JK masih kader Golkar
Senin, 30 Juli 2012 - 19:03 WIB
JK masih kader Golkar
A
A
A
Sindonews.com - Mantan Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) menepis isu dirinya bakal keluar dari partai berlambang beringin itu. JK menegaskan dirinya tetap berada di partai yang membesarkan namanya itu.
Bahkan, untuk meyakinkan para awak media, JK menunjukkan kartu anggotanya. "Mau lihat kartu anggota," tegas JK, di DPP partai Golkar, Slipi, Jakarta, Senin (30/7/2012).
JK tidak mau mengikuti fenomena pindah partai yang berkembang di kalangan politikus belakangan ini. Namun dijelaskannya, fenomena yang menyelimuti kader partai yang lompat ke partai lain bukan menyangkut ideologi partai ataupun loyalitasnya.
"Begini, semenjak dasar tunggal, loyalitas tunggal partai-partai itu semua dasar Pancasila, ideologi partai-partai itu hampir tidak ada beda lagi. Jadi tidak ada lagi (perbedaan) yang jelas tentang partai nasional, partai Islam. Jadinya orang pindah partai itu tidak merasa ada perbedaan banyak," paparnya.
Partai pada era 1960an, lanjutnya, itu sudah jelas memiliki dasar ideologi yang berbeda, sehingga tidak mungkin berpindah. "Begitu reformasi, partai-partai itu ideologinya hampir sama semua," kata JK.
JK memberi contoh Partai Amanat Nasional (PAN) dan Golkar yang sudah tidak memiliki perbedaan. PAN sudah terbuka dan tidak bisa lagi menyatakan dirinya partai Islam, selain itu Golkar juga makin religius.
Jadi perpindahan partai yang saat ini dilakukan oleh para politikus tidak bisa disebut degradasi. "Jadi pindah antar partai itu tidak menjadi perbedaan yang banyak," ujarnya.
Bahkan, untuk meyakinkan para awak media, JK menunjukkan kartu anggotanya. "Mau lihat kartu anggota," tegas JK, di DPP partai Golkar, Slipi, Jakarta, Senin (30/7/2012).
JK tidak mau mengikuti fenomena pindah partai yang berkembang di kalangan politikus belakangan ini. Namun dijelaskannya, fenomena yang menyelimuti kader partai yang lompat ke partai lain bukan menyangkut ideologi partai ataupun loyalitasnya.
"Begini, semenjak dasar tunggal, loyalitas tunggal partai-partai itu semua dasar Pancasila, ideologi partai-partai itu hampir tidak ada beda lagi. Jadi tidak ada lagi (perbedaan) yang jelas tentang partai nasional, partai Islam. Jadinya orang pindah partai itu tidak merasa ada perbedaan banyak," paparnya.
Partai pada era 1960an, lanjutnya, itu sudah jelas memiliki dasar ideologi yang berbeda, sehingga tidak mungkin berpindah. "Begitu reformasi, partai-partai itu ideologinya hampir sama semua," kata JK.
JK memberi contoh Partai Amanat Nasional (PAN) dan Golkar yang sudah tidak memiliki perbedaan. PAN sudah terbuka dan tidak bisa lagi menyatakan dirinya partai Islam, selain itu Golkar juga makin religius.
Jadi perpindahan partai yang saat ini dilakukan oleh para politikus tidak bisa disebut degradasi. "Jadi pindah antar partai itu tidak menjadi perbedaan yang banyak," ujarnya.
(mhd)