbud mengatakan, Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud pada September-Oktober 2012 akan menyelesaikan blueprint skenario akademi vokasi tersebut mulai dari daerah dan bidang studinya.
Dia menyebut akademi vokasi akan memperbesar akses masyarakat ke perguruan tinggi meskipun jenjang di akademi vokasi hanya setingkat Diploma 1 dan 2. "Konsekuensi logis dari akademi vokasi adalah menaikkan APK (angka partisipasi kasar) pendidikan tinggi,” tandas Nuh di Jakarta, Sabtu 25 Agustus 2012.
Mantan menkominfo ini mengatakan, Kemendikbud mulai sekarang akan menyiapkan tenaga pengajar yang diakuinya tidak mudah didapat. Namun, penjaringan tenaga pengajar ini akan istimewa karena lulusannya tidak harus orang yang sudah lulus magister (S-2) saja, namun orang yang memiliki keahlian khusus.
Contohnya, orang yang memiliki pengalaman kerja di pabrik-pabrik. Akademi vokasi ini akan melatih keterampilan masyarakat. Dirjen Dikti Kemendikbud Djoko Santoso menambahkan, dengan usulan di UU Pendidikan Tinggi yang diinisiatifkan oleh DPR, pemerintah akan memperluas pendidikan vokasi yang dapat mendidik orang untuk langsung terjun bekerja.
Akademi ini memang akan betul-betul berbasis pada keperluan masyarakat. Misalnya, mereka perlu kegiatan terkait dengan entertainment, maka bisa diformalkan untuk pendidikan jenjang D-1, dan D-2. Di sisi lain dikembangkan di pusat-pusat pertumbuhan ekonomi misalnya di daerah pertambangan, di mana mahasiswanya adalah anak-anak dari kawasan pertambangan.
(lil)